Grok AI Elon Musk Picu Kontroversi Gara-gara Konten Vulgar
Pengguna yang ingin memakai karakter ini harus memilih (opt-in) di pengaturan aplikasi.
Chatbot AI buatan perusahaan xAI milik Elon Musk kembali menuai kecaman setelah meluncurkan dua karakter animasi pendamping yang dinilai mendorong percakapan seksual eksplisit dan kekerasan.
Fitur anyar Grok ini memicu protes keras dari kelompok advokasi anti-eksploitasi seksual yang menilai desainnya berbahaya dan tidak pantas.
Dua karakter baru bernama Ani dan Bad Rudi menjadi sorotan tajam. Ani digambarkan sebagai gadis anime Jepang yang bisa merespons rayuan pengguna hingga tampak membuka pakaian dalam interaksi berbasis teks.
Bad Rudi, seekor panda merah, dikenal melontarkan hinaan vulgar, menyusun rencana kriminal seperti mencuri kapal pesiar, menggulingkan Paus, bahkan meracuni pasokan air dengan saus pedas dan glitter.
Mengutip NBC, Rabu (16/7), fitur ini diakses melalui opsi "Companions" pada layanan Grok. Pengguna yang ingin memakai karakter ini harus memilih (opt-in) di pengaturan aplikasi. Versi “vulgar” Bad Rudi memerlukan aktivasi tambahan, sementara versi default-nya lebih ramah keluarga dengan nama Rudi.
Elon Musk melalui akun X (dulu Twitter) menyebut peluncuran ini masih berupa “soft launch” dan berencana membuka akses lebih luas dalam beberapa hari mendatang.
Desakan Penghapusan Karakter
Peluncuran Ani menuai protes khusus dari National Center on Sexual Exploitation (NCOSE), organisasi nirlaba di Amerika Serikat yang menentang pornografi. Dalam pernyataan pada Selasa waktu setempat, NCOSE mendesak xAI menghapus Ani dari layanan Grok.
“Karakter yang dipenuhi unsur pornografi ini bukan hanya menumbuhkan objektifikasi seksual terhadap perempuan dan anak perempuan, tapi juga menanamkan rasa berhak secara seksual pada pengguna,” kata Haley McNamara, Wakil Presiden Senior NCOSE.
Kelompok itu menilai desain Ani yang bergaya anime dengan kesan muda bisa memicu fetishisasi karakter mirip anak-anak. Hingga berita ini diterbitkan, pihak xAI belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar terkait kontroversi tersebut.
Fitur Companions bahkan menuai pengakuan sinis dari dalam tim xAI sendiri. Ebby Amir, seorang karyawan xAI, menulis di X bahwa peluncuran fitur itu bukan didorong permintaan pengguna.
"Literally no one asked us to launch waifus, but we did so anyway," tulis Amir, memakai istilah “waifu” yang lazim dipakai untuk karakter perempuan anime dengan konotasi romantis atau seksual.
Komentar itu menambah kritik bahwa xAI meluncurkan fitur kontroversial tanpa mempertimbangkan etika dan masukan pengguna.