Laser Luar Angkasa Buatan China Bisa Lacak Satelit dari 130.000 Km di Siang Hari
Tim ilmuwan menggunakan laser inframerah yang dipancarkan dari stasiun di Bumi.
Ilmuwan China berhasil mengembangkan teknologi laser luar angkasa yang mampu mendeteksi satelit pada jarak sekitar 130.000 kilometer dari Bumi, bahkan saat siang hari. Pencapaian ini melampaui kemampuan pelacakan satelit sebelumnya dan membuka peluang baru dalam komunikasi dan navigasi antariksa.
Dalam eksperimen tersebut, tim ilmuwan menggunakan laser inframerah yang dipancarkan dari stasiun di Bumi dan dipantulkan kembali oleh retroreflektor pada satelit Tiandu-1, yang mengorbit di sekitar Bulan.
Dikutip dari IFLScience, Selasa (6/5), sinyal pantulan ini kemudian diterima oleh teleskop berdiameter 1,2 meter di Observatorium Yunnan milik Akademi Ilmu Pengetahuan China. Akademi tersebut menggambarkan pencapaian ini setara dengan "mengenai sehelai rambut dari jarak 10 kilometer".
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pelacakan satelit menggunakan laser dapat dilakukan pada jarak yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Sebagai perbandingan, NASA pernah menggunakan retroreflektor berukuran kecil untuk mendeteksi pendarat India dan Jepang di permukaan Bulan dari ketinggian 100 kilometer. Namun, sistem pelacakan Tiandu-1 menunjukkan kemampuan serupa pada jarak lebih dari 1.000 kali lipat.
Teknologi ini memiliki potensi besar dalam pengembangan komunikasi optik jarak jauh, yang dapat meningkatkan kecepatan transmisi data antarplanet. Meskipun demikian, tantangan seperti interferensi sinar matahari di siang hari masih menjadi hambatan dalam penerapan komunikasi laser.
Keberhasilan sistem di Observatorium Yunnan dalam mengatasi tantangan ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam teknologi komunikasi luar angkasa.
Meskipun teknologi komunikasi optik luar angkasa belum sepenuhnya diterapkan secara luas, pencapaian ini menunjukkan arah yang menjanjikan dalam pengembangan infrastruktur komunikasi masa depan untuk misi luar angkasa.