3 Kubu Besar ini Bersaing Dulu-duluan ke Mars
Ada 3 kubu besar yang berambisi menjalankan misi ke mars.
Elon Musk dan Donald Trump kini kompak mendorong ambisi manusia untuk hidup di Mars. Musk bahkan menargetkan misi berawak ke planet merah bisa dilakukan secepatnya pada 2029 melalui proyek Starship milik SpaceX.
Sementara itu, NASA menyebut misi ke Mars sebelum 2040 saja sudah tergolong ekstrem, dan China menargetkan pembangunan stasiun otonom di sana pada 2038.
“Bumi dan Mars pada awalnya adalah planet kembar—sama-sama berbatu, punya air, dan atmosfer CO₂,” kata Robert Zubrin, presiden The Mars Society dikutip dari CNBC, Jumat (23/5).
Ia percaya bahwa Mars bisa menjadi kunci memahami asal-usul kehidupan di alam semesta. Namun, para ilmuwan memperingatkan bahwa misi ke Mars masih menyimpan tantangan besar, mulai dari radiasi kosmik, sistem penunjang hidup, hingga teknologi propulsi antarplanet yang belum matang.
Amit Kshatriya, kepala program Moon to Mars NASA, menyebut bahwa lingkungan Mars sangat keras, dan sistem yang dibutuhkan untuk menjaga hidup manusia di sana harus bekerja tanpa cacat. Starship, roket andalan Musk, masih terus diuji. Pada uji coba Maret lalu, pendorong Super Heavy berhasil mendarat kembali, tetapi kapsulnya meledak di udara.
Uji coba berikutnya dianggap krusial untuk menunjukkan apakah kendaraan ini bisa diandalkan untuk misi sejauh 225 juta kilometer.
Dalam persaingan global ke Mars, kini ada tiga kubu besar: SpaceX dengan pendekatan agresif, NASA yang konservatif dan berbasis kolaborasi internasional, serta China dengan dukungan negara dan jadwal yang konsisten.
Meski Musk dan Trump mendorong ide migrasi antariksa sebagai solusi penyelamatan umat manusia, para peneliti menekankan bahwa misi ini bukan soal kecepatan.
“Menempatkan manusia di Mars bukan sekadar teknologi—itu lompatan peradaban,” kata Kshatriya.
Misi ke Mars mungkin tak lagi fiksi, tapi untuk menjadikannya kenyataan, dunia masih harus menyelesaikan pekerjaan rumah besar yang melibatkan sains, politik, dan etika.