Burnout tak Selalu karena Pekerjaan
Pekerjaan bukan satu-satunya penyebab burnout. Sebuah penelitian mencoba menjelaskannya.
Ketika mendengar istilah burnout, kebanyakan dari kita langsung mengasosiasikannya dengan pekerjaan: jam kerja yang panjang, tekanan atasan, atau konflik antar-rekan kerja. Namun, sebuah studi mengejutkan dari Norwegian University of Science and Technology (NTNU) justru mengungkap bahwa hanya sebagian kecil orang dengan burnout yang menganggap pekerjaan sebagai penyebab utamanya.
Dalam studi tersebut, hanya 27,7% dari responden yang mengalami burnout menyebut pekerjaan sebagai sumber utama kelelahan mereka. Sisanya menyalahkan berbagai tekanan hidup di luar ruang kerja.
Mengutip ScienceAlert, Senin (23/6), penelitian melibatkan 813 pekerja di Norwegia, dengan sebagian melaporkan gejala burnout. Tim peneliti membandingkan persepsi mereka tentang faktor-faktor penyebab burnout, kelelahan, dan tekanan psikologis umum.
Hasilnya?
Meski burnout tetap berkaitan dengan faktor kerja, tekanan psikologis yang tidak spesifik lebih sering dipicu oleh masalah lain seperti rasa aman, dukungan sosial, dan kondisi kepribadian. Bahkan dalam beberapa kasus, tekanan dari keluarga, kesehatan pribadi, atau masalah finansial menjadi pemicu utama.
“Orang yang mengalami burnout menggambarkan stres dalam kehidupan sehari-hari mereka, yang mengarah pada semacam depresi,” kata psikolog Renzo Bianchi, salah satu peneliti utama. “Ini bisa disebut depressive stress in life.”
Bukan Satu Penyebab, Tapi Kombinasi
Menurut Bianchi, penyebab burnout sangat bergantung pada karakteristik individu. Orang dengan kepribadian cemas misalnya, dapat kehabisan energi hanya karena terus-menerus mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi—terlepas dari tekanan pekerjaan itu sendiri.
“Selalu merasa khawatir akan hal yang bisa salah adalah hal yang sangat melelahkan,” ujar Bianchi. Ia menekankan pentingnya riset lanjutan, khususnya terkait peran kepribadian dalam memicu burnout.