Seorang tentara Israel mengaku tak pernah menganggap warga Palestina sebagai sipil. Menurutnya, mereka semua adalah teroris yang harus dibunuh.
Dalam sebuah obrolan yang dilakukannya dengan seorang streamer via akun TikTok @hamzah, tentara zionis itu mengaku telah membunuh 20 orang Palestina dan menyebut mereka sebagai anggota Hamas yang dicapnya sebagai teroris.
"Berapa orang Palestina yang telah kamu bunuh?" tanya streamer dikutip Kamis (10/7/2025).
"20. Aku tidak mengenal apa itu orang Palestina. Aku hanya tahu Hamas. Di Gaza, mereka bukanlah orang sipil. Mereka semua teroris Hamas," balas tentara zionis.
Mirisnya, ia juga mengklaim anak-anak di Gaza sebagai Hamas sehingga membuat mereka layak dibunuh.
"Jadi ada 1 juta anak-anak di Gaza mereka semua adalah Hamas?" tanya streamer.
"Iya," balasnya.
Seperti sudah dicuci otaknya, pengakuan tentara tersebut membuat banyak orang terbuka pandangannya terhadap Israel.
Apalagi jumlah korban tewas sejak konflik pecah pada 7 Oktober 2023 lalu itu telah mencapai sedikitnya 57.418 orang lebih serta 136 ribu lainnya luka-luka yang didominasi oleh anak-anak dan wanita.
Jumlah tersebut sangat memungkinkan bertambah mengingat Israel masih secara masif melancarkan serangan ke seluruh wilayah Gaza.
@hamzah Free Palestine 🇵🇸
♬ original sound - hamzah | حمزة 🍉
Advertisement
Hamas Bikin Israel Ketar-ketir
Pejuang Hamas belum lama ini membunuh lima tentara Israel dan melukai setidaknya 14 lainnya pada hari Senin dalam sebuah penyergapan di Beit Hanoun, dekat perbatasan dengan Israel di Jalur Gaza utara.
Serangan terjadi di area yang telah dikosongkan paksa oleh pasukan Israel dari penduduk Palestina dan ditetapkan sebagai "zona penyangga", tempat operasi militer berlangsung selama berbulan-bulan.
Abu Ubaida, juru bicara militer Brigade al-Qassam Hamas, menyebut penyergapan itu sebagai “operasi kompleks” dan “pukulan tambahan” terhadap apa yang ia sebut sebagai “gengsi tentara pendudukan yang lemah dan unit-unitnya yang paling kriminal di area yang dianggap aman oleh pendudukan setelah mengobrak-abrik segalanya.”
Dalam pernyataan di Telegram, ia memperingatkan bahwa pejuang Palestina akan terus menimbulkan kerugian pada pasukan Israel.
“Bahkan jika [tentara Israel] baru-baru ini secara ajaib berhasil membebaskan tentaranya dari neraka, mereka mungkin gagal nanti, meninggalkan kami dengan tahanan tambahan
Pandangan lain diutarakan oleh Mayor Jenderal cadangan Israel Yitzhak Brik yang mengklaim perlawanan Palestina Hamas telah kembali ke kekuatan sebelum perang. Pernyataan itu bertentangan dengan laporan militer Israel tentang kemajuan mereka di Gaza.
Dalam artikel opini yang diterbitkan oleh surat kabar berbahasa Ibrani Maariv, Brik menyebut realitas di lapangan bagi tentara Israel sebagai "suram".
Brik lebih lanjut menunjukkan bahwa Hamas kini memiliki sekitar 40.000 pejuang perlawanan, serupa dengan kekuatannya sebelum agresi Israel dimulai di Gaza.
"Mereka terus berjuang sebagai gerilyawan seperti yang mereka lakukan sejak awal perang," tulis Brik."
Advertisement
Taktik Lapangan Hamas Semakin Kuat
Mayor Jenderal cadangan Israel Yitzhak Brik menyatakan, Hamas saat ini tumbuh menjadi pasukan yang jauh lebih kuat. Mereka memiliki taktik lapangan yang lebih efektif dan mematikan.
"Mereka bukan tentara, dan karena itu mereka tidak kehilangan kemampuan militer mereka seperti yang diklaim oleh Kepala Staf (Tentara Israel)." kata dia seperti dilansir Press TV, Senin (7/7).
Hamas menyatakan tengah melancarkan perang menghadapi genosida Israel yang tanpa henti terhadap warga sipil, dan mengejutkan musuh setiap hari dengan taktik lapangan yang terus diperbarui.
Dalam beberapa hari terakhir, mereka telah membunuh dan melukai sejumlah pasukan pendudukan Israel dalam serangkaian penyergapan, di tengah eskalasi agresi Israel di Gaza.
Bergabung juga sayap bersenjata gerakan perlawanan Palestina Jihad Islam pada Sabtu yang mengumumkan telah membunuh atau melukai setidaknya 40 pasukan Israel selama penyergapan yang menargetkan berbagai kelompok pasukan di bagian utara Jalur Gaza.
Advertisement
Perlawanan Hamas Untuk Netanyahu
Permintaan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai pembebasan sandera dan penyerahan Gaza ditolak mentah-mentah oleh Hamas. Mereka menyebutnya sebagai 'ilusi delusional kekalahan' Israel.
Hamas menyatakan, pembebasan tawanan Israel hanya akan terjadi melalui kesepakatan yang ditentukan oleh syarat-syarat dari kelompok perlawanan.
Dalam pernyataan yang dirilis melalui Telegram, anggota senior Biro Politik Hamas, Izzat al-Rishq, mengecam klaim Netanyahu bahwa perang di Gaza akan berakhir dengan pembebasan sandera tanpa syarat dan penghapusan Hamas.
"Pembicaraan Netanyahu tentang membebaskan semua sandera dan memaksa Hamas menyerah mencerminkan ilusi psikologis kekalahan, bukan realitas di lapangan," kata al-Rishq, seperti dilansir TRT World, Selasa (9/7).
Al-Rishq berpendapat bahwa kepemimpinan Israel telah gagal membebaskan sandera melalui operasi militer, sehingga merubah strategi dengan kesepakatan serius dengan perlawanan.
"Tidak akan ada pembebasan tawanan tanpa kesepakatan yang dinegosiasikan yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh kelompok perlawanan," tegasnya, menolak gagasan tentang penyerahan Gaza."
"Gaza tidak akan menyerah. Seperti halnya kelompok perlawanan menentukan keputusan di lapangan, mereka juga akan mendikte syarat-syarat kesepakatan."