Cara Kerja Dokter AI Buatan NASA dan Google untuk Astronot Sakit di Luar Angkasa
NASA dan Google sedang mengembangkan sistem dokter berbasis AI yang dirancang untuk membantu astronot mengatasi masalah kesehatan.
NASA semakin serius mempersiapkan misi luar angkasa jangka panjang ke Bulan dan Mars. Tantangan utama bukan hanya soal teknologi roket, melainkan juga kesehatan astronaut yang akan tinggal jauh dari Bumi selama bertahun-tahun.
Untuk menjawab persoalan itu, NASA menggandeng Google menciptakan Crew Medical Officer Digital Assistant (CMO-DA), sebuah sistem asisten medis digital berbasis kecerdasan buatan (AI).
Teknologi ini dijuluki sebagai “dokter AI” karena berfungsi layaknya pendamping medis bagi kru di luar angkasa.
Menurut laporan Digital Trends, Sabtu (23/8), CMO-DA dirancang sebagai Clinical Decision Support System (CDSS). Sistem ini mampu membantu kru mendiagnosis hingga menangani masalah kesehatan tanpa harus menunggu instruksi dari Bumi.
Kehadiran teknologi ini krusial, sebab komunikasi real-time dengan dokter di Bumi seringkali terhambat jarak. Untuk misi Mars, misalnya, delay komunikasi bisa mencapai 20 menit sekali jalan.
Google menjelaskan bahwa CMO-DA dibekali kemampuan natural language processing (NLP) dan machine learning.
Dengan teknologi ini, sistem dapat menganalisis kondisi kesehatan kru secara langsung, lalu memberikan panduan medis berbasis data yang relevan.
Artinya, para astronaut bisa mendapatkan saran medis secara cepat, mulai dari tindakan darurat hingga prosedur perawatan, tanpa harus menunggu instruksi dari tim dokter di Bumi.
Kolaborasi ini dianggap sebagai lompatan besar untuk misi luar angkasa jangka panjang. Selain mengurangi risiko keterlambatan penanganan medis, “dokter AI” juga memberi rasa aman bagi kru yang akan menghadapi isolasi ekstrem di ruang angkasa.
Jika berjalan sesuai rencana, sistem ini bukan hanya akan dipakai untuk misi NASA, tetapi juga berpotensi diaplikasikan dalam eksplorasi luar angkasa komersial di masa depan.
Proses Kerja Dokter AI di Ruang Angkasa
Menurut penjelasan dari Google, CMO-DA berfungsi sebagai asisten medis pribadi.
Sistem ini telah dilatih dengan menggunakan literatur medis yang berkaitan dengan penerbangan luar angkasa, serta memanfaatkan prediksi berbasis data untuk memberikan saran mengenai diagnosis dan perawatan.
Astronaut dapat menggunakan antarmuka multimodal untuk melaporkan berbagai gejala yang mereka alami.
Berdasarkan data yang dikumpulkan, AI ini akan memberikan rekomendasi langkah-langkah medis, mulai dari pengobatan luka hingga tindakan darurat, seperti intubasi atau perawatan cairan intravena.
Hasil uji coba awal menunjukkan bahwa AI ini cukup andal dalam mengenali gejala serta memberikan saran medis.
Bahkan, beberapa diagnosis yang dihasilkan dinilai sebanding dengan hasil konsultasi dari dokter.
Jika sistem ini berhasil disempurnakan, maka perannya akan sangat vital dalam menjaga kesehatan kru selama misi ke bulan atau Mars yang dapat berlangsung selama beberapa tahun.
Bantuan dari Dokter Bumi masih sangat dibutuhkan
Walaupun sistem AI dianggap memiliki potensi besar, NASA tidak langsung melepaskan sepenuhnya kendali kepada teknologi tersebut. Badan antariksa ini tetap melibatkan tim medis untuk menguji dan memverifikasi keakuratan sistem CMO-DA sebelum digunakan dalam misi jangka panjang.
Tujuan dari langkah ini sangat jelas, yaitu memastikan bahwa rekomendasi medis yang diberikan benar-benar sesuai dengan standar kesehatan terkini dan dapat diandalkan dalam situasi yang kritis.
Google juga menekankan bahwa CMO-DA tidak ditujukan untuk menggantikan peran dokter di Bumi, melainkan berfungsi sebagai asisten bagi kru saat komunikasi dengan pusat kendali mengalami gangguan atau terhambat oleh jeda waktu.
Dengan melakukan analisis data kesehatan secara real-time, sistem ini memberikan tambahan lapisan dalam pengambilan keputusan medis yang berbasis bukti.
Jika pengembangan ini berhasil, teknologi serupa dapat diterapkan di Bumi, terutama di daerah terpencil yang sulit dijangkau oleh layanan medis konvensional.
Perjalanan ke Bulan dan Mars
NASA sedang mempersiapkan program Artemis yang memungkinkan para astronot untuk tinggal dalam waktu yang lebih lama di orbit bulan atau bahkan di permukaan bulan.
Selain itu, misi menuju Mars direncanakan akan mulai dijajaki pada dekade 2030-an. Semua rencana tersebut memerlukan kesiapan medis yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan yang ada di International Space Station (ISS).
Dengan dukungan teknologi AI medis, para kru tidak perlu lagi sepenuhnya bergantung pada arahan dokter yang berada di Bumi. Mereka kini dapat menerima penanganan yang cepat dan efektif, yang bisa menjadi penyelamat nyawa.
Kerjasama antara NASA dan Google ini menunjukkan bagaimana teknologi kecerdasan buatan mulai terintegrasi dalam aspek paling penting dari eksplorasi luar angkasa, yaitu keselamatan manusia.
Jika semuanya berjalan sukses, "dokter AI" dapat menjadi tonggak sejarah baru dalam misi luar angkasa dan juga memberikan inspirasi untuk penerapan kecerdasan buatan di sektor kesehatan global.
Inovasi ini tidak hanya akan meningkatkan efisiensi dalam penanganan medis di luar angkasa, tetapi juga dapat membuka peluang baru dalam pengembangan teknologi medis di Bumi.