Sama-sama Rentan Dialami Pendaki, Ketahui Beda Hipotermia dan Frostbite
Hipotermia dan frostbite merupakan dua kondisi yang dialami oleh pendaki namun sebenarnya sangat berbeda.
Dalam pendakian gunung, terutama di daerah bersalju atau di tempat dengan suhu ekstrem, ada dua kondisi berbahaya yang harus diwaspadai oleh para pendaki: hipotermia dan frostbite. Meski keduanya disebabkan oleh paparan suhu dingin, keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan dalam hal gejala dan penanganannya. Memahami perbedaan ini sangat penting, karena baik hipotermia maupun frostbite dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan benar.
Apa Itu Frostbite?
Frostbite adalah kondisi di mana kulit dan jaringan di bawahnya membeku akibat paparan suhu dingin ekstrem. Menurut Mayo Clinic, frostbite dimulai dengan kondisi yang disebut frostnip, yang ditandai dengan rasa sakit, kesemutan, atau mati rasa pada area yang terpapar dingin, seperti jari tangan, jari kaki, hidung, atau telinga. Pada tahap ini, pengobatan dapat dilakukan dengan cara merendam area yang terpengaruh dalam air hangat (bukan panas) selama setidaknya 30 menit. Setelah itu, area yang terpapar harus dibalut dengan selimut untuk mencegah sirkulasi terputus.
Namun, jika frostbite semakin parah, kulit akan terasa hangat dan berubah warna, mulai dari kemerahan hingga kebiruan, tanda-tanda bahwa perawatan medis sangat diperlukan. Dalam kasus yang lebih parah, kulit bisa berubah menjadi hitam, menandakan bahwa jaringan telah mati. Bahkan pada kasus yang paling ekstrem, amputasi mungkin diperlukan untuk menyelamatkan hidup penderita.
Frostbite terjadi karena kondisi suhu dingin yang parah, namun faktor cuaca seperti kelembapan dan angin dapat memperburuk risiko. Banyak penjelajah kutub yang merasakannya secara langsung. Seperti yang dicatat oleh fotografer Herbert Ponting dalam bukunya The Great White South, meski suhu bisa mencapai 70 hingga 80 derajat beku, angin yang sepoi-sepoi akan memperburuk kondisi tersebut. “Frostbite akan menggigit begitu dalam jika ada angin yang mulai bertiup,” tulisnya. Pengalaman seperti ini dialami oleh para penjelajah yang merasakan betapa kejamnya pengaruh angin terhadap tubuh manusia.
Apa Itu Hipotermia?
Berbeda dengan frostbite, hipotermia melibatkan seluruh tubuh dan lebih berbahaya. Hipotermia terjadi ketika suhu tubuh turun di bawah 95°F (35°C). Gejala awal hipotermia termasuk menggigil, gigi gemeretak, dan kesulitan berbicara atau bergerak dengan lancar. Denyut jantung dan laju pernapasan juga meningkat, sementara kebingungan serta kehilangan kesadaran mulai muncul. Pada tahap ringan, gejala ini dapat dikenali dengan mudah, namun begitu suhu tubuh turun lebih lanjut, gejalanya menjadi lebih parah.
Pada tahap sedang (antara 89.6°F hingga 82.4°F), tubuh mulai mengalami kekakuan, kelelahan, dan bicara yang cadel. Fungsi kognitif menurun, dan penderita mungkin mulai mengalami halusinasi. Ketika suhu tubuh turun lebih lanjut, ke hipotermia berat (di bawah 82°F), tubuh akan mulai shutdown. Denyut jantung dan pernapasan melambat, dan orang yang terkena tidak dapat bergerak atau berfungsi secara normal. Pada tahap ini, hipotermia dapat berakhir dengan koma atau bahkan kematian.
Penting untuk segera mendapatkan pertolongan medis ketika gejala hipotermia muncul. Sambil menunggu bantuan, penderita bisa dibalut dengan selimut hangat dan diberi minuman manis yang hangat (tanpa alkohol atau kafein). Namun, harus hati-hati dalam memberikan pemanasan, karena memberi kompres panas di area tubuh seperti lengan atau kaki justru bisa menyebabkan darah dingin yang ada di bagian tubuh tersebut kembali mengalir ke organ vital, memperburuk kondisi.
Mengapa Kedua Kondisi Ini Rentan Dialami Pendaki?
Hipotermia dan frostbite sering kali disebabkan oleh kondisi cuaca yang ekstrim, seperti suhu rendah, kelembapan tinggi, dan angin kencang. Kondisi ini sangat rentan terjadi pada pendaki gunung yang sering kali berada dalam cuaca bersalju atau berangin. Ketika tubuh tidak dapat mengimbangi suhu dingin, baik itu di daerah dingin atau karena pakaian yang tidak cukup melindungi, risiko hipotermia dan frostbite semakin meningkat.
Keduanya dapat terjadi bersamaan. Sering kali, seorang pendaki yang terpapar suhu ekstrem bisa mengalami frostbite pada beberapa bagian tubuh seperti jari atau hidung, sementara tubuh mereka mulai mengalami hipotermia. Ini adalah kombinasi yang sangat berbahaya, yang membuat penanganan yang tepat menjadi sangat penting. Namun, jika harus memilih mana yang lebih berbahaya, hipotermia adalah kondisi yang lebih mematikan, karena dapat menyebabkan kerusakan organ internal yang fatal jika tidak segera ditangani.
Bagaimana Cara Mencegah dan Menangani Kedua Kondisi Ini?
Pencegahan adalah langkah pertama yang sangat penting. Pendaki harus memastikan pakaian yang mereka kenakan mampu melindungi tubuh dari angin dan kelembapan, serta cukup tebal untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil. Saat mendaki dalam kondisi dingin, penting untuk sering memeriksa kondisi tubuh, terutama bagian tubuh yang rentan seperti jari tangan, jari kaki, hidung, dan telinga. Jika gejala frostbite atau hipotermia muncul, segera lakukan perawatan pertama dan cari bantuan medis secepatnya.
Hipotermia dan frostbite adalah dua kondisi ekstrem yang dapat terjadi ketika tubuh terpapar dingin dalam waktu yang lama. Meski keduanya memiliki gejala yang berbeda, keduanya memiliki dampak yang serius jika tidak ditangani dengan benar. Pendaki harus selalu waspada terhadap kondisi cuaca dan memastikan perlindungan yang memadai untuk tubuh mereka, terutama saat mendaki di tempat yang sangat dingin dan berangin.