Temuan Mengejutkan BPOM Saat Sidak Ramadan, Gudang Frozen Overload dan Ada Takjil Berbahaya
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, memimpin kunjungan kerja maraton ke dua lokasi strategis di Jakarta pada 9 Maret 2026.
Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meningkatkan pengawasan terhadap pangan untuk memastikan keamanan dan kualitas produk yang beredar di masyarakat. Hal ini dilakukan mengingat permintaan pangan selama bulan Ramadan dan Lebaran diperkirakan akan meningkat hingga 400 persen.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, memimpin kunjungan kerja maraton ke dua lokasi strategis di Jakarta pada 9 Maret 2026. Lokasi yang dikunjungi terdiri dari sarana produksi roti di Jakarta Utara dan ritel Lotte Grosir Pasar Rebo di Jakarta Timur.
Pada kunjungan pertama di sarana produksi roti dan kue kering, BPOM melakukan pemantauan terhadap penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB). Pemantauan tersebut dilakukan melalui monitoring corrective action and preventive action (CAPA) untuk memastikan bahwa standar keamanan pangan diterapkan secara konsisten.
Taruna Ikrar menekankan bahwa pengawasan terhadap industri pangan nasional merupakan faktor penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus mendukung target pertumbuhan ekonomi menuju visi Indonesia Emas 2045.
"Pengawasan yang efektif tidak hanya dilakukan melalui pemeriksaan, tetapi juga melalui kemitraan antara pemerintah dan industri. Dengan keterbukaan dan komitmen perbaikan berkelanjutan, kita membangun kepercayaan konsumen sekaligus memberikan perlindungan optimal bagi masyarakat," ujar Taruna Ikrar.
BPOM Temukan Gudang Frozen Overload di Ritel
Setelah melakukan pemantauan di sektor produksi, tim BPOM melanjutkan inspeksi ke sektor hilir di Lotte Grosir Pasar Rebo. Kunjungan ini didampingi oleh Store General Manager Lotte Grosir, Arifin Yunianto, serta Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Provinsi DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok. Di lokasi tersebut, BPOM memeriksa penerapan Cara Peredaran Pangan Olahan yang Baik (CPerPOB). Dalam inspeksi tersebut, ditemukan gudang penyimpanan beku (frozen storage) yang melebihi kapasitas atau overload.
Taruna Ikrar mengingatkan pengelola ritel untuk segera melakukan perbaikan karena kondisi ini dapat menurunkan kualitas pangan yang disimpan. "Tadi kami cek izin edar produk, label, kemasan, termasuk tanggal kedaluwarsanya. Gudang dingin yang overload berisiko menyebabkan suhu ruangan meningkat sehingga pangan di dalamnya berpotensi rusak lebih cepat," tambahnya.
Dia juga menegaskan agar pelaku usaha tidak mengabaikan keamanan pangan demi kepentingan ekonomi. "Jangan karena motif ekonomi dan ingin cuci gudang, pelaku usaha mengabaikan kesehatan masyarakat," pungkasnya.
Ribuan Produk Pangan Tak Sesuai Ketentuan Berlaku
Secara nasional, intensifikasi pengawasan pangan yang dilakukan oleh BPOM pada tahun 2026 telah memasuki tahap ketiga. Saat ini, BPOM telah melakukan pemeriksaan terhadap 1.134 sarana peredaran pangan, yang menunjukkan peningkatan sebesar 25 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Dari hasil pengawasan tersebut, ditemukan 56.027 produk pangan yang tidak memenuhi ketentuan (TMK). Produk-produk tersebut mencakup pangan yang kedaluwarsa, rusak, atau tidak memiliki izin edar (TIE). Angka ini mengalami kenaikan sebesar 83 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Di wilayah DKI Jakarta, BPOM memeriksa 18 sarana peredaran pangan, dan hasilnya menunjukkan bahwa 9 sarana dinyatakan tidak memenuhi ketentuan, dengan temuan utama berupa makanan ringan ilegal. Selain itu, BPOM juga melakukan pengujian terhadap 222 sampel takjil yang beredar di Jakarta. Hasil pengujian menunjukkan bahwa 10 sampel atau sekitar 4,5 persen mengandung bahan berbahaya, seperti rodamin B pada kue mangkok dan kerupuk, serta formalin pada mi kuning dan tahu.
Pemprov DKI Dukung Pengawasan BPOM
Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Uus Kuswanto, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah pengawasan yang dilakukan oleh BPOM. "Kami menyambut baik kolaborasi ini karena warga Jakarta membutuhkan kepastian akan kebutuhan pokok yang sehat. Pengawasan langsung ini memberikan keyakinan kepada warga agar tidak khawatir mengonsumsi pangan selama Ramadan dan Idulfitri," ungkap Uus.
Dia juga menegaskan bahwa pedagang yang melanggar akan mendapatkan pembinaan, sementara produk berbahaya akan segera dimusnahkan. Senada dengan itu, Kepala Dinas PPKUKM DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo, menyatakan siap memperkuat kolaborasi dengan BPOM untuk memastikan keamanan pangan di ibu kota.
Di sela-sela peninjauan di Lotte Grosir, Taruna Ikrar juga menyempatkan diri untuk menyapa konsumen dan memberikan edukasi mengenai slogan 'Cek KLIK', yang berarti Cek Kemasan, Label, Izin edar, dan Kedaluwarsa. Dia bahkan mempraktikkan cara memindai barcode produk menggunakan aplikasi untuk memastikan keamanan pangan sebelum dibeli. "Ibu, ada caranya memastikan belanjaan ini sesuai aturan: cek kemasan, label, dan nomor izin edarnya.
Terakhir yang paling penting adalah masa kedaluwarsa," jelas Taruna Ikrar kepada salah satu konsumen. Menurutnya, makanan yang awalnya aman dapat menjadi berbahaya jika sudah rusak atau melewati masa kedaluwarsa. "Karena makanan sehat bisa menjadi racun jika sudah rusak atau ditumbuhi bakteri akibat masa berlaku yang habis," pungkasnya.