Epstein Files: Bill Gates Tertular Penyakit Seksual dari Cewek Rusia, Elon Musk Mau Pesta di Pulau Pribadi
Email-email itu menjadi bagian dari kumpulan berkas terbaru terkait penyelidikan federal terhadap Epstein.
Departemen Kehakiman Amerika Serikat merilis draf email pada Jumat yang ditulis oleh mendiang terpidana kasus kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Dalam dokumen tersebut muncul sejumlah klaim yang belum diverifikasi, termasuk tudingan yang menyeret nama pendiri Microsoft, Bill Gates, Elon Musk, serta beberapa tokoh ternama lainnya.
Email-email itu menjadi bagian dari kumpulan berkas terbaru terkait penyelidikan federal terhadap Epstein. Salah satu dokumen memuat tuduhan bahwa Gates tertular penyakit menular seksual dari “gadis-gadis Rusia” saat berkunjung ke pulau pribadi Epstein, Little Saint James.
Masih berdasarkan draf email yang ditulis Epstein, miliarder teknologi tersebut disebut-sebut berupaya mencari antibiotik secara diam-diam tanpa sepengetahuan istrinya setelah kejadian itu. Tuduhan tersebut muncul dalam catatan yang ditulis Epstein untuk dirinya sendiri pada Juli 2013 dan ditujukan kepada “Bill”.
Sebut Bill Gates Memintanya Mendapatkan Antibiotik
Dalam email tersebut, Epstein menuduh Gates memintanya untuk mendapatkan “antibiotik” yang dapat diberikan “secara diam-diam” kepada istrinya saat itu, Melinda Gates, di tengah kekhawatiran bahwa ia telah tertular penyakit menular seksual (PMS) setelah berhubungan dengan gadis-gadis Rusia.
“Selama beberapa minggu terakhir saya terlibat dalam perselisihan rumah tangga yang serius antara Melinda dan Bill,” tulis Epstein dalam email tersebut dikutip dari Anadolu Ajansi, Selasa (3/2/2026).
Epstein juga mengklaim dirinya bertindak sebagai “tangan kanan” Gates dan beberapa kali diminta melakukan tindakan yang menurutnya “tidak pantas secara moral” dan “tidak etis,” bahkan terkadang “mendekati dan berpotensi melampaui batas hingga ilegal.”
“Mulai dari membantu Bill mendapatkan narkoba, untuk mengatasi konsekuensi berhubungan seks dengan gadis-gadis Rusia, hingga memfasilitasi pertemuan rahasianya dengan wanita yang sudah menikah, hingga diminta menyediakan Adderall untuk turnamen bridge. Saya merasa berutang budi kepada teman-teman dan calon kolega saya untuk mengakui kegagalan moral, meminta maaf, dan melanjutkan hidup saya,” tulis Epstein.
Jubir Bill Gates Membantah
Namun, hingga kini belum ada kejelasan apakah pesan-pesan tersebut pernah benar-benar dikirim kepada Gates atau hanya berupa catatan pribadi Epstein. Validitas tuduhan itu juga belum terverifikasi.
Sementara itu, Juru Bicara Gates membantah berkas Epstein itu.
“Klaim-klaim ini sama sekali tidak masuk akal dan sepenuhnya salah,” kata seorang juru bicara Gates seperti dikutip oleh beberapa media.
Gates sendiri sebelumnya mengakui pernah bertemu Epstein, tetapi menyebut pertemuan tersebut sebagai “kesalahan besar.”
Email-email itu merupakan bagian dari lebih dari 3 juta dokumen hasil investigasi federal terhadap Epstein, yang meninggal di penjara pada 2019 saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks.
Elon Musk dan Pulau Pribadi Epstein
Sementara itu, email antara pendiri Tesla, Elon Musk, dan Jeffrey Epstein mengungkap bahwa Musk beberapa kali berupaya menjadwalkan kunjungan ke pulau pribadi Epstein di kawasan Karibia pada periode 2012 hingga 2013. Upaya tersebut terjadi bertahun-tahun setelah Epstein dihukum atas kasus meminta layanan prostitusi dari anak di bawah umur.
Dalam salah satu percakapan pada 2012, Musk bahkan menanyakan suasana acara di pulau tersebut dengan kalimat, “Hari/malam apa yang akan menjadi pesta paling meriah di pulau Anda?”. Demikian dikutip dari Aljazeera.
Dokumen yang dirilis menunjukkan sempat ada rencana pertemuan pada 2013. Namun, agenda itu tampaknya batal karena kendala jadwal dari pihak Epstein. Meski begitu, rangkaian email tersebut tidak memberikan bukti bahwa Musk benar-benar pernah mengunjungi pulau itu.
Korespondensi ini sekaligus membantah klaim Musk sebelumnya yang menyatakan bahwa dirinya secara tegas menolak undangan Epstein sejak awal.
Tanggapan Elon Musk
Menanggapi beredarnya dokumen tersebut, Musk angkat bicara melalui platform media sosial X miliknya. Ia mengakui bahwa komunikasi emailnya dengan Epstein berpotensi disalahartikan.
“Saya sangat menyadari bahwa beberapa korespondensi email dengannya dapat disalahartikan dan digunakan oleh para pencela untuk mencemarkan nama baiknya,” tulisnya.
Ia juga menegaskan dukungannya terhadap keterbukaan dokumen penyelidikan.
“Tidak ada yang lebih gigih dari saya dalam mendorong agar berkas-berkas Epstein dirilis, dan saya senang hal itu akhirnya terjadi,” tulis Musk.
“Saya hanya sedikit berkorespondensi dengan Epstein dan menolak undangan berulang kali untuk pergi ke pulaunya atau terbang dengan 'Lolita Express' miliknya,” sambungnya.
Selain dua nama besar tersebut, berkas-berkas yang dirilis juga memuat dokumen yang menyebut Presiden AS Donald Trump, meski detail keterkaitannya tidak dijelaskan lebih lanjut dalam dokumen yang dipublikasikan.
Para Pelaku Pelecehan Masih 'Tersembunyi dan Terlindungi'
Di sisi lain, pengungkapan dokumen terbaru ini belum sepenuhnya menjawab tuntutan para penyintas dugaan pelecehan Epstein. Sejumlah korban menilai masih banyak pihak yang belum tersentuh pertanggungjawaban hukum.
Sebanyak 19 korban selamat, beberapa menggunakan nama samaran atau inisial, merilis pernyataan bersama. Mereka menyebut informasi tentang identitas dan pengalaman mereka masih tersimpan dalam berkas resmi, sementara pihak yang diduga melakukan pelecehan justru belum terungkap.
Menurut mereka, data korban tetap tertahan, "sementara para pria yang melecehkan kami tetap tersembunyi dan terlindungi."
Kelompok tersebut menuntut "pelepasan penuh berkas Epstein" serta meminta Jaksa Agung Pam Bondi secara langsung membahas persoalan itu saat memberikan kesaksian di hadapan Kongres bulan depan.
Dorongan transparansi itu sejalan dengan Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein yang ditandatangani Presiden Donald Trump pada 19 November. Aturan tersebut mewajibkan seluruh dokumen terkait Epstein yang disimpan Departemen Kehakiman dipublikasikan paling lambat 19 Desember.
Wakil Jaksa Agung Todd Blanche menyatakan bahwa rilis dokumen pada Jumat lalu “menandai akhir dari proses identifikasi dan peninjauan dokumen yang sangat komprehensif”. Ia menjelaskan, keterlambatan publikasi terjadi karena proses penyuntingan untuk melindungi identitas lebih dari 1.000 korban yang diduga terkait kasus Epstein.