Klub Sepak Bola China Didenda karena Taruh Jimat Di Ruang Ganti Lawan
Sebuah klub sepak bola di China ketahuan menaruh jimat di ruang ganti lawannya. Mereka kena denda.
Changchun Xidu FC, tim yang bermain di China League Two, didenda 30.000 yuan (sekitar Rp 66 juta) setelah ketahuan meletakkan jimat kertas di ruang ganti tim lawan demi meningkatkan peluang kemenangan mereka.
Insiden itu terjadi sebelum laga melawan Shanxi Chongde Ronghai pada 28 Juni lalu. Foto-foto yang beredar luas di media sosial China memperlihatkan kertas kuning dengan tulisan seperti: “Dengan titah ini, Shanxi Chongde Ronghai harus dikalahkan.”
Jimat kertas semacam itu dikenal sebagai fu, bagian dari praktik Taoisme yang dipercaya bisa memanggil energi roh untuk mendatangkan keberuntungan. Namun, penggunaan jimat juga bisa dipakai untuk mencelakakan atau mendatangkan kesialan bagi orang lain.
Mengutip OddityCentral, Rabu (16/7), menurut Liga Sepak Bola Profesional China (CFL), investigasi membuktikan bahwa Changchun Xidu FC dengan sengaja meletakkan “barang-barang takhayul feodal” untuk meningkatkan peluang mereka meraih kemenangan.
Atas pelanggaran itu, mereka dijatuhi denda 30.000 yuan, dengan CFL berjanji akan “menangani dengan tegas dan serius segala pelanggaran aturan dan disiplin sesuai Kode Etik dan Disiplin.”
Menariknya, meski menuai kontroversi, Changchun Xidu FC tetap menang 2-0 atas Shanxi Chongde Ronghai pada pertandingan tersebut. Kemenangan itu mengokohkan posisi mereka di peringkat kedua klasemen Liga Dua China. Namun sorotan publik lebih tertuju pada cara-cara licik yang digunakan di balik kemenangan itu.
Kontroversi semakin memanas setelah laporan menyebut bahwa ini bukan kali pertama tim tamu menemukan jimat serupa di ruang ganti saat bermain melawan Xidu FC. Dugaan pola penggunaan jimat berulang kali ini memicu kritik keras, termasuk dari penggemar sepak bola di China yang menilai tindakan tersebut memalukan dan tak sportif.
Dalam pernyataan resmi, CFL menegaskan kembali komitmen untuk membersihkan kompetisi dari unsur takhayul dan praktik tidak etis lainnya. “Sepak bola profesional harus menjunjung sportivitas dan integritas,” demikian kutipan pernyataan liga. Mereka mengingatkan semua klub untuk menaati aturan dengan ketat dan menjauhi cara-cara yang menodai citra olahraga.
Sementara itu, di media sosial China, debat soal praktik takhayul di olahraga pun kembali mencuat. Sebagian netizen menilai penggunaan fu mencerminkan masih kuatnya kepercayaan pada hal-hal mistik di kalangan masyarakat, termasuk di dunia olahraga profesional. Namun banyak pula yang menegaskan bahwa membawa unsur mistik ke pertandingan resmi adalah bentuk penipuan pada penggemar dan lawan.
Selain itu, insiden ini juga memancing diskusi lebih luas tentang bagaimana federasi olahraga perlu menerapkan aturan lebih ketat untuk menindak semua bentuk kecurangan, termasuk yang bersifat ritual atau mistis. Bagi banyak pengamat, skandal jimat Changchun Xidu FC jadi pengingat bahwa tantangan menjaga fair play tak hanya datang dari doping atau pengaturan skor, tapi juga dari praktik-praktik non-ilmiah yang mencoba memengaruhi hasil di luar jalur semestinya.
Dengan sanksi yang sudah dijatuhkan, CFL berharap kasus ini bisa jadi pelajaran untuk semua klub di liga agar lebih menjunjung nilai sportivitas. Namun publik menanti untuk melihat apakah langkah ini cukup efektif menghentikan penggunaan taktik serupa di masa depan.