Elite Zionis Terpecah Belah, Eks PM Israel Terus Serang Netanyahu soal Gaza Hingga Sebut Lakukan Kejahatan Perang
Elite Israel sebut Netanyahu lakukan kejahatan perang.
Mantan PM Israel Ehud Olmert. (Dok. AFP/Abir Sultan)
(@ 2023 merdeka.com)Mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert mengatakan jika Israel telah melakukan kejahatan perang di Gaza. Pernyataan itu ditulis dalam sebuah opini di surat kabar dan situs web milik Israel, Haaretz.
Perdana Menteri Israel ke-12 yang menjabat dari tahun 2006 sampai tahun 2009 itu mengatakan jika banyak warga Palestina yang tidak bersalah terbunuh. Begitu pula sebaliknya.
"Ribuan warga Palestina yang tidak bersalah terbunuh, begitu pula banyak tentara Israel," tulisnya.
Bahkan, Ehud Olmert mengatakan jika musuh Israel yang sebenarnya bukanlah Hamas, Iran, bahkan Hizbullah. Bagaimana penjelasan lengkapnya? Simak uraiannya sebagai berikut.
Eks PM Sebut Israel Lakukan Kejahatan Perang
Menurut Ehud Olmert, Israel terus menerus melancarkan serangan peperangan tanpa tujuan, tanpa sasaran, dan tanpa perencanaan yang jelas.
"Pemerintah Israel saat ini melancarkan perang tanpa tujuan, tanpa sasaran atau perencanaan yang jelas dan tanpa peluang untuk berhasil," jelasnya dikutip dari The Guardian.
Olmert juga menyinggung PM Israel sekarang. Ia mengatakan jika sejak dipimpin oleh Netanyahu, Israel disebut sebagai geng kriminal yang membuat preseden tak tertandingi dalam sejarah Israel.
"Negara Israel tidak pernah melancarkan perang seperti itu sejak didirikan. Geng kriminal yang dipimpin Benjamin Netanyahu telah membuat preseden yang tak tertandingi dalam sejarah Israel di bidang ini juga,” lanjutnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan jika Israel kini berperang dengan ambisi politik pribadi. Tujuannya hanya untuk menjadikan Hamas sebagai daerah bencana kemanusiaan.
“Sekarang ini adalah perang politik pribadi. Hasil langsungnya adalah transformasi Gaza menjadi daerah bencana kemanusiaan,” tulisnya.
"Apa yang kita lakukan di Gaza sekarang adalah perang kehancuran: pembunuhan warga sipil tanpa pandang bulu, tanpa batas, kejam, dan kriminal. Itu adalah hasil dari kebijakan pemerintah – yang secara sadar, keji, jahat, dan tidak bertanggung jawab yang diperintahkan." pungkas eks PM Israel.
Musuh Israel bukan Hamas, Iran, dan Hizbullah
Dalam kesempatan lain, Ehud Olmert mengatakan jika musuh Israel yang sebenarnya bukanlah Hamas, Iran, dan Hizbullah. Dalam wawancara dengan CNN, ia menyebut jika sudah banyak sekali korban yang tewas akibat perang.
“Ini adalah saat yang tepat, sudah banyak korban tewas dan penderitaan di kedua belah pihak, harus ada sesuatu yang dilakukan untuk mengubahnya,” katanya.
Olmert menilai bahwa musuh sebenarnya Israel adalah kelompoknya sendiri. Orang-orang di dalam yang mesianis, gila, dan ekstrem. Mereka yang berpikir bahwa dapat mengusir orang Palestina dan mencaplok wilayahnya.
“Musuh sebenarnya yang kita miliki bukanlah Iran, bukan Hizbullah, bukan Hamas. Musuh sebenarnya berasal dari dalam Israel, kelompok-kelompok Israel yang mesianis, gila, dan ekstrem yang berpikir bahwa mereka dapat mengusir orang-orang Palestina dan mencaplok wilayah-wilayah itu,” tegas Olmert.
Kritik Rencana Netanyahu Bangun Kamp Konsentrasi di Gaza
Tidak hanya Ehud Olmert, Perdana Menteri ke-14 Israel, Yair Lapid, juga ikut mengkritik Netanyahu. Diketahui, Netanyahu akan membangun apa yang mereka sebut sebagai ‘Kota Kemanusiaan’ di Gaza Selatan.
Menurut Yair Lapid dan Ehud Olmert, pembangunan 'kota kemanusiaan' itu tak ubahnya ‘kamp konsentrasi’.
"Itu ide yang buruk dari segala perspektif – keamanan, politik, ekonomi, logistik," ujarnya dikutip dari Al Jazeera, Kamis (17/7/2025).
Menurut pemerintah Israel, ‘kota kemanusiaan’ ini awalnya akan menampung 600.000 warga Palestina terlantar yang saat ini tinggal di tenda-tenda di daerah al-Mawasi. Namun, pada akhirnya, seluruh penduduk Gaza yang berjumlah lebih dari dua juta orang akan dipindahkan ke sana.
Lebih ekstrem, Olmert mengatakan jika pembangunan ‘kota kemanusiaan’ oleh Netanyahu, merupakan strategi Israel untuk membersihkan etnis Palestina dengan cara lain.
"Jika mereka (warga Palestina) akan dideportasi ke 'kota kemanusiaan' yang baru, maka bisa dibilang ini bagian dari pembersihan etnis," ujarnya.
"Ketika mereka membangun kamp di mana mereka (berencana) untuk 'membersihkan' lebih dari separuh Gaza, maka pemahaman yang tak terelakkan tentang strategi ini (adalah) bukan untuk menyelamatkan (warga Palestina). Melainkan untuk mendeportasi mereka, mendorong mereka, dan membuang mereka. Setidaknya tidak ada pemahaman lain yang saya miliki,” pungkasnya.