Kronologi Kasus Perdagangan Seks Jeffrey Epstein yang Melibatkan Donald Trump
Presiden AS Donald Trump belakangan terus menjadi sorotan publik terutama dalam kaitannya dengan kasus Jeffrey Epstein.
Hubungan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan terpidana kasus perdagangan seks, Jeffrey Epstein, kembali menjadi sorotan publik. Interaksi mereka yang telah terjalin sejak era 1980-an hingga awal 2000-an kini terus memicu spekulasi dan kontroversi yang berkelanjutan.
Jeffrey Edward Epstein (1953–2019) adalah seorang pemodal Amerika Serikat dan juga mantan guru yang terkenal karena kasus kejahatan seksual dan perdagangan anak di bawah umur.
Sumber kekayaan Epstein tidak sepenuhnya jelas tapi dia memiliki jaringan sosial yang luas dengan tokoh-tokoh berpengaruh, termasuk politisi, selebritas, dan bangsawan.
Berbagai pertemuan dan pujian yang pernah dilontarkan Trump kepada Epstein menjadi titik awal pertanyaan. Meskipun demikian, Trump secara konsisten membantah keterlibatannya dalam aktivitas kriminal Epstein, menegaskan bahwa hubungan mereka telah lama berakhir sebelum kasus-kasus hukum muncul.
=
Kronologi Kasus Epstein
Dilansir Aljazeera, pada 2005 polisi di Palm Beach, Florida, menyelidiki laporan seorang gadis 14 tahun yang mengaku dilecehkan oleh Epstein.
Pada 2006 polisi mengidentifikasi lebih dari 30 korban remaja. Epstein hanya mengaku bersalah atas dua dakwaan ringan (pelacuran) dan dihukum 13 bulan penjara (dengan izin keluar kantor 6 hari seminggu).
Pada Juli 2019 Epstein ditangkap di Bandara Teterboro, New Jersey atas tuduhan perdagangan seks anak di bawah umur di New York dan Florida antara 2002–2005.
Dalam penggerebekan rumah mewahnya ditemukan ribuan foto perempuan muda, dokumen rahasia, dan catatan penerbangan.
Jaksa menduga dia memelihara jaringan perekrutan gadis-gadis muda yang dijadikan budak seks untuk dirinya dan tamu-tamunya.
Kematian misterius
Pada 10 Agustus 2019 Jeffrey Epstein ditemukan tewas di sel penjara federal di Manhattan, diduga gantung diri.
Namun, banyak pihak meragukan itu adalah bunuh diri karena:
Kamera pengawas rusak, penjaga tertidur dan laporan forensik independen menyebut luka-luka tidak khas bunuh diri.
Kasus ini memunculkan banyak teori konspirasi bahwa dia "dibungkam" karena tahu terlalu banyak tentang elite dunia.
Hubungan Epstein dan Trump
Awal Hubungan (Akhir 1980-an–1990-an):
Donald Trump dan Jeffrey Epstein mulai menjalin hubungan pada akhir 1980-an. Pada 2002, Trump mengatakan dalam wawancara dengan New York Magazine bahwa ia telah mengenal Epstein selama 15 tahun, menyebutnya "pria hebat" dan "sangat menyenangkan," serta menyatakan bahwa Epstein menyukai wanita cantik, banyak di antaranya berusia lebih muda.
Kedekatan mereka terlihat dari kehadiran bersama di acara sosial, termasuk pesta di Mar-a-Lago, resor milik Trump di Florida. Pada November 1992, Trump mengadakan pesta dengan pemandu sorak NFL di Mar-a-Lago, di mana Epstein hadir.
Video dari 1992 menunjukkan Trump dan Epstein berpesta bersama di Mar-a-Lago, menunjukkan kedekatan mereka saat itu.
Dokumen Epstein dan Kontroversi Trump (2024–2025)
Januari 2024: Dokumen pengadilan terkait kasus Epstein dirilis, menyebutkan nama Trump bersama tokoh lain seperti Bill Clinton dan Pangeran Andrew. Namun, tidak ada tuduhan pelanggaran hukum terhadap Trump dalam dokumen ini. Saksi Johanna Sjoberg menyebutkan bahwa Epstein pernah mengatakan akan menghubungi Trump saat pesawat mereka dialihkan ke Atlantic City, tetapi Sjoberg menegaskan ia tidak pernah memijat Trump.
Juni 2025: Elon Musk menuding Trump terkait erat dengan dokumen Epstein melalui media sosial, memicu spekulasi baru. Anggota DPR AS dari Partai Demokrat, seperti Dan Goldman, Ted Lieu, Robert Garcia, dan Stephen Lynch, meminta dokumen Epstein diungkap sepenuhnya, mencurigai Jaksa Agung Pam Bondi melindungi Trump.
Juli 2025: The Wall Street Journal melaporkan adanya surat ulang tahun dari Trump untuk Epstein pada 2003, yang diduga berisi gambar wanita telanjang dan ucapan “rahasia indah.” Trump membantah menulis surat tersebut, menyebutnya palsu, dan menggugat WSJ, pemiliknya Rupert Murdoch, serta dua jurnalis dengan tuntutan ganti rugi US$10 miliar atas pencemaran nama baik.
Trump memerintahkan Jaksa Agung Pam Bondi untuk merilis transkrip dewan juri kasus Epstein pada 17 Juli 2025, setelah tekanan dari pendukungnya sendiri, termasuk anggota gerakan MAGA dan tokoh seperti Marjorie Taylor Greene, yang menuntut transparansi. Namun, Trump juga menyebut isu dokumen Epstein sebagai “hoaks” yang didorong Partai Demokrat.
Kontroversi Politik dan Reaksi Publik
Kasus Epstein menjadi sumber perselisihan antara Trump dan basis pendukung MAGA-nya. Banyak pendukung, termasuk tokoh seperti Alex Jones dan Benny Johnson, menuduh pemerintahan Trump menyembunyikan dokumen untuk melindungi elit berpengaruh.
Trump membela Pam Bondi dan menegaskan bahwa tidak ada “daftar klien” Epstein yang disembunyikan, sesuai pernyataan Departemen Kehakiman dan FBI. Ia menuduh Partai Demokrat memanfaatkan isu ini untuk kepentingan politik menjelang pemilu tengah periode 2026.
Tuduhan Musk dan laporan WSJ meningkatkan ketegangan, dengan Trump menyebut tuduhan tersebut sebagai “berita palsu” dan menegaskan bahwa hubungannya dengan Epstein telah berakhir jauh sebelum masalah hukum Epstein terungkap.
Tidak ada bukti hukum yang jelas dalam dokumen yang dirilis yang menunjukkan Trump terlibat dalam kejahatan seksual Epstein. Nama Trump muncul karena hubungan sosial mereka di masa lalu, tetapi tuduhan pelanggaran hukum terhadap Trump tidak terbukti.
Sebuah gugatan pada 2016 di California oleh seorang wanita yang mengklaim Trump dan Epstein melecehkannya secara seksual pada 1994 (ketika ia berusia 13 tahun) tidak memiliki bukti kuat dan tidak dilanjutkan.
Kasus Epstein terus memicu spekulasi karena jaringan sosialnya yang luas dan dugaan bahwa ia menyimpan rekaman video untuk memeras tokoh berpengaruh, meskipun tidak ada bukti konkrit yang mengaitkan Trump dengan aktivitas ini.