Begini Tips Efektif Membeli Rumah Pertama untuk Gen Z
CEO & Founder DNA Finance, Aliyah Natasya mengakui membeli rumah bukanlah hal yang mudah. Dia baru berhasil memiliki rumah setelah melewati usia 30 tahun.
Membeli rumah dan hunian yang nyaman menjadi impian banyak orang. Namun, untuk generasi muda, terutama Gen Z, tantangan finansial sering kali membuatnya terasa sulit dijangkau.
CEO & Founder DNA Finance, Aliyah Natasya mengakui membeli rumah bukanlah hal yang mudah. Dia sendiri baru berhasil memiliki rumah setelah melewati usia 30 tahun.
Selama usia 20-an, dia mengalami banyak trial and error dalam perjalanan keuangan. Bahkan, di awal kariernya, dia pernah merasakan mendapatkan gaji harian dengan jumlah yang sangat terbatas. Karena itu, dia menekankan pentingnya memiliki perencanaan karier.
"Oke, jadi kita tahu kalau beli rumah itu sulit. Jujur, aku itu baru bisa beli rumah ketika usia aku lewat kepala tiga. Jadi selama usia dua puluhan itu ada trial-errornya. Bahkan tadi aku juga sempat mention kalau aku sempat ngerasain gaji harian. Jadi di awal kerja aku itu gajiku honorer," kata Aliyah dalam acara Hustle Smart, Save Smarter Bank Raya, Jakarta, Kamis (27/2).
Aliyah menerangkan banyak orang berpikir bahwa pekerjaan pertama mereka adalah satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Padahal kenyataannya, hidup terlalu singkat untuk hanya bergantung pada satu karier. Membangun berbagai sumber pendapatan adalah langkah penting agar keuangan bisa bertumbuh dari waktu ke waktu.
"Nah, makanya tadi aku juga mention nih buat teman-teman betapa pentingnya punya karir plan. Karena nggak selamanya karir kita itu cuma satu. Your life is too short for one career. Terus gimana dong Kak caranya punya rumah? Yang satu, kamu harus punya mindset gimana caranya tiap tahun income bertambah. Dan FYI dulu ketika aku di rumah aku masih karyawan jatohnya," terang dia.
Lalu, Bagaimana Cara agar Bisa Membeli Rumah?
Ada beberapa prinsip utama yang dibagikan Aliyah dan perlu diterapkan oleh generasi Z, pertama adalah fokus meningkatkan penghasilan. Menurut Aliyah, mindset utama yang harus dimiliki adalah bagaimana setiap tahun bisa meningkatkan penghasilan. Tanpa pertumbuhan income, sulit untuk bisa menabung dan berinvestasi untuk masa depan.
Kedua, menggabungkan keuangan dengan pasangan. Aliyah berbagi pengalaman bahwa dia baru bisa membeli rumah setelah menikah. Dia dan suaminya menggabungkan pendapatan mereka, baik dari tabungan maupun gaji bulanan. Dengan strategi ini, mereka lebih cepat mencapai target finansial yang mereka tetapkan.
"Yang kedua, aku baru bisa beli rumah ketika menikah. Jadi kita memang menggabungkan income kita bersama. Baik secara tabungan ataupun gaji bulanan," terang dia.
Prinsip ketiga adalab belajar dan berani berinvestasi. Salah satu faktor penting yang membantu Aliyah dan suaminya membeli rumah adalah investasi. Dia mulai berinvestasi di reksa dana sejak tahun 2012, berani mencoba reksa dana campuran dan saham. Saat itu, dia bisa mendapatkan return investasi sekitar 20-30 persen per tahun.
"Pada saat itu aku mulai memberanikan diri untuk reksa dana campuran dan saham. Di mana setahun itu returnnya bisa 20 persen sampai 30 persen," tuturnya.
Pentingnya Investasi
Namun, dia juga mengingatkan pentingnya investasi yang sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan. Dia memulai dengan nominal kecil untuk mengurangi risiko kerugian besar. Seiring bertambahnya pengalaman dan pengetahuan investasi, mereka semakin percaya diri dalam mengelola keuangan.
"Cuma memang karena tadi aku bilang, kamu harus investasi di hal yang kamu tahu, produk yang kamu tahu, dan selalu belajar dengan nominal kecil. Jadi ketika aku dan suamiku mengalami kerugian, kerugiannya kecil," tambah Aliyah.
Kebanyakan orang berpikir bahwa memiliki pekerjaan dengan gaji tetap sudah cukup, padahal menurut Aliyah, kita harus melihat lebih jauh ke depan.
"Jangan terpaku pada gaji yang kita punya, tapi pikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan aset dan pendapatan," ujarnya.
Proses Pembelian Rumah, KPR dan Alternatifnya
Aliyah juga mengungkapkan bahwa mereka membeli rumah dengan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Faktanya, sekitar 75 persen pembelian rumah di Indonesia dilakukan melalui KPR.
Meskipun inflasi sering menjadi kekhawatiran, indeks harga properti residensial di Indonesia dalam lima tahun terakhir hanya naik sekitar 3 persen per tahun, dan kenaikannya tidak merata di semua daerah.
Untuk rumah pertama mereka, Aliyah dan suaminya memilih rumah second atau rumah bekas, yang sering kali lebih terjangkau dibandingkan rumah baru. Menurutnya, ada banyak hal yang bisa dieksplorasi dalam proses membeli rumah, dan KPR bukanlah satu-satunya solusi.
"Terkait inflasi, aku tahu inflasi di luar sana itu sangat tinggi. Tapi indeks harga property residential di Indonesia itu selama 5 tahun terakhir itu maksimum ada di sekitar 3 persen. Jadi kenaikan harga property di Indonesia itu tidak merata. Ada yang 2 persen, ada yang tidak naik," paparnya,