Aftech Luncurkan Buku Putih, Kolaborasi Bank Pindar Perluas Akses Kredit UMKM
Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) meluncurkan buku putih yang menyoroti potensi besar kolaborasi bank pindar dalam memperluas akses kredit, khususnya bagi UMKM, demi inklusi keuangan yang lebih luas.
Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) bersama Mandala Consulting baru saja meluncurkan sebuah buku putih penting di Jakarta. Publikasi ini menyoroti potensi besar kolaborasi antara perbankan dan platform pinjaman daring (pindar). Tujuannya adalah untuk memperluas akses pembiayaan yang inklusif bagi masyarakat luas, terutama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Peluncuran buku putih ini berlangsung pada hari Sabtu, 14 Februari, menandai langkah strategis dalam upaya meningkatkan inklusi keuangan nasional. Inisiatif ini bertujuan mengatasi stagnasi akses kredit yang selama ini menghambat segmen masyarakat yang belum memanfaatkan layanan keuangan secara maksimal (underbanked). Keterbatasan sistem pembiayaan formal menjadi perhatian utama dalam upaya ini.
Menurut Sekretaris Jenderal Aftech, Firlie Ganinduto, kolaborasi lintas kanal pembiayaan sangat diperlukan guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Buku putih ini menjadi panduan untuk mewujudkan visi tersebut, dengan fokus pada sinergi yang bertanggung jawab antara perbankan dan platform pinjaman daring.
Pentingnya Sinergi untuk Inklusi Keuangan
Firlie Ganinduto menegaskan bahwa perluasan akses kredit tidak dapat bergantung pada satu kanal pembiayaan saja. Kolaborasi yang bertanggung jawab antara perbankan dan pindar menjadi kunci utama untuk menjangkau segmen masyarakat yang belum terlayani secara optimal, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang kuat.
Buku putih berjudul Mendorong Perluasan Akses Kredit melalui Kolaborasi Bertanggung Jawab antara Bank dan Pindar ini secara komprehensif membahas kesenjangan akses kredit formal. Selain itu, publikasi ini juga mengeksplorasi peluang sinergi antara bank dan fintech peer-to-peer (P2P) lending untuk mendorong inklusi keuangan dan pembiayaan produktif, khususnya bagi UMKM.
Penyusunan buku putih ini dilatarbelakangi oleh tren meningkatnya kemitraan antara perbankan dan pindar dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan dan pengakuan terhadap peran pindar dalam ekosistem keuangan.
Peningkatan Kepercayaan dan Peran Otoritas Jasa Keuangan
Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan peran bank sebagai sumber pendanaan utama bagi pindar terus meningkat secara signifikan. Pada tahun 2021, angka ini hanya Rp4,5 triliun, namun melonjak drastis menjadi Rp46,1 triliun pada tahun 2024. Peningkatan ini mencerminkan tumbuhnya kepercayaan perbankan terhadap model bisnis pindar.
Firlie Ganinduto menambahkan, perkembangan ini menegaskan urgensi kerangka kolaborasi yang lebih terstruktur, bertanggung jawab, dan berorientasi jangka panjang. Deputi Komisioner Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PMVL) OJK, Jasmi, juga menyambut baik inisiatif ini.
Jasmi menyampaikan bahwa kolaborasi perbankan dan industri pindar memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara inklusif dan bertanggung jawab. Hal ini harus tetap mengedepankan penguatan tata kelola, manajemen risiko, kemanfaatan, dan perlindungan konsumen. Sinergi lintas lembaga keuangan ini diharapkan dapat memperluas akses alternatif pembiayaan kepada masyarakat, khususnya UMKM.
Tantangan Inklusi dan Standar Tata Kelola
CEO Mandala Consulting, Manggala Putra Santosa, menjelaskan bahwa peningkatan rasio kredit sangat menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara melalui penguatan konsumsi, investasi, dan produktivitas. Namun, akses kredit di Indonesia masih terbatas. Data World Bank menunjukkan sekitar 48 persen penduduk dewasa Indonesia masih underbanked. Sementara itu, data SNLIK OJK mencatat inklusi keuangan perbankan baru mencapai sekitar 70 persen pada tahun 2025. Artinya, masih ada sekitar 30 persen orang dewasa di Indonesia yang belum memiliki akses ke layanan keuangan formal.
Kepala Departemen P2P Lending Aftech sekaligus Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo, menekankan bahwa kolaborasi bank dan pindar perlu diimbangi dengan penguatan tata kelola dan kepatuhan agar sejalan dengan standar perbankan. Jika dikelola secara hati-hati, sinergi ini dapat menjadi jembatan pembiayaan bagi masyarakat yang belum memiliki rekam jejak kredit formal dan mendorong inklusi keuangan yang lebih luas.
Nucky Poedjiardjo percaya bahwa platform pindar yang kredibel sudah memiliki kesiapan untuk mengimbangi standar perbankan. Ia menambahkan bahwa saat ini sudah banyak contoh platform pindar dengan tata kelola yang baik yang dapat menjadi acuan bagi industri.
Sumber: AntaraNews