Ikat Kepala ini Disebut Bisa Kontrol Mimpi Penggunanya
Berikut cara kerja alat pengontrol mimpi besutan startup AS.
Berikut cara kerja alat pengontrol mimpi.
Ikat Kepala ini Disebut Bisa Kontrol Mimpi Penggunanya
Bagaimana jika Anda tidur mimpi bisa dikontrol?
Ya, Anda bebas mengontrol mimpi dalam tidur. Ini yang sedang dikerjakan oleh startup Amerika Serikat (AS) bernama Prophetic.
Startup ini akan mengembangkan sebuah ikat kepala bernama Halo yang mampu mengontrol mimpi.
Mengutip ScienceFocus, Selasa (9/1), alat ini dijadwalkan akan dirilis pada 2025. Tujuan dari dibuatnya teknologi ini ialah ingin lebih banyak mendapatkan mimpi yang sadar di mana penggunanya sadar bahwa ia sedang bermimpi.
Lantas, bagaimana alat ini bekerja?
Pendekatan yang diambil oleh tim di balik perangkat Halo ada dua arah. Pertama, mereka menggunakan EEG (elektroensefalografi) dan fMRI (pencitraan resonansi magnetik fungsional).
Tujuannya untuk mengumpulkan sejumlah besar data otak dari sukarelawan yang mengalami mimpi sadar.
Idenya adalah untuk membuat peta secara rinci tentang apa yang terjadi di otak selama berbagai jenis lucid dream atau mimpi yang sadar.
Seperti teknik stimulasi otak non-invasif lainnya, TUS dapat mengubah fungsi otak. Namun alih-alih menggunakan medan magnet atau arus listrik, ini melibatkan penggunaan suara berfrekuensi tinggi.
Keunggulan TUS ialah mencakup kemampuan menjangkau area otak yang lebih dalam (termasuk area yang terlibat dalam fungsi tidur) dan meningkatkan akurasi anatomi.
Alasan dasar di balik produk Halo ini tidaklah terlalu mengada-ada. Dalam penelitian sebelumnya, para ilmuwan telah menetapkan bahwa lucid dream cenderung dikaitkan dengan aktivitas otak frontal dalam frekuensi gamma (yaitu frekuensi penembakan kelompok neuron yang direkam oleh EEG).
Mereka juga menemukan bahwa stimulasi listrik otak dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas otak orang yang tidur dalam frekuensi gamma.
Sehingga dapat meningkatkan peluang mereka untuk mengalami kejernihan mimpi.
Diperkirakan alat Halo ini dibanderol hingga USD 2.000 atau sekitar Rp 31 jutaan.
Bagaimana tertarik?