Bapanas Dorong Pangan B2SA Lokal untuk Tekan Stunting, Manfaatkan Sumber Daya Daerah
Badan Pangan Nasional (Bapanas) gencar mendorong pemenuhan Pangan B2SA Lokal dengan memanfaatkan sumber daya daerah guna memperkuat ketahanan pangan dan menekan angka stunting di Indonesia.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) secara aktif mendorong pemenuhan pangan yang Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman (B2SA) di seluruh Indonesia. Inisiatif ini berfokus pada pemanfaatan sumber daya pangan lokal yang melimpah sebagai pilar utama. Tujuannya adalah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung upaya penurunan angka stunting di kalangan masyarakat.
Melalui pendekatan B2SA, Bapanas berupaya memastikan setiap individu memiliki akses yang memadai terhadap pangan bergizi seimbang. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk mengoptimalkan potensi pangan lokal yang tersebar di berbagai wilayah. Langkah strategis ini diharapkan dapat menciptakan kemandirian pangan yang lebih kuat di tingkat rumah tangga dan daerah.
Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy, menegaskan komitmen lembaganya dalam isu penurunan stunting. “Kami mendukung dan berkomitmen dalam penurunan stunting, Bapanas mendorong melalui program B2SA. Anak-anak harus tumbuh sehat dan ibu hamil juga harus kuat perlu mengonsumsi makanan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman,” ujar Sarwo di Jakarta, Minggu (16/11).
Pentingnya Pangan B2SA Berbasis Lokal
Konsep Pangan B2SA Lokal menekankan pentingnya mengonsumsi makanan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga aman dan berasal dari sumber daya setempat. Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat beragam, yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengganti nasi.
Berbagai komoditas seperti singkong, ubi jalar, jagung, sagu, dan talas merupakan contoh sumber karbohidrat lokal yang potensial. Pemanfaatan sumber daya ini tidak hanya mendukung diversifikasi pangan, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada satu jenis bahan pokok.
Pendekatan ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa ibu hamil dan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup dan seimbang. Dengan begitu, pertumbuhan dan perkembangan anak dapat optimal, serta risiko stunting dapat diminimalisir secara signifikan.
Program Bapanas dalam Mendorong Pangan Lokal
Bapanas tidak hanya memperkenalkan konsep B2SA, tetapi juga melaksanakannya melalui berbagai program konkret di lapangan. Salah satunya adalah kegiatan “B2SA Goes to School” yang bertujuan untuk mengedukasi siswa sejak dini mengenai pentingnya pola makan sehat dan bergizi.
Selain di lingkungan sekolah, Bapanas juga mengembangkan inisiatif di tingkat masyarakat melalui “Rumah Pangan B2SA” dan “Desa B2SA”. Program-program ini dirancang untuk memberdayakan keluarga agar mampu menanam dan mengolah bahan pangan lokal bergizi secara mandiri.
Sarwo Edhy menambahkan, “Agar setiap keluarga dapat menanam dan mengolah bahan pangan lokal bergizi tanpa harus mahal.” Hal ini menunjukkan komitmen Bapanas untuk memastikan akses pangan bergizi dapat terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.
Sinergi dan Dampak Penurunan Stunting
Upaya penurunan stunting melalui sektor pangan ini juga sejalan dengan program di sektor pertanian, khususnya yang mendorong penanaman di pekarangan rumah. Sinergi antara kedua sektor ini menciptakan ekosistem yang mendukung kemandirian pangan dan gizi keluarga.
Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, sebelumnya menegaskan bahwa kemandirian pangan harus dibangun dari semua aspek, termasuk di tingkat rumah tangga. Program pekarangan bergizi, menurutnya, dapat menyuplai kebutuhan gizi esensial seperti karbohidrat, protein, dan vitamin dari tanaman yang dibudidayakan sendiri.
“Jika pekarangan dikelola dengan baik, saya yakin setiap keluarga mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri dan bergizi,” ujar Amran. Data menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia telah mengalami penurunan signifikan dari 21,5 persen pada tahun 2023 menjadi 19,8 persen pada tahun 2024, menandakan keberhasilan upaya kolaboratif ini.
Sumber: AntaraNews