5 Fakta Unik Bukittinggi Kota Terbesar Kedua di Sumbar, dari Bekas Pasar hingga Jadi Ibu Kota Indonesia
Kota ini terus berkembang seiring perkembangan zaman.
Kota ini terus berkembang seiring perkembangan zaman.
5 Fakta Unik Bukittinggi Kota Terbesar Kedua di Sumbar, dari Bekas Pasar hingga Jadi Ibu Kota Indonesia
Awalnya, Kota Bukittinggi di Sumatra Barat hanyalah pasar pekan bagi masyarakat Agam Tuo. Seiring zaman, kota ini terus berkembang hingga menjadi pusat Pemerintahan Sumatra bagian Tengah maupun Sumatra secara keseluruhan.
Sejarah
Kota ini dulu dikenal dengan nama Fort de Kock. Pada tahun 1825, Belanda mendirikan benteng pertahanan yang hingga kini dikenal dengan nama Fort De Kock. Pada masa kolonial Jepang, Bukittinggi menjadi pusat pengendalian pemerintah militer untuk kawasan Sumatra, bahkan sampai ke Singapura dan Thailand.
Pada zaman perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, Bukittinggi dikenal sebagai kota perjuangan. Kota ini ditunjuk sebagai ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) mulai Desember 1948-Juni 1949.
Strategis
Mengutip situs resmi Pemkot Bukittinggi, kota Bukittinggi berada di jajaran Bukit Barisan dan memiliki iklim sejuk.
Letak strategis ini membuat Kota Bukittinggi menjadi tempat ideal untuk menyelenggarakan rapat-rapat pemerintahan, pertemuan ilmiah, dan kongres-kongres organisasi kemasyarakatan, baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional.
Potensi Wisata
Tak hanya sejarahnya yang kaya, Bukittinggi juga menawarkan pesona wisata memukau. Di antaranya jam gadang, benteng fort de kock, rumah gadang, dan beberapa bangunan bersejarah lain.
Selain itu, kearifan lokal dan budaya Minangkabau juga tetap eksis di tengah kehidupan modern seperti sekarang.
Status Terkini
Saat ini, Bukittinggi berstatus sebagai kota madya daerah tingkat II sesuai dengan Undang-undang Nomor 5 tahun 1974 tentang Pokok Pemerintah di Daerah yang telah disempurnakan dengan Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 menjadi Kota Bukittinggi.