Pembangunan Data Center Sebaiknya Tak Bertumpu di Jakarta dan Batam, Ini Alasannya
Lokasi pembangunan data center saat ini kebanyakan masih di Jakarta dan Batam. Padahal, ada tempat menarik untuk membangun di luar wilayah itu.
Direktur Kebijakan dan Strategi Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi, Denny Setiawan, menegaskan bahwa arah pembangunan data center tidak bisa lagi hanya bertumpu di Jakarta, Cikarang, atau Batam.
Menurutnya, pembangunan pusat data baru sebaiknya tersebar di tiga kawasan besar Indonesia: Barat, Tengah, dan Timur.
Penyebaran ini penting agar layanan digital dapat menjangkau seluruh wilayah dengan latensi rendah dan efisiensi tinggi.
"Di lihat dari lokasinya, pembangunan data center baru saat ini perlu diarahkan agar tersebar di wilayah Barat, Tengah, dan Timur Indonesia, tidak hanya terpusat di Batam dan Jakarta/Cikarang," ujar Denny di acara ‘Focus Group Discussion/FGD: Peluang dan Tantangan Bisnis Data Center di Indonesia’, Jakarta, Jumat (29/8).
Lokasi Ideal
Ia menambahkan, lokasi ideal sebaiknya berada dekat dengan titik pendaratan sistem komunikasi kabel laut (SKKL).
Keberadaan SKKL akan meminimalkan latensi data sehingga performa layanan digital dapat bersaing dengan hub lain di Asia Tenggara.
Selain faktor lokasi, Denny juga menyoroti kebutuhan pasokan energi. Meski PLN memiliki surplus listrik, tarif untuk pusat data masih masuk kategori bisnis, bukan industri.
Hal ini dinilai kurang kompetitif jika dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Ditambah lagi, ketersediaan energi hijau menjadi daya tarik utama bagi investor global.
"Data yang terintegrasi akan memberikan peta jalan yang lebih terarah untuk pengembangan di masa depan," ucap Denny.
Usulan Menarik
Hendra Suryakusuma sepakat dengan rencana itu. Bahkan, Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) ini berharap pemerintah lebih memperhatikan perkembangan Indonesia bagian Timur yang punya potensi investasi besar data center.
Sayangnya, harus diakui di sana masih kekurangan dukungan infrastruktur memadai.
"Indonesia Timur memerlukan infrastruktur yang lebih memadai, antara lain pembenahan kabel fiber optik. Ini penting buat menunjang operasional data center," ungkap Hendra.
Chief Cloud Officer Lintasarta, Gidion Suranta Barus mengungkapkan hal senada. Katanya, distribusi pusat data masih terkonsentrasi di Jakarta. Setidaknya kurang lebih 55 persen, sehingga menciptakan beban risiko dan menghambat pemerataan.
“Kami ingin berkomitmen untuk memperluas footprint backbone connectivity dengan keandalan high bandwidth, low latency, dan high availability ke pusat data di wilayah strategis lain agar pertumbuhan lebih merata,” ucap Gidion.
Kapasitas Data Center
Laporan Structure Research menyebut Indonesia seharusnya punya kapasitas data center hingga 2.700 megawatt (MW).
Sayangnya, masih 500 MW. Walau belum ada setengahnya, Republik ini sudah berada di peringkat kedua terbesar di Asia Tenggara.
Kapasitas yang tersedia tersebut tentu masih akan terus berkembang dan tantangan Indonesia adalah agar dapat benar-benar menjadi hub data center di Asia Tenggara.