Fosil Makhluk Laut Tanpa Kepala dan Kaki Berusia 444 Juta Tahun Ditemukan di Afrika Selatan

Ilmuwan temukan fosil Keurbos susanae, makhluk laut purba tanpa kepala dan kaki, dengan jaringan lunak terawetkan sempurna.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Fosil Makhluk Laut Tanpa Kepala dan Kaki Berusia 444 Juta Tahun Ditemukan di Afrika Selatan
Fosil Makhluk Laut Tanpa Kepala dan Kaki Berusia 444 Juta Tahun Ditemukan di Afrika Selatan (Ilustrasi dibuat dengan ChatGPT)

Tim ilmuwan menemukan fosil makhluk laut purba yang dijuluki “keajaiban tanpa kepala dan kaki” berusia 444 juta tahun di kawasan Pegunungan Cederberg, Afrika Selatan.

Mengutip LiveScience, Sabtu (29/3), fosil ini unik karena tubuhnya terawetkan dari bagian dalam, mempertahankan jaringan lunak seperti otot, urat, dan organ pencernaan, sementara bagian luarnya seperti kepala dan cangkang telah lenyap akibat pembusukan alami.

Penemuan ini diumumkan dalam jurnal ilmiah Papers in Palaeontology pada 26 Maret 2025. Spesimen baru ini diberi nama Keurbos susanae, dan dijuluki "Sue" oleh tim peneliti, dipimpin Sarah Gabbott, ahli paleontologi dari University of Leicester, Inggris.

“'Sue' adalah keajaiban yang diawetkan secara terbalik. Isinya, otot, tendon, bahkan usus, bertahan dalam detail luar biasa, namun bagian keras tubuhnya menghilang sejak ratusan juta tahun lalu,” kata Gabbott.

Fosil ditemukan di lapisan Soom Shale, lokasi yang terkenal mampu mengawetkan jaringan lunak secara alami. Lingkungan laut saat itu diduga miskin oksigen namun kaya hidrogen sulfida, kondisi ekstrem yang memungkinkan pengawetan detail jaringan lunak namun melarutkan bagian keras seperti cangkang.

Keurbos susanae hidup di masa Kepunahan Massal Ordovisium Akhir, sekitar 443 juta tahun lalu, periode yang memusnahkan hampir 85% spesies laut.

Struktur tubuh bersegmennya menunjukkan bahwa makhluk ini termasuk kelompok arthropoda laut primitif, meskipun hubungan evolusionernya dengan spesies lain masih belum jelas karena kurangnya sisa eksoskeleton.

Penemuan ini dianggap langka. Setelah lebih dari dua dekade pencarian, tim peneliti belum menemukan spesimen serupa yang utuh. Lokasi awal fosil kini tertutup oleh aktivitas pertambangan, sehingga kemungkinan penemuan baru semakin kecil.

“Saya harap bisa menemukan fosil lain, tapi setelah 25 tahun, tampaknya ‘Sue’ adalah satu-satunya,” kata Gabbott.

Meskipun terdengar sebagai lelucon, Gabbott mengaku menamai fosil itu berdasarkan nama ibunya yang menyemangatinya untuk mengejar karier yang ia cintai: menggali batu, mencari fosil, dan memahami sejarah kehidupan di Bumi.

Rekomendasi