Penyebab Seseorang Mendengkur Keras saat Tidur dan Cara Medis Mengatasinya
Mendengkur adalah kondisi ketika seseorang mengeluarkan suara kasar saat tidur yang merupakan dampak dari terhalang atau menyempitnya saluran pernapasan.
Mendengkur, atau yang sering disebut sebagai ngorok, merupakan suara yang keras yang muncul saat seseorang tidur akibat terhalangnya atau menyempitnya saluran pernapasan. Kondisi ini terjadi karena adanya getaran pada jaringan di saluran udara bagian atas, seperti langit-langit lunak, uvula, dan tenggorokan, ketika udara mengalir melaluinya. Meskipun fenomena ini cukup umum, mendengkur yang terjadi secara kronis dan keras dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang lebih serius, termasuk sleep apnea.
Mengutip dari Alodokter.com, Rabu (6/8/2025) mendengkur adalah kondisi ketika seseorang mengeluarkan suara kasar saat tidur yang merupakan dampak dari terhalang atau menyempitnya saluran pernapasan. Penyempitan saluran napas tersebut bahkan bisa disebabkan oleh kondisi medis yang serius.
Mendengkur dengan suara keras tidak hanya mengganggu kualitas tidur orang-orang di sekitar, tetapi juga dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung dan stroke. Oleh karena itu, penting untuk memahami penyebab mendengkur sebagai langkah awal dalam menemukan solusi yang tepat dan menjaga kesehatan secara menyeluruh. Simak informasi berikut ini.
Penyebab Medis Seseorang Bisa Mendengkur Keras
Mendengkur yang keras terjadi akibat aliran udara yang mengalami turbulensi ketika melewati saluran napas yang menyempit. Semakin sempit saluran tersebut, semakin kuat aliran udara yang mengalir, sehingga suara dengkuran yang dihasilkan pun semakin keras. Menurut Yale Medicine, terdapat berbagai penyebab medis dan faktor risiko yang dapat memicu terjadinya mendengkur keras, antara lain:
Anatomi Mulut dan Tenggorokan
Ketika seseorang tertidur, otot-otot di langit-langit mulut, anak tekak, lidah, serta tenggorokan menjadi rileks. Relaksasi ini dapat mengakibatkan jaringan-jaringan tersebut menghalangi sebagian dari aliran udara, sehingga menimbulkan getaran dan suara dengkuran.
Otot-otot yang rileks ini berkontribusi terhadap terhalangnya aliran udara yang masuk, yang pada gilirannya menghasilkan suara dengkuran.
Selain itu, langit-langit mulut yang rendah atau tebal juga berpotensi mempersempit saluran napas. Jika uvula, yang merupakan jaringan menggantung di belakang mulut, memanjang, maka dapat menghalangi aliran udara dan meningkatkan getaran. Pembengkakan amandel atau kelenjar adenoid, serta ukuran pangkal lidah yang besar, juga dapat menyebabkan penyumbatan pada saluran pernapasan.
Masalah Hidung dan Saluran Napas
Kondisi seperti pilek, sinusitis, atau alergi dapat menyebabkan hidung tersumbat, sehingga seseorang terpaksa bernapas melalui mulut, yang menghalangi jalan napas dan memicu terjadinya dengkuran. Alodokter.com menyebutkan bahwa hidung atau saluran napas yang tersumbat akibat pilek atau sinusitis merupakan salah satu penyebab utama mendengkur.
Selain itu, sekat lubang hidung yang bengkok atau kelainan bentuk tulang hidung juga dapat menghalangi aliran udara. Polip hidung, yang merupakan pertumbuhan jaringan non-kanker di dalam hidung, juga dapat menghambat saluran pernapasan dan menyebabkan dengkuran yang keras.
Kondisi Medis Serius: Obstructive Sleep Apnea (OSA)
Menurut Cleveland Clinic, mendengkur yang keras, terutama jika disertai dengan henti napas sesaat, tersedak, atau terengah-engah saat tidur, adalah gejala utama dari Obstructive Sleep Apnea (OSA).
Pada kondisi ini, jaringan di tenggorokan menghalangi sebagian atau seluruh aliran udara, yang menyebabkan pernapasan terhenti sementara selama beberapa detik dan penurunan kadar oksigen dalam darah. Akibatnya, suara dengkuran menjadi sangat keras ketika saluran napas kembali terbuka. Risiko kesehatan jangka panjang yang dapat muncul meliputi tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, dan diabetes.
Houston Methodist juga menyatakan bahwa mendengkur kadang-kadang dapat menjadi indikator dari obstructive sleep apnea (OSA), yang merupakan kondisi serius yang dapat meningkatkan risiko hipertensi, diabetes tipe 2, serta penyakit jantung dan stroke, bahkan kematian mendadak.
Faktor Lain yang Berkontribusi
- Berat Badan Berlebih (Obesitas): Kelebihan berat badan, terutama penumpukan lemak di sekitar leher dan tenggorokan, dapat menekan saluran napas dan mempersempitnya, sehingga menyebabkan mendengkur. Halodoc.com menekankan bahwa obesitas menyebabkan penumpukan lemak di sekitar tenggorokan yang menyempitkan jalan napas.
- Konsumsi Alkohol dan Obat Penenang: Alkohol dan obat-obatan yang bersifat sedatif dapat merelaksasi otot-otot tenggorokan secara berlebihan, memperlambat pernapasan, serta meningkatkan risiko mendengkur.
