Pemuda Yahudi Bongkar Kejahatan Zionis ke Palestina, Sampai Kerja Sama dengab Nazi
Ada keterlibatan Nazi di awal konflik Israel dan Palestina dengan alasan ingin mendirikan tanah Yahudi di sana.
Seorang pemuda berdarah Yahudi membongkar kejahatan zionis ke Palestina yang sudah dimulai sejak puluhan tahun yang lalu.
Mengutip dari akun X @real1maria, Senin (14/7) pemuda itu menyebut munculnya isu anti-semitisme tidak mencerminkan keadaan sesungguhnya terutama bagi masyarakat Yahudi di seluruh dunia.
Meski berasal dari latar belakang Yahudi, pemuda itu mengaku sebagai sosok anti-zionis karena mengetahui apa yang dialami Palestina di masa lalu.
Sang kakek buyut adalah seorang wali kota di salah satu kota di Palestina. Ia tahu persis apa yang dialami kota tersebut di masa sebelum perang dunia kedua.
"Anti-Zionisme bukanlah anti-Semitisme. Saya seorang Yahudi dan anti-Zionis, tetapi kakek buyut saya tinggal di Palestina yang diduduki Inggris pada tahun 1920-an dan 1930-an, sebelum kolonialisme Perang Dunia II, dan menjabat sebagai wali kota sebuah kota di Palestina," ucapnya.
Zionis disebut sudah melakukan kekerasan di masa itu. Sehingga anggapan perang dimulai sejak 7 Oktober 2023 tidaklah benar.
"Jadi jelas, sejarah tidak dimulai pada 7 Oktober, dan Zionisme telah dan akan selalu penuh kekerasan," sambungnya.
Taktik Israel dan Nazi
Menurutnya, sebelum terjadinya holocaust, zionis dan Nazi telah berkolaborasi untuk mendirikan negara Israel di tanah Palestina.
"Zionis berkolaborasi dengan Nazi sebelum terjadinya Holocaust untuk mencoba mendirikan negara Yahudi di tanah Palestina," katanya.
Dia juga mengungkap, sejumlah skenario jahat dilakukan badan mata-mata Israel, Mossas, di masa lalu untuk mendorong warga Yahudi pindah ke Israel yang baru didirikan di tanah Palestina.
"Agen Mossad meledakkan sinagoga di Irak untuk menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat, sekali lagi, untuk mendorong orang (Yahudi) pindah ke tanah yang dulunya Palestina," jelasnya.
Setelah peristiwa nakba pada tahun 1948, Israel terus merampas segala hal yang dimiliki warga Palestina.
Ia pun mengkritik pandangan Israel yang menyebut siapapun yang mengecam segala bentuk kekerasan terhadap Palestina adalah anti-Semitisme.
"Setiap hari sejak Nakba, Israel dengan kejam merampas tanah, hak, dan kehidupan warga Palestina."
"Jadi, menegur Israel atas kekejaman ini bukanlah anti-Semitisme. Tetapi anti-Semitisme itu nyata, dan sedang meningkat," tandasnya.
Israel Merasa Menjadi Korban
Menurutnya, Israel selalu mengklaim semua kejahatan yang dilakukan kepada warga Palestina itu dikarenakan tanah Palestina adalah tanah yang dijanjikan kepada umat Yahudi.
"Itu karena negara yang melakukan kekejaman ini secara lahiriah akan mengatakan bahwa kami melakukan ini karena tanah itu dijanjikan kepada kami. Ini tanah kami untuk orang-orang Yahudi," jelasnya.
"Ketika Anda melakukan apartheid, ketika Anda melakukan genosida, dan kemudian Anda mendukungnya, semua atas nama orang-orang Yahudi, itulah yang menyebabkan anti-Semitisme meningkat, bukan penentangan terhadap kejahatan-kejahatan mengerikan itu," katanya.
"Membutakan diri terhadap fakta bahwa ini akan berbalik dan menciptakan bahaya nyata bagi komunitas Yahudi sungguh sangat merusak," pungkasnya.