Operasi Bebaskan Bandung dari Macet, Begini Cara yang akan Dilakukan
Sejumlah stakeholder di Kota Bandung menyusun strategi guna menekan angka kemacetan itu.
Kota Bandung menjadi salah satu kota termacet menurut survei dari Tomtom Traffic Index 2024. Dalam rilis perusahaan navigasi asal Belanda itu, Kota Bandung menduduki peringkat 12 kota termacet dalam skala global dan peringkat teratas di Indonesia.
Menyikapi ini, sejumlah stakeholder di Kota Bandung menyusun strategi guna menekan angka kemacetan itu. Sinergi lintas instansi diharapkan dapat menjadi kunci suksesnya langkah tersebut.
“Kemarin kita telah melaksanakan rapat gabungan bersama dengan Pemkot, dengan Pak Wali Kota dan dilanjut dengan tingkat provinsi yaitu di Polda, agar bersama-sama untuk mencegah kemacetan di kota Bandung,” kata Kapolrestabes Kota Bandung, Kombes Pol Budi Sartono, Senin (14/7).
Kombes Budi mengatakan, upaya menekan angka kemacetan di Kota Bandung perlu dilakukan mulai dari hulu hingga hilir. Termasuk, dilakukan secara bersama-sama. Misalnya, urusan prasarana di lapangan, hingga kesadaran masyarakat secara umum.
“Sehingga kita mengingatkan tidak boleh ada parkir liar, tidak boleh ada PKL-PKL yang memang mengganggu kemacetan,” katanya.
Budaya Pengendara
Senada dengan itu, Kepala Bidang Pengendalian Operasional (Dalops) Dishub Kota Bandung, Asep Kuswara mengatakan, edukasi kepada masyarakat menjadi salah satu langkah penting untuk menekan kemacetan.
Terutama berkaitan dengan praktik parkir sembarangan yang dinilai jadi salah satu penyebab kemacetan di Kota Bandung.
“Tidak tertib, ya iya kan harus tertib, parkir di bahu jalan, kita coret. Kan nggak boleh, karena menyebabkan kemacetan. Dari kemacetan itu, satu pemborosan bahan bakar, jadi global warming kan gitu,” ujar dia.
Disinggung apakah traffic light menjadi titik simpul kemacetan di Kota Bandung, Kuswara tidak berpandangan demikian. Hal yang menjadi perhatiannya, justru masih adanya masyarakat yang terbilang tidak sabaran saat menunggu lampu merah.
Alih-alih menunggu lampu merah selesai, ia menyebut kerap menemukan pengendara yang saling serobot, berpindah ke ruas jalan yang lain. Hal ini, menurut dia, malah menambah banyak titik penumpukan kendaraan.
“Misalnya kita kemacetan di sini, sudah macet di sini, ya nunggu. Ini masuk lagi dari ke sini, geser semua. Jadi semua jadi macet,” sambung dia.
Jumlah Kendaraan di Bandung
Sebelumnya, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menanggapi survei Tomtom yang menempatkan Bandung sebagai Kota termacet di Indonesia.
Ia menilai, kondisi tersebut kemungkinan disebabkan dari tingginya angka kepemilikan kendaraan pribadi yang tak berbanding lurus dengan banyaknya jalan.
Hanya saja, Farhan bilang tidak dimungkinkan untuk menambah ruas jalan.“Jumlah penduduk Kota Bandung 2,6 juta, jumlah kendaraan pribadi di Kota Bandung 2,3 juta. Jumlah jalan sedikit dan kita tidak mungkin menambah jumlah jalan," ucap Farhan, Jumat (4/7).
Untuk menurunkan kemacetan, Farhan meminta pemerintah pusat bisa segera membuat flyover Nurtanio, Kota Bandung. Di sisi lain, pengoptimalan (Bus Rapid Transportation) diharapkan jadi pemecah masalah macet yang lain.
“Nah, jadi sekarang salah satu kuncinya adalah meminta dengan sangat kepada pemerintah pusat menyelesaikan Jalan Layang Nurtanio,” kata dia.
"Kita akan bersama dengan pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan world bank akan membangun BRT (Bus Rapid Transportation). Mudah-mudahan jalan," imbuhnya.
Untuk pengembangan BRT versi Pemkot Bandung, Farhan mengungkapkan, kebutuhan mencapai sekitar 400 unit bus, dengan estimasi anggaran Rp300 miliar per tahun.