DSSA Perkuat Transisi Energi dan Konektivitas Digital Indonesia dengan Inovasi Berkelanjutan

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menegaskan komitmennya mendukung transisi energi dan konektivitas digital Indonesia melalui adopsi EBT, praktik pertambangan berkelanjutan, serta perluasan infrastruktur AI yang cerdas dan efisien.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
DSSA Perkuat Transisi Energi dan Konektivitas Digital Indonesia dengan Inovasi Berkelanjutan
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menegaskan komitmennya mendukung transisi energi dan konektivitas digital Indonesia melalui adopsi EBT, praktik pertambangan berkelanjutan, serta perluasan infrastruktur AI yang cerdas dan efisien. (AntaraNews)

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berkomitmen penuh mendukung kebutuhan transisi energi dan konektivitas digital di Indonesia. Komitmen ini diwujudkan melalui sinergi infrastruktur digital dan transisi energi yang bertanggung jawab. Perusahaan ini berupaya mempercepat adopsi energi baru dan terbarukan (EBT) serta mengembangkan infrastruktur digital melalui solusi AI dan pemerataan akses informasi.

Wakil Presiden Direktur DSSA, Lokita Prasetya, menyatakan bahwa perseroan terus memperkuat operational excellence dengan praktik yang lebih hijau, efisien, dan berkelanjutan. Ini termasuk peningkatan efisiensi, optimalisasi energi, digitalisasi operasional, serta pengurangan emisi dan limbah secara terukur.

Pengumuman ini disampaikan di Jakarta pada Kamis, 3 April, menegaskan peran DSSA sebagai pemain kunci dalam mendorong keberlanjutan dan inovasi digital di tanah air. Melalui inisiatif ini, DSSA berambisi menjadi enabler sekaligus beneficiary dari pertumbuhan adopsi AI di Indonesia.

DSSA menunjukkan komitmennya terhadap transisi energi melalui berbagai inisiatif konkret. Salah satunya adalah akselerasi elektrifikasi armada operasional (EV fleets) di PT Borneo Indobara (BIB). Implementasi ini berhasil memangkas biaya operasional secara signifikan sekaligus memelopori transisi menuju green mining di sektor pertambangan.

Dalam portofolio Energi Baru dan Terbarukan (EBT), perseroan mengoperasikan pabrik panel surya terintegrasi berkapasitas 1 gigawatt (GW) di KEK Kendal. Ini menunjukkan keseriusan DSSA dalam mendukung energi bersih dan menciptakan bauran energi yang lebih seimbang.

Selain itu, DSSA juga aktif dalam pengembangan proyek panas bumi melalui PT DSSR Daya Mas Sakti. Dengan potensi mencapai 440 megawatt (MW), perseroan kini tengah mengakselerasi eksplorasi di enam wilayah strategis. Wilayah tersebut meliputi Cisolok dan Cipanas di Jawa Barat, hingga Sumatera, Flores, serta Sulawesi Tengah.

Untuk memperkuat kapabilitas teknis dan operasional di bidang panas bumi, DSSA menjalin kemitraan strategis. Kemitraan ini dilakukan dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia, anak usaha Energy Development Corporation (EDC), yang membawa keahlian global ke proyek-proyek domestik.

Di sektor infrastruktur digital, DSSA memperkuat bisnisnya melalui kemitraan strategis dengan iFLYTEK. Kemitraan ini bertujuan mengakselerasi transformasi digital berbasis AI di Indonesia. Ini termasuk pengembangan berbagai solusi AI (AI use-case) dan kapabilitas analitik berbasis LLM (Large Language Model) SPARK.

Sinergi tersebut dirancang untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih cerdas dan efisien di berbagai sektor industri. Sektor-sektor yang menjadi fokus utama meliputi kesehatan, pendidikan, serta telekomunikasi dan infrastruktur digital. CEO PT DSST Mas Gemilang (DSST), Marlo Budiman, menyoroti pertumbuhan kebutuhan data dan konektivitas sebagai pendorong utama pengembangan bisnis digital.

Saat ini, perseroan telah mengoperasikan jaringan fiber optik sepanjang sekitar 57.000 km. Jaringan ini menjangkau lebih dari 9 juta homepass dan melayani sekitar 1 juta pelanggan broadband melalui MyRepublic Indonesia. Penguatan infrastruktur digital juga didukung oleh pengembangan jaringan data center nasional.

Jaringan data center ini mencakup 24 Edge Data Center yang tersebar di 23 pasar strategis, dari Medan hingga Manado. Keberadaan edge data center ini memastikan pemrosesan data dengan latensi rendah, krusial untuk aplikasi AI dan konektivitas cepat.

DSSA terus melihat peluang pasar yang sangat besar di Indonesia, terutama dalam pemerataan penetrasi digital. Sekitar 50 juta masyarakat masih belum terlayani internet secara optimal, menunjukkan potensi pasar yang luas. Potensi pasar telekomunikasi nasional sendiri diperkirakan mencapai sekitar 29 miliar dolar AS.

Selain itu, pasar fixed broadband diproyeksikan akan tumbuh sekitar 10 persen setiap tahun dalam beberapa tahun ke depan. Untuk menjawab kebutuhan ini, perseroan tengah menyiapkan Flagship Hub Jakarta SMX01. Fasilitas Tier-IV AI-ready ini berkapasitas awal 18 MW dan berlokasi di pusat CBD Jakarta.

Flagship Hub Jakarta SMX01 dijadwalkan mulai beroperasi pada semester II 2026, menandai langkah besar dalam mendukung infrastruktur AI. Direktur DSSA, David Audy, memproyeksikan masa depan Indonesia akan banyak mengadopsi kecerdasan buatan (AI). Adopsi AI ini akan ditopang oleh dua fondasi utama.

Fondasi tersebut adalah energi yang andal dan infrastruktur konektivitas digital yang merata. Oleh karena itu, DSSA membangun keduanya secara terintegrasi, menjaga keandalan pasokan energi saat ini, sekaligus mempercepat pengembangan portofolio energi rendah emisi seperti panas bumi. Dengan fondasi tersebut, perseroan berada pada posisi strategis sebagai enabler sekaligus beneficiary dari pertumbuhan adopsi AI di Indonesia.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi