Komdigi: Anak Tak Cukup Diberi Internet, tapi Butuh Pendampingan
Guru menjadi garda utama dalam melindungi anak dari ancaman hoaks, scam digital, hingga manipulasi informasi berbasis AI yang semakin marak di internet.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komunikasi dan Digital, Boni Pudjianto mengingatkan ancaman informasi palsu, penipuan digital, dan konten berbasis kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) semakin sulit dikenali. Oleh karena itu, guru dan orang tua perlu aktif mendampingi anak di ruang digital.
Menurutnya, guru menjadi garda utama dalam melindungi anak dari ancaman hoaks, scam digital, hingga manipulasi informasi berbasis AI yang semakin marak di internet.
"Bapak/Ibu guru harus membagikan kepada anak didik mengenai bagaimana kita bisa membedakan hal-hal positif dan negatif, khususnya informasi yang tidak benar," jelasnya dalam acara Literasi Digital Hari Pendidikan Nasional di Garuda Spark Innovation Hub, Jakarta Pusat, Senin (25/5).
Ia juga menambahkan bahwa peran guru tidak hanya sekadar menyampaikan ilmu, tetapi menjadi pendamping dan pembentuk karakter anak dalam menghadapi dinamika di era digital.
"Guru menjadi pemegang kunci utama atau peran pokok yang sangat strategis. Guru bukan hanya menyampaikan ilmu pengetahuan, tapi juga pendamping dan pembentuk karakter anak dalam menghadapi dinamika di era digital," lanjutnya.
Bangun Budaya Digital Sehat
Boni berharap pendampingan para guru mampu membangun budaya digital yang sehat, etis, dan bertanggung jawab untuk mewujudkan ruang digital yang aman dan inklusif.
"Inklusifitas bukan hanya menghadirkan konektivitas atau akses, tetapi juga memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berpartisipasi, berekspresi, dan terlindungi di ruang digital,” ujar Boni.
Boni menegaskan transformasi digital harus berjalan berdampingan dengan upaya pelindungan anak di ruang digital yang inklusif, ramah anak, dan berkeadilan serta menjaga nilai-nilai empati, kesetaraan, dan keberpihakan kepada masyarakat.