8 Hewan Purba yang Pernah Dihidupkan Kembali Sepanjang Sejarah
Kemajuan teknologi rekayasa genetika dan kloning membuka peluang menghidupkan kembali hewan punah.
Perkembangan teknologi rekayasa genetika dan kloning telah memicu upaya kontroversial namun menjanjikan: menghidupkan kembali spesies hewan yang telah punah. Meskipun belum ada replika sempurna dari spesies yang telah lama lenyap, beberapa kemajuan signifikan telah dicapai.
Upaya ini, yang dikenal sebagai 'de-extinction', menimbulkan pertanyaan mendalam tentang etika, kelayakan ekologis, dan potensi risiko bagi lingkungan dan manusia.
Sepanjang sejarah, beberapa kelompok peneliti pernah mencoba menghidupkan kembali hewan purba yang telah lama punah, meskipun hewan-hewan ini bukanlah replika sempurna dan hanyalah hibrida.
Namun, keberhasilan tersebut tidak selalu menghasilkan hasil yang sempurna. Salah satunya adalah ancaman penyakit hingga usia hewan yang dianggap tidak panjang umur. Kegagalan ini menyoroti kompleksitas dan tantangan teknis yang masih harus diatasi dalam proses 'de-extinction'.
Berikut ini adalah deretan hewan purba yang telah lama punah dan pernah kembali dihidupkan oleh teknologi dan para ilmuwan dikutip dari berbagai sumber.
Serigala Dire
Colossal Biosciences, perusahaan bioteknologi yang fokus pada 'de-extinction', telah berhasil menciptakan serigala yang membawa sejumlah gen serigala dire. Serigala dire, yang punah lebih dari 12.000 tahun lalu, memiliki ciri-ciri fisik yang unik.
Proyek ini menggunakan teknologi rekayasa genetika canggih untuk menyisipkan gen serigala dire ke dalam genom serigala abu-abu. Meskipun bukan replika sempurna, serigala hasil rekayasa genetika ini membawa sejumlah gen penting yang memengaruhi ciri-ciri fisik serigala dire, seperti ukuran tubuh, warna bulu, dan bentuk tubuh.
Keberhasilan ini membuka jalan bagi upaya serupa untuk menghidupkan kembali spesies punah lainnya, meskipun tantangan teknis dan etika masih perlu dipertimbangkan. Mereka merupakan hibrida yang membawa sebagian gen dari spesies punah dan sebagian dari spesies yang masih hidup dan berkerabat dekat. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang keaslian dan representasi spesies yang telah punah.
Bucardo dan Katak Lambung Selatan
Pada tahun 2003, para ilmuwan di Spanyol berhasil melakukan transfer inti sel somatik untuk menghidupkan kembali bucardo, subspesies ibex Pirenia yang punah pada tahun 2000. Sayangnya, anak bucardo yang lahir mati beberapa menit kemudian karena cacat paru-paru.
Upaya serupa juga dilakukan untuk menghidupkan kembali katak lambung selatan (Rheobatrachus silus) pada tahun 2013. Meskipun sel berhasil membelah dan bereplikasi, tidak ada embrio yang berkembang menjadi kecebong. Kegagalan-kegagalan ini menunjukkan bahwa proses 'de-extinction' masih menghadapi tantangan teknis yang signifikan.
Tantangan ini meliputi kesulitan dalam memperoleh DNA yang utuh dan berkualitas baik dari spesies yang telah punah, serta kendala dalam mengendalikan proses perkembangan embrio dan adaptasi hewan yang 'dihidupkan kembali' ke lingkungannya.
Harimau Tasmania
Hewan endemik asal Australia, Harimau Tasmania (Tasmanian Tiger) atau Thylacinus cynocephalus pernah menjadi hewan selanjutnya yang ingin dihidupkan kembali oleh teknologi manusia. Hewan ini merupakan jenis marsupial karnivora yang memiliki penampilan menyerupai serigala dan garis-garis seperti harimau.
