Bandung Jadi Kota Termacet di Indonesia, Alif Jebolan ITB Bongkar Rumus Hitung Lampu Merah Lalu Lintas Agar Tidak Macet
Pria ini mencoba menganalisis hitungan detik dari masing-masing lampu lalu lintas seperti lampu merah, hijau, hingga kuning.
Survei TomTom Traffic Index 2024 menobatkan Kota Bandung sebagai kota termacet di Indonesia. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi pun menyebut salah satu penyebab kemacetan di Kota Bandung adalah sistem lalu lintas atau traffic light yang belum tepat.
Dedi mengeklaim tengah membuat analisis terkait traffic light untuk menanggulangi masalah tersebut. Pemilik akun TikTok @aliftowew pun berbagi rumus Matematika soal penghitungan lampu lalu lintas yang disebut Dedi Mulyadi menjadi salah satu penyebab kemacetan parah di Bandung.
“Kang Dedi ini menyalahkan lampu lalu lintas sebagai biang keroknya. Sebenarnya ada enggak sih rumus matematikanya? Ada ternyata rumusnya,” diungkap pria yang seringkali dikenal dengan nama Alif dalam keterangan video.
Melalui unggahan itu, pria yang merupakan jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mencoba menganalisis hitungan detik dari masing-masing lampu lalu lintas seperti lampu merah, hijau, hingga kuning. Tujuannya yakni Alif mengungkap jika penghitungannya itu bisa menjadi solusi dari kemacetan di Bandung.
“Anak matematika ITB bongkar rumus hitung lampu lalu lintas biar enggak macet,” tulisnya.
Pertama, Alif mencoba menerangkan jika formula penghitungan yang digunakannya ialah rumus Webster. Rumus ini merupakan jumlah waktu total dari ketiga jenis lampu lalu lintas.
“Kita hitung dulu C yaitu total waktu hijau, kuning dan merah. Rumusnya pakai si Webster yaitu 1,5 L + 5 dibagi 1-y dimana y itu adalah perbandingan kapasitas mobil dibagi real timenya,” katanya.
Bukan hanya sekadar mengungkap rumus, Alif mengaku jika dia telah mencoba formula penghitungan ini di kawasan Soreang.
Dia mencatat jumlah dari kendaraan yang melintas setiap dua menit. Selain itu, dia juga menuliskan kapasitas hingga didapatkan rumus y sedemikian rupa.
Setelah semuanya dihitung, Alif mendapatkan jumlah total waktu dari lampu merah, hijau, serta kuning yang ternyata berada di kisaran angka 124 detik saja.
“Nah aku sudah mencoba nih di Soreang, nah setiap jalurnya kayak begini nih. Per dua menit, aku hitung ada mobilnya berapa, kemudian kapasitasnya ada berapa, dan ini dapat y seperti ini. Nah semua itu masukin ke rumus. Setelah aku hitung, C itu di antara 124 detik,” tegasnya.
Dia turut menambahkan, ada rumus lain jika ingin menghitung durasi dari lampu hijau, merah, atau kuning saja.
Alif menggunakan rumus yang berasal dari modifikasi formula C waktu total. Saat menghitung lampu hijaunya, Alif mendapatkan jika durasi dari lampu hijau ini berkisar di antara 34 detik, 28 detik, 24 detik, hingga 21 detik saja.
“Nah untuk dapat lampu hijau, bisa digunakan rumus ini. Masukkan y-nya dan dapatlah segini setiap jalurnya. Tuh segini antara 34 detik, 28 detik, 24 detik, dan 21 detik,” jelasnya.
Sementara lampu merah memiliki durasi yang lebih lama yakni di kisaran 86 hingga 99 detik.