Anak Jenderal Israel Tegas Sebut Tentara Zionis Teroris, Beberkan Bukti-buktinya
Momen anak jenderal Israel sebut tentara zionis sebagai teroris dan beberkan bukti kejahatan.
Aktivis dan penulis asal Israel, Miko Peled, blak-blakan menyebut tentara zionis sebagai teroris. Dalam sebuah kesempatan, dia bahkan memaparkan bukti-bukti kejahatan yang dilakukan para petinggi di negara tersebut.
"Tentara Israel yang saya suka sebut sebagai salah satu yang paling terlatih, perlengkapan yang baik di dunia. Tapi seluruh tujuan mereka adalah (melakukan) terorisme," ungkapnya dikutip dari video di akun Tiktok @cahaya.kaffah (21/5),
Peled kemudian menyebut salah satu momen yang dia sebut sebagai 'hari paling memalukan' dalam sejarah Yahudi. Pada 27 September 2008, pemerintah Israel mengeluarkan keputusan untuk melakukan serangan ke wilayah Gaza, Palestina.
Pada saat itu, para petinggi Israel dikatakan memutuskan untuk memulai serangan sekitar pukul 11.25. Waktu tersebut dinilai sengaja dilakukan karena di momen itu banyak anak-anak sedang beraktivitas di luar.
"Di hari pertama Israel mulai menyerang Gaza, mereka menjatuhkan 100 ton bom. Sebuah bom satu ton akan memusnahkan satu blok kota. Dan Gaza adalah tempat terpadat di dunia. 800.000 anak tinggal di Gaza," kata Peled.
"Jam 11.25 adalah waktu di mana anak-anak berganti shift sekolah. Pada saat itu semua anak-anak tentu ada di jalanan. Itulah waktu yang diputuskan oleh para pengambil keputusan Israel untuk memulai serangan," tambahnya.
Keputusan petinggi Israel memilih waktu tersebut untuk memulai serangan ialah jelas jika mereka juga menargetkan warga sipil termasuk anak-anak dalam setiap operasi militernya.
"Itu adalah hari pertama dari 21 hari pembantaian yang tidak ada sama sekali pembenarannya. Jika itu bukan terorisme entah (disebut) apalagi," pungkas Peled.
Diketahui, jika Miko Peled adalah cucu dari seorang penandatangan Deklarasi Kemerdekaan negara Yahudi tahun 1948. Ayahnya bahkan seorang jenderal yang pernah bertugas dalam Perang Enam Hari tahun 1967.
Meski lahir dan dibesarkan di keluarga Yahudi yang tinggal di Israel, Peled justru memilih ikut memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina. Hal tersebut seperti dilansir dari laman middleeastmonitor.
"Saya berasal dari keluarga patriotik Zionis yang sangat terkemuka... Saya tumbuh sebagai seorang patriot, pendukung kuat negara saya, negara bagian saya dan tentu saja Zionisme," kata Peled yang lahir di Yerusalem pada tahun 1961.
Dia sangat dipengaruhi oleh ide-ide ayahnya di tahun-tahun awal hidupnya dan bertugas di militer untuk sementara waktu, tetapi kemudian menyesalinya dan keluar.
Warga Amerika keturunan Israel itu mengatakan bahwa ia mulai mempertanyakan keberadaan Israel setelah kematian seorang anggota keluarga lebih dari dua dekade lalu.
"Hal ini membuat saya memeriksa realitas dari apa yang diajarkan kepada saya tentang keberadaan Israel," katanya.
Mengenai serangan Israel yang terus berlanjut di Gaza, Peled mengatakan jika orang-orang Palestina yang tidak ada hubungannya dengan peristiwa ini membayar harga yang mahal.
Menurutnya, Israel merasa dipermalukan akibat serangan yang dilakukan Hamas dan sekarang Israel melampiaskan semua dendam dan kemarahannya kepada orang-orang tak berdosa dan warga sipil yang tidak ada hubungannya dengan serangan itu.
Serangan udara dan darat Israel terhadap daerah kantong yang terkepung tersebut telah menewaskan puluhan ribu orang sejak 7 Oktober 2023, sebagian besar adalah wanita dan anak-anak.