- Posisi Tidur: Tidur dalam posisi telentang memungkinkan pangkal lidah dan langit-langit lunak jatuh ke belakang tenggorokan, sehingga menyempitkan saluran napas dan menghalangi aliran udara, yang sering membuat dengkuran menjadi lebih keras.
- Usia: Seiring bertambahnya usia, mendengkur menjadi lebih umum terjadi karena penurunan tonus otot yang menyebabkan saluran napas menyempit, seperti yang dijelaskan oleh Cleveland Clinic.
- Kurang Tidur: Kurang tidur dapat membuat otot tenggorokan menjadi lebih rileks, sehingga memperburuk masalah mendengkur.
- Merokok: Merokok dapat menyebabkan iritasi dan peradangan pada dinding saluran napas, yang mengakibatkan pembengkakan dan penyumbatan aliran udara.
Cara Mengatasi Mendengkur Keras
Penanganan mendengkur harus disesuaikan dengan penyebabnya. National Heart, Lung, and Blood Institute memberikan beberapa pendekatan untuk mengatasi masalah mendengkur yang keras, antara lain:
Menurunkan Berat Badan dan Berhenti Merokok
Jika seseorang memiliki kelebihan lemak di area leher, sangat dianjurkan untuk menurunkan berat badan, karena hal ini dapat mempersempit saluran napas dan memicu terjadinya mendengkur. Selain itu, tidur dengan posisi menyamping, meninggikan posisi kepala sekitar 10 cm, serta menghindari konsumsi alkohol atau obat penenang sebelum tidur juga dapat membantu menjaga aliran udara tetap lancar saat tidur.
Penting juga untuk menjaga kesehatan saluran pernapasan; berhenti merokok dapat mengurangi iritasi dan peradangan di tenggorokan. Jika hidung tersumbat, penggunaan semprotan, dekongestan, atau strip hidung dapat membantu melancarkan pernapasan. Selain itu, pastikan tubuh tetap terhidrasi, dan pertimbangkan latihan otot mulut serta tenggorokan (myofunctional therapy) untuk memperkuat otot-otot yang mendukung saluran napas agar tetap terbuka saat tidur.
Alat Bantu Tidur
Berbagai alat bantu dapat digunakan untuk mengurangi kebiasaan mendengkur. Strip hidung atau dilator hidung yang dipasang di luar hidung atau dimasukkan ke dalam lubang hidung dapat membantu menjaga saluran hidung tetap terbuka.
Menurut Cleveland Clinic, penggunaan strip hidung dapat membantu menjaga saluran hidung tetap terbuka. Selain itu, alat oral yang mirip dengan pelindung mulut atlet berfungsi untuk menjaga posisi rahang atau lidah agar tetap benar, sehingga membuka jalan napas. Terapi CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) merupakan pengobatan utama untuk OSA dan sangat efektif dalam mengatasi dengkuran. Mesin CPAP memberikan tekanan udara melalui masker, sehingga saluran napas tetap terbuka.
Intervensi Medis dan Bedah
Apabila perubahan gaya hidup dan penggunaan alat bantu tidak memberikan hasil yang diharapkan, atau jika mendengkur disebabkan oleh masalah struktural atau OSA yang parah, dokter mungkin akan merekomendasikan prosedur medis atau bedah. Jika mendengkur disebabkan oleh alergi, obat antialergi dapat diresepkan. Prosedur bedah seperti septoplasti (untuk mengatasi deviasi septum), tonsilektomi atau adenoidektomi (pengangkatan amandel/adenoid), serta uvulopalatofaringoplasti (UPPP) dapat dilakukan untuk mengatasi masalah struktural. Selain itu, terapi ablasi menggunakan energi frekuensi radio dapat digunakan untuk mengecilkan jaringan berlebih, sedangkan implan palatal dapat membuat langit-langit lunak menjadi lebih kaku.
Cara Mencegah Mendengkur Keras
Pencegahan mendengkur melibatkan pengelolaan faktor risiko serta penerapan kebiasaan tidur yang sehat. Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah mendengkur:
- Menjaga berat badan ideal sangat penting untuk mencegah penumpukan jaringan lemak di area tenggorokan.
- Hindari konsumsi alkohol dan sedatif sebelum tidur agar otot tenggorokan tidak terlalu rileks.
- Usahakan tidur dalam posisi miring agar saluran napas tetap terbuka. Menggunakan bantal tambahan untuk meninggikan kepala saat tidur atau mengangkat sedikit bagian kepala tempat tidur dapat membantu memperlancar aliran udara.
- Berhenti merokok, karena asap rokok dapat mengiritasi dan menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan.
- Atasi masalah hidung dan alergi dengan obat yang diresepkan oleh dokter atau menggunakan nasal strip. Pastikan untuk cukup tidur (7-9 jam bagi orang dewasa) untuk mencegah otot tenggorokan menjadi terlalu rileks akibat kelelahan.
- Olahraga secara teratur juga bermanfaat dalam menjaga berat badan yang sehat serta meningkatkan fungsi paru-paru, yang berkontribusi pada pengurangan mendengkur.
- Perlu diingat bahwa jika mendengkur terdengar sangat keras, sering terjadi, atau disertai gejala lain seperti henti napas, tersedak, atau rasa lelah berlebihan di siang hari, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter.
Sara Bakhtiar, dokter dari Houston Methodist menyatakan bahwa sebagian besar pasien dengan gejala mendengkur pada akhirnya memerlukan studi tidur untuk diagnosis. Dokter dapat melakukan evaluasi, termasuk studi tidur (polisomnografi), untuk mendiagnosis penyebab pasti dan merekomendasikan penanganan yang tepat.