Jeff Williams bukan nama yang sering disorot seperti Steve Jobs atau Tim Cook. Tapi di dalam Apple, ia adalah sosok kunci yang membangun reputasi perusahaan sebagai raksasa operasi global yang nyaris tanpa cela.
Ia menjabat Chief Operating Officer (COO) Apple sejak 2015 dan kerap disebut sebagai “Tim Cook berikutnya” karena gaya kepemimpinannya yang tenang, sistematis, dan nyaris obsesif pada detail.
Menariknya, jauh sebelum menduduki jabatan tinggi itu, Williams justru sempat skeptis dengan Apple. Saat direkrut pertama kali oleh Tim Cook pada 1998, ia menolak. Alasannya sederhana namun brutal: ia mengira Apple bakal bangkrut dalam beberapa tahun.
“Saya mencoba merekrut Jeff Williams dari IBM, tetapi awalnya dia tidak mau. Dia pikir Apple mungkin akan bangkrut,” kata Tim Cook mengenang dalam biografi Steve Jobs karya Walter Isaacson (2011).
Keraguan itu bukannya tanpa dasar. Apple pada akhir 1990-an memang berada di ujung tanduk. Perusahaan kehilangan uang, pangsa pasar menurun, produknya tak lagi menarik, dan reputasi bisnisnya memburuk.
Steve Jobs baru saja “dipanggil pulang” lewat akuisisi NeXT, dalam upaya darurat membalikkan keadaan. Apple bahkan perlu suntikan dana dari musuh lamanya, Microsoft, untuk bertahan.
Bagi Williams, yang kala itu bekerja lebih dari 13 tahun di IBM, perusahaan raksasa yang stabil dan mapan, Apple tampak seperti taruhan gila. Ia adalah insinyur mesin dengan spesialisasi operasi dan rantai pasok. Tawaran untuk pindah ke Apple berarti melepas keamanan IBM demi perusahaan yang nyaris karam.
Namun ada hal yang mengubah pikirannya. Menurut Williams, dia terpikat oleh budaya Apple yang benar-benar berbeda. Orang-orangnya bersemangat, berani, dan penuh energi untuk mencoba hal baru. Ia melihat peluang berkontribusi dalam sesuatu yang bisa berubah secara dramatis.
“Yang mengubah pikiranku adalah orang-orangnya, semangatnya, dan energinya. Rasanya berbeda dengan tempat-tempat yang pernah kukunjungi sebelumnya,” ungkap Williams dalam sebuah sesi tanya jawab internal Apple dikutip dari Business Insider.
Akhirnya ia bergabung pada 1998 sebagai Head of Worldwide Procurement. Bersama Tim Cook yang saat itu baru ditunjuk sebagai SVP of Operations oleh Jobs, Williams menjadi bagian dari tim ramping yang merombak rantai pasok Apple hingga super-efisien.
Strategi operasi inilah yang kelak membantu Apple melakukan loncatan besar lewat iPod, iPhone, dan produk-produk andalan lain.
Transformasi itu menjadi cerita klasik Silicon Valley: bagaimana Apple berubah dari perusahaan yang diprediksi akan “mati” menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di dunia. Jeff Williams yang dulunya meragukan Apple kini jadi salah satu penggerak utama mesin bisnis Apple—dan sosok kepercayaan Tim Cook.
Perjalanan karier Williams adalah bukti bagaimana keputusan karier yang tampak gila kadang justru membuka jalan luar biasa.
Dari seorang insinyur IBM yang menolak tawaran pertama Apple, ia kini menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah kebangkitan perusahaan teknologi paling berpengaruh di dunia.
Sayangnya, ketika digadang-gadang akan menjadi CEO Apple melanjutkan takhta Tim Cook, ia memutuskan untuk mundur.