Tindakan Negatif dari Remaja Disebabkan oleh Pengasuhan dan Trauma Masa Kecil
Tindakan negatif yang dilakukan anak bukan terjadi tanpa sebab. Hal ini bisa disebabkan oleh pengasuhan dan trauma masa kecil.
Peristiwa tragis yang melibatkan remaja sering kali mengguncang masyarakat, seperti kasus yang baru-baru ini terjadi di Cilandak, Jakarta Selatan, di mana seorang remaja berinisial MAS (14) melakukan tindakan ekstrem hingga menghilangkan nyawa ayah dan neneknya. Psikolog klinis anak Ratih Zulhaqqi, S.Psi., M.Psi., menyoroti bahwa tindakan negatif semacam ini kerap berakar pada pola pengasuhan dan trauma masa kecil yang tidak terselesaikan.
Dilansir dari Antara, Ratih menjelaskan bahwa tidak semua remaja yang tampak pendiam atau penurut terbebas dari risiko melakukan tindakan negatif. “Enggak menutup kemungkinan orang yang pendiam atau orang yang penurut mungkin saja dia bisa melakukan hal yang negatif, jadi memang banyak faktor yang melatarbelakanginya bisa faktor pengasuhannya atau trauma masa kecilnya enggak selesai,” ujarnya.
Fenomena Gunung Es
Tindakan negatif yang dilakukan oleh seorang remaja sering kali merupakan puncak dari perasaan terpendam yang meluap. Fenomena ini diibaratkan sebagai gunung es, di mana emosi yang selama ini terkubur akhirnya muncul dalam bentuk perilaku agresif. Faktor seperti kebiasaan menyimpan rasa dendam atau ketidakmampuan mengekspresikan emosi karena kurangnya figur yang dapat dipercaya, menjadi salah satu pemicu utama.
Ratih menekankan pentingnya hubungan emosional yang sehat antara orang tua dan anak. Ia menyoroti bahwa orang tua perlu menciptakan rasa percaya agar anak merasa nyaman untuk berbicara dan berekspresi. “Dengan kita menjadi orang yang bisa dipercaya oleh anak, artinya kita bisa jaga perasaannya, bisa jaga rahasianya, kita bisa jadi orang yang juga aman bagi mereka untuk mereka bercerita, untuk mereka bisa percaya sama kita,” kata Ratih.
Komunikasi yang Terbuka
Membangun rasa percaya bukanlah tugas yang sederhana, namun dapat dimulai dengan hal-hal kecil seperti menepati janji, mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi, dan tidak langsung menyalahkan tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya. Anak yang merasa tidak dihargai atau sering disalahkan cenderung menutup diri dan memutus komunikasi dengan orang tua.
Ratih juga mengingatkan bahwa meskipun ada komunikasi yang baik, anak tetap memiliki ruang pribadi dan rahasia yang mungkin tidak mereka bagikan. “Seterbukanya anak ke orang tua pastilah ada rahasia yang mereka miliki nggak mereka sebar ke orang tua, biasanya ini enggak melulu soal rahasia yang buruk, misalnya anak memang merasa bahwa ini cuma akan dikonsumsi oleh anak aja, biasanya ini akan mulai di usia remaja,” jelasnya.
Tragedi seperti ini mengingatkan bahwa pola pengasuhan yang sehat dan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan emosional anak sangat penting. Trauma masa kecil yang dibiarkan tidak terselesaikan dapat menjadi bom waktu yang berbahaya, sementara komunikasi yang baik dapat menjadi jembatan untuk mencegah hal-hal negatif terjadi.
Dukungan emosional yang konsisten dari orang tua tidak hanya menciptakan rasa aman, tetapi juga membantu remaja mengelola emosi mereka dengan cara yang sehat. Dalam kasus apa pun, konsultasi dengan ahli seperti psikolog atau konselor keluarga dapat menjadi langkah awal untuk menyelesaikan konflik internal yang dialami anak.