Ketua MPR RI Apresiasi Penguatan Ekonomi Kreatif Banyumas, Dorong Kemandirian Lokal
Ketua MPR RI Ahmad Muzani memberikan apresiasi terhadap penguatan Ekonomi Kreatif Banyumas, sebuah inisiatif yang dikembangkan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sebagai upaya strategis mendorong kemandirian dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penguatan ekonomi kreatif yang tengah dikembangkan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Apresiasi ini diberikan sebagai bentuk dukungan terhadap upaya mendorong kemandirian serta pemberdayaan masyarakat yang berbasis pada potensi lokal. Muzani meninjau kawasan Ethos Digital Valley di Dusun Gewok, Desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang, Banyumas, pada Minggu, 26 April 2026, setelah meresmikan papan sedekah sayur.
Menurut Muzani, pengembangan ekonomi kreatif semacam ini sangat baik karena dalam jangka panjang akan menumbuhkan kesadaran masyarakat. Hal ini berkaitan dengan cara meningkatkan keberhasilan dan potensi yang bisa dioptimalkan untuk kebaikan bersama. Inisiatif ini dinilai sebagai langkah strategis yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membangun kesadaran kolektif dalam memanfaatkan peluang secara berkelanjutan.
Kolaborasi antara masyarakat, pelaku usaha, dan pemanfaatan teknologi menjadi kunci utama dalam menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif di tingkat desa. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan dampak positif yang luas. Ini juga memperkuat fondasi ekonomi lokal melalui inovasi dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.
Peran Penting Ekonomi Kreatif Lokal dalam Pemberdayaan
Ketua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan pentingnya pengembangan ekonomi kreatif yang melibatkan masyarakat lokal. Inisiatif ini merupakan langkah strategis untuk mendorong kemandirian dan pemberdayaan. Fokus pada potensi lokal menjadi landasan utama dalam program ini, memastikan relevansi dan keberlanjutan.
Muzani menilai bahwa pengembangan ini akan menumbuhkan kesadaran kolektif di tengah masyarakat. Masyarakat akan lebih memahami cara meningkatkan keberhasilan dan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar mereka. Hal ini menciptakan dampak positif jangka panjang bagi komunitas, memperkuat fondasi ekonomi dari bawah.
Kolaborasi antara berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan dalam ekosistem ini. Masyarakat, pelaku usaha, dan pemanfaatan teknologi harus bersinergi secara optimal. Tujuannya adalah membangun ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif di tingkat desa, memastikan semua pihak mendapatkan manfaat.
Ethos Digital Valley: Pusat Inovasi Ekonomi Kreatif Banyumas
Chairman PT Ethos Kreatif Indonesia, Mukit Hendrayatno, menjelaskan tentang Ethos Digital Valley. Kawasan seluas sekitar dua hektare ini, yang sebelumnya merupakan kebun, kini telah dikembangkan menjadi pusat aktivitas ekonomi kreatif. Lokasinya strategis di Dusun Gewok, Desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang, Banyumas.
Ethos Digital Valley dirancang sebagai ruang kolaborasi yang inklusif bagi berbagai elemen masyarakat. Pegiat seni, aktivis sosial, hingga generasi muda menjadi penggerak utama industri kreatif di sini. Gedung manajemen kawasan ini mengelola sekitar 1.400 anak muda, dengan 85 persen di antaranya merupakan Generasi Z yang aktif terlibat dalam industri kreatif.
Fasilitas di kawasan ini sangat lengkap, mencakup ruang interaksi komunitas dan pendopo bersejarah dari Keraton Surakarta. Selain itu, terdapat rencana pembangunan masjid dan pusat inkubasi teknologi. Semua fasilitas ini bertujuan mendukung pengembangan sumber daya manusia di bidang kreatif.
Konsep ekonomi kerakyatan diusung dengan melibatkan petani dan peternak, didukung penuh oleh teknologi digital. Pihak Ethos Digital Valley juga menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan global seperti Meta dan TikTok. Kemitraan ini bertujuan memperluas akses pasar serta meningkatkan daya saing produk kreatif lokal.
Sinergi Ekonomi dan Sosial untuk Kesejahteraan Komunitas
Selain fokus pada pengembangan ekonomi, Ethos Digital Valley juga mengintegrasikan program sosial dalam ekosistemnya. Program papan sedekah sayur, yang diinisiasi oleh Yayasan Rintisan Amal Bunda (lembaga amal yang dikelola Ethos Group), menjadi bagian penting dari pendekatan ini. Program ini telah mendistribusikan manfaat kepada sekitar 31 ribu penerima.
Program sosial ini merupakan bagian integral dari ekosistem yang dibangun untuk menciptakan pendekatan holistik dalam pemberdayaan masyarakat. Integrasi ini menunjukkan komitmen kuat terhadap kesejahteraan komunitas lokal. Hal ini juga menciptakan dampak sosial yang positif dan berkelanjutan.
Mukit Hendrayatno berharap integrasi antara ekonomi kreatif dan kegiatan sosial ini dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat. Dampaknya diharapkan mampu memperkuat ketahanan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan warga desa. Sinergi ini menciptakan model pembangunan yang komprehensif dan berkesinambungan.
Sumber: AntaraNews