Spesies ini dianggap telah punah sejak tahun 1936, ketika individu terakhirnya meninggal di Kebun Binatang Hobart, Australia. Pada tahun 2017, para peneliti berhasil menyusun urutan genom harimau Tasmania.
Selanjutnya, pada tahun 2023, mereka juga berhasil mengekstraksi RNA dari spesimen yang telah diawetkan. Meskipun demikian, proses ini masih menghadapi tantangan teknis dan etika yang membuat upaya untuk menghidupkan kembali spesies ini belum sepenuhnya berhasil.
Quagga
Spesias purba yang merupakan kerabat dekat zebra, Equus quagga quagga dikenal memiliki pola garis yang unik, hanya di bagian depan tubuh, sedangkan bagian belakang menyerupai kuda biasa. Hewan asli benua Afrika ini resmi dinyatakan punah pada 1883 akibat perburuan dan eksploitasi.
Proyek Quagga di Afrika Selatan mencoba menghidupkan kembali spesies ini melalui pembiakan selektif zebra biasa yang menunjukkan pola genetik mirip quagga. Beberapa individu hasil persilangan kini sudah menunjukkan kemiripan secara visual, namun tetap bukan quagga sejati secara genetis.
Ilmuwan juga mengusulkan pendekatan kloning dengan mengekstrak DNA dari tulang belakang kerangka quagga yang diawetkan. Namun metode ini memerlukan investasi besar dan membawa pertanyaan etis tentang prioritas konservasi.
Burung Dodo
Burung dodo (Raphus cucullatus) adalah spesies endemik Pulau Mauritius yang punah pada abad ke-17 akibat perburuan dan predasi oleh hewan yang dibawa oleh kolonialis Eropa, seperti tikus dan kucing. DNA burung ini ditemukan masih tersimpan dalam spesimen museum.
Pada masanya, burung dodo merupakan salah satu burung yang hidup di darat dan biasanya menyantap buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, dan akar-akaran. Kekuatan mereka terletak pada paruh yang bengkok mirip elang dan memungkinkan mereka memecahkan biji-bijian.
Pada 2022, para ilmuwan berhasil menyusun peta genom burung dodo menggunakan spesimen dari museum di Denmark. Namun, menghidupkan kembali dodo masih jauh dari kata mudah, karena diperlukan pendekatan yang mencakup manipulasi genetika dan juga penciptaan lingkungan yang cocok.
Merpati Penumpang
Ectopistes migratorius adalah spesies burung yang dulunya bermigrasi dalam kawanan besar di Amerika Utara, namun dinyatakan punah pada awal abad ke-20 karena perburuan besar-besaran dan hilangnya habitat.
Burung terakhir diketahui mati pada 1914 di kebun binatang Cincinnati. Ilmuwan kini mencoba menciptakan versi baru merpati penumpang dengan menyisipkan gen spesifik dari burung tersebut ke dalam genom merpati ekor pita (Patagioenas fasciata), kerabat terdekatnya.
Proses penciptaan kembali ini dikenal sebagai genome editing with surrogate species.
Harimau Saber Tooth
Kerabat dekat Harimau yang pernah menjadi predator utama di alam, Saber Tooth pernah ingin dihidupkan kembali oleh para ilmuwan setelah terakhir kali hidup di zaman es sekitar 11 ribu tahun yang lalu.
Saber Tooth Tiger merupakan jenis kucing besar dan mempunyai dua taring panjang yang berfungsi untuk memangsa hewan yang memiliki badan lebih besar darinya. Hewan ini punah akibat terkena dampak dari pemanasan global.
Dari banyaknya hewan-hewan yang punah pada zaman es, sejumlah ilmuwan tertarik untuk menghidupkan kembali Saber Tooth menjadi pilihan utama. Para ilmuwan akan menggabungkan kedua sampel DNA hewan tersebut untuk cloning dan diambil dari fosil yang disimpan di The La Brea Tar Pits di Los Angeles.