Microsoft Pecat Dua Karyawan yang Protes Kontrak AI dengan Militer Israel
Insiden ini terjadi saat perayaan yang dihadiri pendiri Microsoft Bill Gates dan mantan CEO Steve Ballmer.
Microsoft resmi memecat dua karyawannya yang memprotes kontrak teknologi perusahaan dengan militer Israel dalam sebuah acara ulang tahun ke-50 perusahaan.
Insiden ini terjadi saat perayaan yang dihadiri pendiri Microsoft Bill Gates dan mantan CEO Steve Ballmer, ketika kedua karyawan menyuarakan penolakan terhadap keterlibatan Microsoft dalam penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk kepentingan militer.
Insinyur perangkat lunak Ibtihal Aboussad menjadi pusat perhatian saat mendekati panggung ketika CEO Microsoft AI, Mustafa Suleyman, sedang berbicara.
Mengutip AP, Kamis (10/4), ia menuduh Microsoft menjual teknologi AI ke militer Israel, lalu melemparkan syal keffiyeh ke arah panggung sebelum dikawal keluar.
Aksi serupa juga dilakukan oleh Vaniya Agrawal, yang dalam momen terpisah menuduh pimpinan Microsoft munafik dan menuntut pemutusan hubungan perusahaan dengan Israel.
Tak lama setelah peristiwa tersebut, Microsoft mengirim surat pemecatan kepada Aboussad, menuduhnya melakukan gangguan yang disengaja dan menciptakan kekacauan dalam acara resmi perusahaan.
Surat itu menyebutkan bahwa tindakan Aboussad bersifat agresif dan tidak menunjukkan penyesalan. Sementara itu, Agrawal, yang sebelumnya telah mengajukan pengunduran diri efektif pada 11 April, diberitahu bahwa pengunduran dirinya dipercepat dan berlaku segera.
Protes ini muncul menyusul laporan dari Associated Press yang mengungkap bahwa teknologi AI milik Microsoft dan mitranya, OpenAI, digunakan oleh militer Israel dalam sistem penentuan target serangan udara selama konflik di Gaza dan Lebanon.
Kelompok aktivis internal bernama “No Azure for Apartheid” mendukung protes kedua karyawan tersebut, dan menekankan meningkatnya keresahan di antara karyawan teknologi terhadap keterlibatan perusahaan dalam proyek-proyek militer yang kontroversial.
Keputusan Microsoft memecat dua karyawannya menuai reaksi beragam, memicu perdebatan mengenai batasan kebebasan berekspresi karyawan dan tanggung jawab perusahaan teknologi dalam konflik bersenjata global.