China Bangun Superkomputer Pertama di Luar Angkasa Pakai Satelit Tenaga AI
China membuat gebrakan baru dengan membangun superkomputer menggunakan tenaga AI.
China resmi meluncurkan 12 satelit berbasis kecerdasan buatan sebagai tahap awal pembangunan jaringan superkomputer luar angkasa pertama di dunia.
Peluncuran ini merupakan bagian dari program "Star Computing" yang dikembangkan oleh China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC), dan dilakukan sukses menggunakan roket Long March 2D.
Mengutip NDTV, Rabu (21/5), setiap satelit memiliki kemampuan komputasi hingga 744 triliun operasi per detik dan bandwidth 100 gigabit per detik, serta ditenagai oleh model AI orbit dengan delapan miliar parameter.
Sistem ini dirancang untuk memproses data langsung di orbit, tanpa perlu dikirim ke Bumi, mengatasi keterbatasan bandwidth dan latensi transmisi data yang selama ini menjadi kendala utama sistem satelit konvensional.
Dinamai “Three-Body Computing Constellation”, jaringan ini memungkinkan komputasi terdistribusi di luar atmosfer dan beroperasi tanpa pendingin raksasa seperti superkomputer darat, memanfaatkan suhu rendah ruang angkasa.
Langkah ini juga berpotensi mengurangi konsumsi energi global dari pusat data, yang menurut IEA bisa menembus 1.000 TWh pada 2026—setara konsumsi listrik seluruh Jepang.
Program Star Computing menargetkan pembangunan 2.800 satelit, menjadikan China sebagai negara pertama yang mengembangkan jaringan pemrosesan data orbit skala global.
Upaya ini menyusul proyek luar angkasa lainnya, termasuk rencana pembangkit listrik tenaga surya sepanjang satu kilometer yang akan mengorbit di ketinggian 36.000 km.
Dengan proyek ini, China tidak hanya memperkuat dominasinya dalam eksplorasi luar angkasa, tetapi juga membuka babak baru dalam revolusi digital global—menjadikan antariksa sebagai frontier baru untuk komputasi dan infrastruktur energi masa depan.