Kisah Robert Martin Aktivis Australia Pro-Palestina Masuk Islam Usai Diserang dan Ditahan Israel
Keterlibatannya dalam armada Freedom Flotilla memberinya pemahaman langsung tentang realitas yang dihadapi warga Palestina.
Aktivis pro-Palestina asal Australia, Robert Martin, membagikan kisah perjalanan hidupnya yang beririsan antara keyakinan personal dan sikap politik. Pengalamannya mengikuti misi kemanusiaan Freedom Flotilla, serta keputusannya memeluk Islam, disebutnya turut membentuk pandangannya terhadap isu Palestina.
Dalam wawancara dengan Anadolu Agency yang dikutip merdeka.com Senin (5/1/2026), Martin mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam isu Palestina bermula bertahun-tahun lalu, ketika ia menjalin pertemanan dengan seorang warga Palestina. Dari hubungan tersebut, ia mulai mendengar langsung berbagai kesaksian mengenai kehidupan warga Palestina di bawah pendudukan Israel.
Namun, Martin mengakui bahwa pada tahap awal ia masih meragukan cerita-cerita tersebut. Saat itu, ia mengaku lebih mempercayai narasi yang disampaikan media Barat dan pernyataan resmi pemerintah.
Pandangannya Berubah Drastis
Pandangan tersebut berubah drastis ketika ia ikut serta dalam Freedom Flotilla pada Oktober lalu. Misi internasional itu bertujuan menentang blokade Israel atas Jalur Gaza dan membawa bantuan kemanusiaan. Menurut Martin, keterlibatannya dalam armada tersebut memberinya pemahaman langsung tentang realitas yang dihadapi warga Palestina.
Ia menuturkan bahwa kapal yang ditumpanginya diserang oleh pasukan Israel. Puluhan kapal dilaporkan mengepung armada sebelum akhirnya menyitanya dan membawanya ke Pelabuhan Ashdod. Setelah pengambilalihan, Martin bersama para aktivis lain ditahan oleh otoritas Israel.
Menurut Martin, proses penahanan tersebut berlangsung agresif dan penuh intimidasi. Ia mengaku berhadapan langsung dengan personel bersenjata lengkap saat turun dari kapal, serta mengalami perlakuan yang ia sebut sebagai kekerasan fisik, seksual, dan psikologis selama masa penahanan.
Apa yang Dialaminya Cuma Potongan Kecil dari Penderitaan Warga Palestina Setiap Hari
Ia juga menyebut para aktivis mengalami penggeledahan badan berulang kali dengan cara yang ia anggap merendahkan martabat. Bagi Martin, pengalaman itu hanyalah potongan kecil dari penderitaan yang, menurutnya, dialami warga Palestina setiap hari.
Meski memegang paspor Australia, Martin mengatakan dirinya tidak memperoleh perlakuan khusus dari otoritas Israel. Ia juga melontarkan kritik terhadap pemerintah Australia yang dinilainya tidak melakukan intervensi atau menyampaikan protes diplomatik. Menurut Martin, sikap tersebut dipengaruhi oleh ketakutan terhadap Israel.
Martin menambahkan bahwa staf konsuler yang mendampingi para aktivis mengakui Israel sebagai salah satu negara paling sulit dihadapi. Ia menilai Israel kerap bertindak di luar norma internasional, sementara negara-negara lain enggan menuntut pertanggungjawaban.
Menjadi Mualaf
Di luar pengalamannya sebagai relawan filantropi, Martin juga mengisahkan proses personalnya memeluk Islam. Ia mengaku telah berinteraksi secara dekat dengan komunitas Muslim selama sekitar 15 tahun dan menggambarkan pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang positif.
Ia mengatakan pertama kali membaca Al-Qur’an sekitar satu dekade lalu dan menilainya sebagai salah satu kitab paling mendalam yang pernah ia baca. Dalam beberapa bulan terakhir, melalui pembelajaran mandiri dan bimbingan, ia merasa semakin dekat dengan Islam hingga akhirnya memutuskan untuk masuk Islam.
Martin menyatakan bahwa pemahamannya terhadap makna serta keindahan Al-Qur’an kian menguatkan keyakinannya. Ia menilai ajaran Islam bersifat terbuka dan inklusif, serta menawarkan nilai-nilai universal bagi siapa pun.
Ke depan, Martin menegaskan akan terus menyuarakan pandangannya mengenai Islam dan isu Palestina secara terbuka. Ia menyatakan bahwa setelah apa yang disaksikan dan dialaminya sendiri, memilih diam bukan lagi sebuah pilihan, terlebih ketika dukungan global terhadap Palestina dinilainya semakin menguat.