Dijuluki Sebagai "Kota Salak", Begini Sejarah Perkembangan Kota Padangsidimpuan
Nama kota ini sudah tertulis sejak adanya Perang Padri yang berlangsung di Sumbar dan di masa Hindia Belanda menjadi Ibukota Karesidenan Tapanuli.
Nama kota ini sudah tertulis sejak adanya Perang Padri yang berlangsung di Sumbar dan di masa Hindia Belanda menjadi Ibukota Karesidenan Tapanuli.
Dijuluki Sebagai "Kota Salak", Begini Sejarah Perkembangan Kota Padangsidimpuan
Kota Padangsidimpuan atau disebut dengan nama Padang Sidempuan adalah sebuah kota di Provinsi Sumatra Utara. Wilayah ini menjadi kota terbesar yang ada di Tapanuli dan seluruhnya dikelilingi Kabupaten Tapanuli Selatan.
(Foto: Wikipedia)
Padangsidimpuan memiliki julukan "Kota Salak" karena letaknya yang dikelilingi oleh perbukitan dan gunung yang mayoritas menjadi perkebunan buah salak. Seluruh hasil panen buah salak tersebut kemudian dikirim dan dijual di Padangsidimpuan.
Kota ini memiliki rentetan sejarah yang cukup panjang serta asal-usul yang menarik untuk diulas lebih mendalam. Penasaran? Simak informasi selengkapnya yang dirangkum merdeka.com dari berbagai sumber berikut ini.
Asal-usul Nama
Mengutip dari berbagai sumber, nama kota ini berasal dari kata "Padang na dimpu" yang diambil dari bahasa Batak Angkola. "Padang" artinya hamparan atau kawasan luas, "na" artinya yang, serta "dimpu" artinya tinggi.
Apabila digabungkan, arti dari "Padang na dimpu" adalah hamparan yang luas yang berada di tempat yang tinggi. Pada zaman perdagangan di Nusantara sedang ramai-ramainya, kota ini menjadi salah satu tempat singgah para pedagang.
Sejarah Kota Padangsidimpuan
Pada zaman kolonial Belanda, kota ini menjadi pusat pemerintahan oleh Hindia Belanda yang berada di daerah Tapanuli. Peninggalan Belanda sampai sekarang masih dapat dijumpai di beberapa tempat, seperti kantor pos polisi yang ada di pusat kota.
Seiring berjalannya waktu, Padangsidimpuan ditetapkan menjadi setingkat Kota oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1937. Kota ini semakin berkembang serta menjadi pusat perekonomian di wilayah Tapanuli.
Beberapa komoditi di sektor pertanian seperti karet dan kopi menjadi barang yang cukup populer di sana. Bahkan, pabrik-pabrik pengolahan sudah hadir serta banyaknya pedagang garam, ikan, dan lain sebagainya.
Kunjungan Presiden
Pada masa revolusi, kota yang memiliki jumlah penduduk 231.062 pada tahun 2022 itu pernah dikunjungi oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.
Ketika masuknya berita proklamasi oleh pejuang dari kawasan Sibolga dan Kota Bukittinggi pada 15 Juli 1947, Moh. Hatta mengunjungi Padangsidimpuan dalam rangka kunjungan kerja tepat agresi militer Belanda.
Setahun kemudian, giliran Presiden Soekarno yang melakukan kunjungan, ia disambut hangat oleh masyarakat ketika tiba Kota Salak tersebut. Pada saat itu ia memberikan pidato di dua tempat sebagai tanda untuk memberikans semangat perjuangan kepada masyarakat Tapanuli.
Bukan Penghasil Salak
Mengutip Liputan6.com, meski Padangsidimpuan dijuluki Kota Salak, namun nyatanya wilayah ini bukan penghasil dari buah tersebut. Salak yang diperjualbelikan di kota ini berasal dari Kecamatan Padangsidimpuan Barat.
Buah salak di kota memang berbeda dengan salak pondoh, akan tetapi banyak yang menyukainya dan bahkan ketika datang atau melintas di kota ini pasti menyempatkan diri untuk membeli salak.
Sudah dikenal sebagai kota salak, pemerintah daerah pun mendirikan Tugu Salak atau Taman Kota Salak yang sudah menjadi ikon dari kota Padangsidimpuan.