Perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan RI di puncak Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa pada Minggu (17/8) berakhir tragis. 65 pendaki mengalami hipotermia dan satu orang meninggal dunia.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan mengatakan, 4.172 pendaki teregistrasi mendaki Gunung Bawakaraeng merayakan HUT ke-80 RI di Gunung Bawakaraeng. Basarnas Makassar mendapatkan laporan 65 pendaki mengalami hipotermia.
"Tercatat ada 65 orang mengalami trouble dan sudah ditangani oleh tim siaga. Sebagian besar mereka menderita hiportermia dan yang lainnya menderita Asam lambung," kata Sultan.
Sultan juga mengungkapkan terdapat satu pendaki meninggal dunia atas nama Irfan (24). Selain itu, Tim Siaga Basarnas Makassar juga menemukan sejumlah pendaki terpisah dari rombongan.
"Satu orang di antaranya meninggal dunia karena pengalami hipotermia berat saat berada di puncak. Korban meninggal dunia atas nama Irfan asal Kabupaten Bone. Korban dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan turun saat tim sedang mengevakuasi," ujar Sultan.
Sultan menjelaskan korban meninggal sebelumnya merupakan peserta kegiatan lintas alam dari Bulu Baria menuju Gunung Bawakaraeng. Sultan menyebut korban mendaki Gunung Bawakaraeng pada 12 Agustus 2025, bersama 16 temannya.
Korban ditemukan Minggu pagi oleh tim siaga merah putih dalam keadaan hipotermia. Setelah ditangani oleh tim siaga, namun keadaan korban belum juga membaik, tim mengevakuasi korban dengan cara ditandu menuju kaki gunung guna mendapatkan perawatan yang lebih intensif.
Korban tiba di posko Bulu ballea sekitar pukul 19.05 Wita, kemudian dibawa ke Puskesmas Tinggimoncong untuk dilakukan pemeriksaan. Selanjutnya Tim SAR Gabungan menyerahkan jenazah ke pihak keluarga dan dibawa ke Desa Carubbu, Kecamatan Awampone Kabupaten Bone.
Advertisement
Hipotermia merupakan kondisi serius di mana suhu tubuh manusia turun di bawah 35 derajat Celcius, jauh dari suhu normal 37 derajat Celcius. Kondisi ini dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani dengan tepat.
Gejala hipotermia bervariasi sesuai tingkat keparahannya. Pada hipotermia ringan (32-35°C), penderita akan menggigil, kulit pucat dan dingin, bicara melambat atau cadel, serta kesulitan berjalan. Menggigil adalah pertanda baik karena sistem regulasi suhu tubuh masih aktif.
Hipotermia sedang (28-32°C) ditandai dengan penderita yang berhenti menggigil dan merasa tidak berenergi. Pernapasan dan denyut jantung melambat, tekanan darah menurun, disertai kebingungan, halusinasi, dan penurunan kesadaran.
Hipotermia berat (di bawah 28°C) adalah kondisi sangat serius yang dapat menyebabkan gangguan fatal. Ini meliputi fibrilasi ventrikel jantung, irama jantung tidak normal, melemahnya nadi, pembengkakan paru-paru, hingga koma dan henti jantung. Otot penderita akan kaku, napas semakin melemah, dan kesadaran hilang.
Advertisement
Saat menghadapi penderita hipotermia, langkah pertama adalah tetap tenang dan jangan panik. Segera pindahkan korban ke lokasi yang lebih hangat, kering, dan terlindung dari angin, seperti tenda atau tempat tertutup.
Lepaskan semua pakaian yang basah, termasuk pakaian dalam, dan segera ganti dengan pakaian kering dan hangat. Jika tidak memungkinkan, lap tubuh korban hingga kering lalu lapisi dengan baju hangat di atasnya untuk mencegah penurunan suhu lebih lanjut.
Hangatkan tubuh korban secara bertahap. Selimuti tubuh dengan selimut tebal, jaket, atau sleeping bag hingga kepala, hanya menyisakan bagian wajah yang terbuka. Lakukan kontak kulit ke kulit (skin to skin) dengan membungkus diri bersama pasien hipotermia dalam selimut untuk transfer panas. Hindari menggosok tangan atau tubuh penderita karena dapat melukai kulit dan tidak efektif.
Jika penderita sadar, berikan minuman hangat seperti teh atau air hangat, serta makanan berkuah panas seperti mi. Hindari minuman berkafein dan beralkohol. Ajak penderita berbicara untuk memantau kesadarannya dan pastikan pernapasan tetap baik. Apabila penderita tidak sadarkan diri, lakukan prosedur CPR hingga bantuan medis tiba.
Advertisement
Pencegahan adalah kunci utama untuk menghindari hipotermia saat mendaki gunung. Kenakan pakaian berbahan sintetis atau wol yang mampu menjaga suhu tubuh meski basah. Terapkan sistem berlapis (layering) dengan pakaian dalam, lapisan isolasi, dan lapisan luar tahan angin serta air. Selalu bawa pakaian ganti lebih.
Selain pakaian, persiapkan perlengkapan tambahan yang memadai. Selalu bawa jaket cadangan, sarung tangan, kaus kaki kering, dan sleeping bag untuk menjaga kehangatan tubuh. Perlengkapan ini sangat penting terutama di cuaca yang tidak menentu.
Asupan makanan dan cairan yang cukup juga krusial. Perbanyak konsumsi kalori dan cairan untuk menjaga metabolisme tubuh tetap aktif. Selalu sediakan makanan tinggi energi seperti cokelat atau kacang-kacangan sebagai bekal cadangan.
Saat beristirahat, gunakan matras atau jaket tebal sebagai alas duduk. Hal ini mencegah tubuh bersentuhan langsung dengan tanah yang dingin, membantu menjaga suhu tubuh tetap stabil selama pendakian.