Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyoroti peran penting kartu pos sebagai medium vital dalam merekam sejarah, khususnya wajah kota, bangunan, jalan, serta dinamika kehidupan sosial pada masanya. Penegasan ini disampaikan dalam acara peluncuran buku ‘Kartu Pos Bergambar Samarangh’ di Kawasan Kota Lama Semarang pada Sabtu, 21 Desember 2025.
Peluncuran buku tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan dengan Pemerintah Kota Semarang, menunjukkan komitmen bersama dalam upaya pelestarian dan pendokumentasian nilai-nilai budaya. Kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkuat narasi sejarah melalui medium literasi visual yang kaya akan informasi.
Selain peluncuran buku, acara ini juga dimeriahkan dengan pameran temporer bertajuk "Potret Semarang dalam Bingkai Kartu Pos" yang berlangsung selama tujuh hari, mulai dari 19 hingga 26 Desember 2025. Pameran ini mengajak pengunjung untuk menyelami cerita masa lalu Kota Semarang melalui koleksi kartu pos bersejarah.
Advertisement
Advertisement
Kartu Pos: Jendela Masa Lalu dan Ingatan Historis Kota
Fadli Zon menjelaskan bahwa kartu pos, prangko, dan cap pos bukan hanya sekadar benda koleksi, melainkan narator sejarah yang kuat. Dari visual-visual tersebut, masyarakat dapat membaca evolusi kota, perkembangan teknik fotografi, hingga perubahan dinamika sosial yang terjadi pada zamannya.
Penggunaan ejaan lama “Samarangh” dalam judul buku secara sengaja dipilih untuk menghadirkan ingatan historis yang lebih mendalam. Ejaan ini berfungsi sebagai pengingat akan akar sejarah kota, bukan untuk mengubah nama, tetapi untuk memperkuat identitas dan memori kolektif.
Inisiatif ini tidak berhenti di Semarang saja; Kementerian Kebudayaan berencana untuk menerbitkan sekitar sepuluh buku serupa yang akan mengulas kota-kota lain di Indonesia. Kota-kota seperti Yogyakarta, Bandung, Batavia, dan lainnya akan menjadi fokus berikutnya dalam proyek pendokumentasian sejarah visual ini.
Advertisement
Advertisement
Koleksi Pribadi dan Harapan untuk Masa Depan Sejarah Visual
Sebagai seorang filatelis, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan bahwa ia telah mengumpulkan koleksi pribadi yang mengesankan, sekitar 7.000 hingga 8.000 kartu pos dari berbagai wilayah di Indonesia. Koleksi ini diklasifikasikan berdasarkan kota, dengan jumlah terbanyak berasal dari pusat-pusat sejarah seperti Batavia, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, dan Bukittinggi (Fort de Kock).
Melalui pameran "Potret Semarang dalam Bingkai Kartu Pos", pengunjung diajak untuk menelusuri cerita masa lalu Kota Semarang, menyaksikan perubahan ruang kota, dan memahami dinamika sejarah hanya melalui gambar. Kartu pos ini menjadi jembatan visual yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan kota.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, senada dengan Fadli Zon, berharap buku dan pameran ini mampu menyentuh emosi masyarakat serta membangkitkan kecintaan mereka terhadap sejarah kota. Harapannya, gambar-gambar kartu pos ini juga dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai narasi visual sejarah yang lebih luas.
Advertisement
Fadli Zon juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Semarang atas dukungan dan fasilitas yang diberikan untuk kegiatan kebudayaan di kawasan Kota Lama. Ia berharap buku ini dapat memperkaya khazanah pengetahuan tentang Semarang dan menjadi inspirasi untuk pelestarian sejarah di kota-kota lain.
Sumber: AntaraNews