Orang Dekat Raja Arab Saudi Murka Minta Israel Dipindahkan ke Alaska, Mesir Ikut Naik Darah
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengejek agar negara Palestina didirikan di salah satu bagian wilayah dari Arab Saudi.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengejek agar negara Palestina didirikan di salah satu bagian wilayah dari Arab Saudi. Alih-alih diterima, usulan mengejek dari Netanyahu justru mendapat kritikan tajam dari berbagai pihak.
Salah satunya yakni berasal dari salah satu orang terdekat raja Arab Saudi. Dia secara tegas menyebut jika usulan Netanyahu jauh dari upaya perdamaian di Timur Tengah.
Sebaliknya, dia meminta agar Israel yang justru pindah ke negara bagian Alaska. Pernyataan Netanyahu itu juga membuat Mesir berang. Berikut ulasan selengkapnya.
Anggota Dewan Saudi Murka Dengar Usulan Netanyahu
Anggota Dewan Syura Saudi senior, Yousef bin Trad Al-Saadoun memberi kritikan tajam atas usulan bernada mengejek dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Alih-alih menyetujui pendirian negara Palestina di Arab Saudi, dia justru memberi usulan agar Amerika Serikat khususnya Presiden Donald Trump membuka tempat bagi warga Israel untuk berpindah.
Secara terang-terangan, Saadoun bahkan menyebut negara bagian Alaska untuk warga Israel.
Dalam surat kabar Okaz yang dirilis pada Jumat lalu, Saadoun secara khusus menulis jika kebijakan Timur Tengah oleh Amerika Serikat justru merupakan hasil dari pengabaian saran ahli dan dialog perdamaian.
"Kebijakan luar negeri resmi Amerika Serikat akan mengupayakan pendudukan ilegal atas tanah kedaulatan dan pembersihan etnis penduduknya, yang merupakan pendekatan Israel dan dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Siapa pun yang mengikuti jejak kemunculan dan kelanjutan Israel jelas menyadari bahwa rencana ini tentu saja dirumuskan dan disetujui oleh entitas Zionis, dan diserahkan kepada sekutu mereka untuk dibacakan dari podium Gedung Putih," tulisnya, demikian dikutip dari laman middleeasteye.net, Senin (10/2/2025).
Sekadar informasi, Dewan Syura Saudi tak lain merupakan majelis konsultatif yang bertugas secara khusus untuk memberi saran dan nasihat kepada raja mengenai masalah kebijakan hingga legislatif. Meski demikian, para anggotanya tidak memiliki kewenangan khusus di bidang legislatif.
Selain orang terdekat raja, Kementerian Luar Negeri Palestina diketahui turut mengecam usulan Netanyahu. Bahkan, rekomendasi itu dinilai rasis dan antiperdamaian.
Mesir Ikut Naik Darah
Selain Al-Saadoun dan Kementerian Luar Negeri Palestina, Mesir turut angkat bicara soal usulan Netanyahu mengenai pemindahan Palestina ke Arab Saudi.
Dalam sebuah kesempatan, Kementerian Luar Negeri Kairo bahkan memberikan kutukan keras. Netanyahu disebut tidak bertanggung jawab dan membuat usaha penghasutan untuk melawan kerajaan hingga pelanggaran luar biasa terhadap hukum internasional serta norma diplomatik.
"Mesir mengutuk pernyataan Israel yang tidak bertanggung jawab yang menghasut melawan kerajaan dan menyerukan pembentukan negara Palestina di tanah Saudi. Pernyataan Israel merupakan pelanggaran terhadap hak-hak yang sah dan tidak dapat dicabut dari rakyat Palestina untuk mendirikan negara merdeka mereka," ungkap Kementerian Luar Negeri Kairo, demikian dikutip dari laman middleeasteye.net.
Lebih lanjut, baginya keamanan kerajaan dan penghormatan terhadap kedaulatan di dalamnya merupakan suatu hal yang tak diperbolehkan untuk dilanggar.
Hussein al-Sheikh, sekretaris jenderal Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), juga ikut memberi reaksi kerasnya terhadap pernyataan Netanyahu dengan menyebutnya sebagai pelanggaran mengenai konvensi internasional.
"Kami tegaskan bahwa Negara Palestina hanya akan berdiri di atas tanah Palestina. Kami mengapresiasi sikap Kerajaan Saudi Arabia, para pemimpinnya, dan rakyatnya yang senantiasa menyerukan penegakan legitimasi dan hukum internasional," kata Sheikh, demikian dikutip dari laman middleeasteye.net.
Usulan Netanyahu
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam wawancaranya bersama Channel 14 Israel diketahui secara lantang mengusulkan agar Palestina dapat mendirikan negara sendiri di Arab Saudi. Dia menyebut, alasannya hanya karena Arab Saudi memiliki banyak tanah bagi rakyat Palestina.
"Saudi dapat mendirikan negara Palestina di Arab Saudi; mereka punya banyak tanah di sana," kata Netanyahu, demikian dikutip dari laman middleeasteye.net.
Hal itu diserukan Netanyahu tepat setelah Arab Saudi menegaskan bahwa mereka bakal menormalisasi hubungan dengan Israel jika negara Palestina berdiri. Pernyataan Arab ini diketahui berulang kali diserukan agar dapat membentuk perdamaian antara kedua belah pihak.