Elon Musk, Bill Gates, dan Mark Zuckerberg Ramal Smartphone Bakal Jadi Fosil, Tim Cook Tak Terima
Para tokoh teknologi itu berselisih pandangan mengenai masa depan smartphone. Namun Tim Cook orang yang paling keras menolak ramalan itu.
Masa depan smartphone memicu perdebatan di kalangan tokoh industri teknologi dunia. Elon Musk, Bill Gates, dan Mark Zuckerberg, meramalkan era ponsel pintar akan segera berakhir.
Ia akan digantikan teknologi baru yang lebih canggih. Namun lain hal dengan Tim Cook. CEO Apple ini menolak pandangan itu dan menilai peralihan radikal belum realistis dalam waktu dekat.
Maklum, diskusi soal masa depan smartphone ini muncul di inovasi yang kian agresif. Mengutip 3dvf, Rabu (2/7), selama lebih dari satu dekade, smartphone menjadi pusat kehidupan digital modern, mulai dari komunikasi, pekerjaan, hingga hiburan.
Meski begitu, sejarah menunjukkan teknologi tidak abadi. Produk revolusioner seperti Walkman, ponsel lipat klasik, hingga GPS khusus akhirnya tergeser oleh inovasi yang lebih terintegrasi.
Lantas, bagaimana pandangan tokoh teknologi itu?
Elon Musk punya gambaran HP akan digantikan dengan antarmuka otak-komputer lewat proyek Neuralink. Teknologi ini digadang-gadang memungkinkan pengguna mengendalikan perangkat hanya dengan pikiran. Meski terdengar futuristik, konsep itu masih diwarnai pertanyaan etis dan tantangan teknis besar.
Kemudian Bill Gates juga membayangkan dunia pasca-smartphone, mendorong konsep tato elektronik berisi nanosensor yang dapat memantau kondisi tubuh sekaligus terhubung nirkabel ke sistem lain.
Sementara itu, Mark Zuckerberg menaruh taruhan besar pada kacamata realitas tertambah (augmented reality) yang dikembangkan Meta. Ia berharap perangkat seperti kacamata AR akan menggantikan peran smartphone dengan menghadirkan konten digital langsung ke pandangan pengguna.
Di sisi lain, Tim Cook mengambil sikap jauh lebih hati-hati. Meski Apple juga meneliti teknologi baru seperti headset realitas campuran, Cook menilai belum ada alternatif yang sepenuhnya bisa menggantikan smartphone. Ia menekankan pendekatan evolusi ketimbang revolusi mendadak. Mengembangkan produk yang sudah ada sambil menguji inovasi lain secara bertahap.
Ketegangan pendekatan ini mencerminkan strategi berbeda di industri teknologi. Para pendukung lompatan besar berargumen bahwa perangkat saat ini membatasi cara berinteraksi dengan dunia digital. Mereka percaya teknologi masa depan harus lebih natural, terintegrasi, dan bahkan “menghilang” dari genggaman.
Namun kubu yang lebih realistis menilai adopsi teknologi baru membutuhkan waktu lama, biaya besar, dan penerimaan sosial yang tidak bisa dipaksa.