Resmi Dilarang, 170 Juta Pengguna TikTok di AS Mati Gaya
TikTok dilarang di AS sejak 17 Januari 2025 akibat kekhawatiran keamanan nasional. ByteDance masih mencari solusi agar aplikasi ini dapat kembali diakses.
TikTok, aplikasi video pendek yang sangat populer, resmi dilarang di Amerika Serikat. Sejak 17 Januari 2025, pengguna tidak lagi dapat mengakses video baru. Saat login, pesan bertuliskan, "TikTok tidak tersedia di AS akibat undang-undang yang melarang aplikasi ini," muncul di layar.
Mengutip GizChina, Senin (20/1), larangan ini berakar pada kekhawatiran keamanan nasional. Pada 20 April 2024, Dewan Perwakilan Rakyat AS meloloskan undang-undang yang mewajibkan ByteDance, perusahaan asal China pemilik TikTok, untuk menjual operasinya di AS.
Presiden Joe Biden menandatangani undang-undang tersebut, memberikan waktu 270 hari kepada ByteDance untuk mematuhi aturan. Namun, ByteDance gagal memenuhi batas waktu tersebut.
Pada 17 Januari 2025, Mahkamah Agung AS menguatkan larangan ini, menyatakan bahwa praktik data TikTok berpotensi membahayakan keamanan nasional. Akibatnya, TikTok, bersama aplikasi ByteDance lainnya seperti CapCut dan Lemon8, dihapus dari App Store dan Google Play.
Pusing ByteDance Cari Solusi
Meski larangan ini menjadi pukulan besar, ByteDance tetap optimis. Dalam memo internalnya, perusahaan menyatakan sedang bekerja untuk mengembalikan TikTok di AS.
"Presiden Trump telah menyatakan komitmennya untuk membantu kami mencari solusi begitu ia menjabat," tulis ByteDance, merujuk pada pelantikan Donald Trump yang dijadwalkan pada 20 Januari 2025.
Namun, hingga kini, tidak ada kejelasan kapan TikTok akan kembali beroperasi di AS. ByteDance hanya menyebutkan bahwa tim mereka terus bekerja keras untuk menyelesaikan masalah ini.
Dampak bagi Pengguna dan Kreator
Dengan 170 juta pengguna aktif, larangan TikTok meninggalkan celah besar di industri hiburan digital AS. Aplikasi ini sebelumnya menjadi pusat tren budaya, musik, dan konten kreatif. Bagi kreator, hilangnya platform ini berarti kehilangan panggung utama mereka untuk berinteraksi dengan audiens.
Meski larangan ini menjadi tantangan besar, popularitas TikTok di AS menunjukkan bahwa upaya untuk mengembalikan aplikasi ini akan terus dilakukan. Hingga saat itu tiba, pengguna hanya bisa menunggu perkembangan lebih lanjut.