Kisah Sumarti Warga Banjarnegara Lari ke Kuburan saat Bencana Longsor Demi Menyelamatkan Nyawa
Awalnya, dia dan beberapa warga lain berlari ke arah makam dusun setempat. Namun karena situasi semakin memburuk, warga kemudian lari ke arah hutan.
Langkah kaki Sumarti lari kencang untuk mencari tempat menyelamatkan diri ke area pemakaman agar selamat dari bencana tanah longsor yang terjadi di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Bahkan rumah yang ditinggali beberapa tahun juga sudah hancur terkena material longsor.
"Awalnya terdengar suara gemuruh. Beberapa warga memastikan kondisi daerah atas. Tapi ternyata longsor itu membesar, saya lari menyelamatkan diri,” kata Sumarti, Selasa (18/11).
Awalnya, dia dan beberapa warga lain berlari ke arah makam dusun setempat. Namun karena situasi semakin memburuk, warga kemudian lari ke arah hutan.
“Setelah sampai di hutan kami dijemput oleh petugas. Lalu dibawa ke puskesmas dan kemudian di posko pengungsian,” ungkapnya.
Kebutuhan Mendasar Disalurkan
Usai diselamatkan petugas, warga mendapat pelayanan kesehatan dan juga makanan.
“Ada kesehatan sama makan tiga kali sehari. Menunya sangat layak. Disediakan pengungsian ada tempat tidurnya,” ungkapnya.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan sejumlah kebutuhan mendesak mulai disalurkan, antara lain; logistik permakanan, selimut dan matras, higiene kit, family kit, kids ware, air mineral, hingga perangkat ATK, laptop, printer untuk menunjang posko.
"Informasi awal berkembang 800-an masyarakat terdampak. Ada 26 yang masih terjebak di hutan karena kejadiannya mendadak. Ada juga yang mungkin tertimbun,” tegas Luthfi.
Menurutnya, pencarian dan upaya penanganan diperkuat bersama Pangdam, Basarnas, dan BNPB.
“Hari ini kami bergerak (pencarian) by name by address. Kita bentuk klaster pengungsi, logistik, sarpras, dan kesehatan agar mobilisasi lebih cepat dan terarah,” ujarnya.
Gubernur Luthfi Minta Warga Waspada
Luthfi menyebut bantuan dari provinsi sudah disiapkan dan dikirim. Namun, demikian, dia mengingatkan masyarakat Jawa Tengah untuk meningkatkan kewaspadaan, mengingat banyaknya wilayah yang rawan longsor.
“Jawa Tengah ini minimarket bencana. Ada daerah-daerah tertentu yang harus diantisipasi, Batang, Kendal, Wonosobo, Banjarnegara, Brebes–Bumiayu, Magelang, Temanggung. Potensi gerakan tanah tinggi. Harus ada pencegahan dini,” katanya.
Sebagai informasi, data bantuan yang telah masuk dari OPD dan BUMD Provinsi Jawa Tengah tercatat senilai Rp385,48 juta. Bantuan tersebut meliputi logistik dari Dinas Sosial yang bersumber dari APBN senilai Rp239,35 juta, beras dua ton dari Dinas Ketahanan Pangan senilai Rp27 juta, serta obat-obatan dari Dinas Kesehatan senilai Rp11,91 juta.
Dukungan juga datang dari BUMD Jateng Peduli Bencana, yaitu logistik dari BPR BKK Mandiraja senilai Rp15,5 juta, tiga ton beras dari senilai Rp45 juta, serta logistik dari BPBD Jateng senilai Rp46,72 juta.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mengalokasikan Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp450 juta, untuk penanganan rumah warga yang tertimbun atau musnah.