Jangan Panik, Seseorang Tidurnya Mendengkur Keras, Begini Cara Mengatasinya
Mendengkur dengan volume tinggi sering kali dianggap remeh, padahal hal ini bisa menjadi indikasi adanya masalah kesehatan yang serius.
Mendengkur, atau yang sering disebut sebagai ngorok, merupakan suara yang kasar dan muncul saat seseorang tidur, yang disebabkan oleh terhambatnya atau menyempitnya saluran pernapasan. Suara ini terjadi akibat getaran jaringan di bagian atas saluran udara, seperti langit-langit lunak, uvula, dan tenggorokan, saat udara mengalir melaluinya.
Meskipun hal ini cukup umum, mendengkur yang terjadi secara kronis dan keras bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang lebih serius, termasuk sleep apnea. Mengutip dari Alodokter.com, pada Rabu (6/8) dijelaskan bahwa mendengkur adalah kondisi di mana seseorang mengeluarkan suara kasar saat tidur akibat terhambat atau menyempitnya saluran pernapasan. Penyempitan ini dapat disebabkan oleh berbagai kondisi medis yang serius.
Mendengkur yang keras tidak hanya mengganggu kualitas tidur orang-orang di sekitar, tetapi juga dapat meningkatkan risiko terkena penyakit jantung dan stroke. Oleh karena itu, penting untuk memahami penyebab mendengkur agar dapat menemukan solusi yang tepat dan menjaga kesehatan secara keseluruhan. Memahami akar masalah dari dengkuran ini merupakan langkah awal yang krusial untuk mengatasi masalah tersebut dan meningkatkan kualitas tidur.
Dengan informasi yang tepat, diharapkan individu dapat mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengurangi atau menghilangkan kebiasaan mendengkur yang mengganggu.
Penyebab medis yang dapat membuat seseorang mendengkur dengan keras
Mendengkur yang keras terjadi akibat turbulensi aliran udara dan penyempitan saluran napas yang disebabkan oleh jaringan yang longgar. Semakin sempit saluran napas, semakin kuat aliran udara yang mengalir, sehingga suara dengkuran yang dihasilkan menjadi semakin keras. Mengutip dari Yale Medicine, ada beberapa faktor medis dan risiko yang dapat menyebabkan mendengkur keras, di antaranya adalah:
Anatomi Mulut dan Tenggorokan
Ketika seseorang tidur, otot-otot di langit-langit mulut, anak tekak, lidah, dan tenggorokan akan rileks. Rileksasi ini dapat menyebabkan jaringan tersebut menghalangi sebagian aliran udara, yang kemudian memicu getaran dan suara dengkuran. Otot dan jaringan yang dalam keadaan rileks ini mengakibatkan terhalangnya aliran udara, sehingga timbul getaran atau dengkur. Selain itu, memiliki langit-langit mulut yang tebal atau rendah juga dapat mempersempit saluran napas. Jika uvula, jaringan yang menggantung di belakang mulut, memanjang, hal ini dapat menghalangi aliran udara dan meningkatkan getaran. Pembengkakan amandel atau kelenjar adenoid, serta ukuran pangkal lidah yang besar, juga dapat menyumbat saluran pernapasan.
Masalah Hidung dan Saluran Napas
Kondisi seperti pilek, sinusitis, atau alergi dapat menyebabkan hidung tersumbat, yang memaksa seseorang untuk bernapas melalui mulut dan menghalangi jalan napas, sehingga memicu dengkuran. Alodokter.com menyatakan bahwa hidung atau saluran napas yang tersumbat akibat pilek atau sinusitis merupakan salah satu penyebab mendengkur. Selain itu, sekat lubang hidung yang bengkok atau kelainan bentuk tulang hidung juga dapat menghalangi aliran udara. Polip hidung, yang merupakan pertumbuhan jaringan non-kanker di dalam hidung, juga dapat menghambat saluran pernapasan dan menyebabkan dengkuran yang keras.
Kondisi Medis Serius: Obstructive Sleep Apnea (OSA)
Menurut Cleveland Clinic, mendengkur keras, khususnya yang disertai dengan henti napas sesaat, tersedak, atau terengah-engah saat tidur, merupakan gejala utama dari Obstructive Sleep Apnea (OSA). Dalam kondisi OSA, jaringan di tenggorokan dapat menghalangi sebagian atau seluruh aliran udara, yang menyebabkan pernapasan terhenti sementara selama beberapa detik dan penurunan kadar oksigen dalam darah. Akibatnya, dengkuran menjadi sangat keras ketika saluran terbuka kembali. Risiko kesehatan jangka panjang dari kondisi ini mencakup tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Houston Methodist juga mengungkapkan bahwa mendengkur terkadang bisa menjadi tanda dari obstructive sleep apnea (OSA), yang merupakan kondisi serius yang dapat meningkatkan risiko hipertensi, diabetes tipe 2, penyakit jantung, stroke, dan bahkan kematian mendadak.
Faktor Lain yang Berkontribusi
- Berat Badan Berlebih (Obesitas): Kelebihan berat badan, terutama penumpukan lemak di sekitar leher dan tenggorokan, dapat menekan saluran napas dan mempersempitnya, sehingga menyebabkan dengkuran. Halodoc.com menggarisbawahi bahwa kegemukan atau obesitas menyebabkan banyak lemak tertimbun di sekitar tenggorokan yang membuat jalan napas menyempit.
- Konsumsi Alkohol dan Obat Penenang: Alkohol dan obat-obatan yang menyebabkan kantuk dapat merelaksasi otot-otot tenggorokan secara berlebihan, memperlambat pernapasan, dan meningkatkan risiko mendengkur.
- Posisi Tidur: Tidur dalam posisi telentang memungkinkan pangkal lidah dan langit-langit lunak jatuh ke belakang tenggorokan, menyempitkan saluran napas dan menghalangi aliran udara, sehingga seringkali membuat dengkuran lebih keras.
- Usia: Seiring bertambahnya usia, mendengkur menjadi lebih umum karena penurunan tonus otot, yang menyebabkan saluran napas menyempit, seperti yang dijelaskan oleh Cleveland Clinic.
- Kurang Tidur: Kurang tidur dapat menyebabkan otot tenggorokan menjadi lebih rileks, memperburuk kondisi mendengkur.
- Merokok: Merokok dapat menyebabkan iritasi dan peradangan pada dinding saluran napas, yang berujung pada pembengkakan dan penyumbatan aliran udara.
Penanganan mendengkur
Penanganan mendengkur perlu disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. National Heart, Lung, and Blood Institute mengusulkan beberapa metode untuk mengatasi masalah mendengkur yang keras. Salah satu langkah yang disarankan adalah
Menurunkan Berat Badan dan Berhenti Merokok
. Jika seseorang memiliki kelebihan lemak di sekitar leher, menurunkan berat badan menjadi sangat penting karena lemak tersebut dapat mempersempit saluran napas dan memicu dengkuran. Selain itu, tidur dalam posisi menyamping, meninggikan kepala sekitar 10 cm, serta menghindari alkohol dan obat penenang sebelum tidur dapat membantu menjaga aliran udara saat tidur. Penting juga untuk menjaga kesehatan saluran pernapasan, dan berhenti merokok dapat mengurangi iritasi serta peradangan di tenggorokan. Jika mengalami hidung tersumbat, penggunaan semprotan, dekongestan, atau strip hidung bisa membantu melancarkan pernapasan. Selalu pastikan tubuh terhidrasi, dan pertimbangkan latihan otot mulut serta tenggorokan (myofunctional therapy) untuk memperkuat otot-otot yang mendukung saluran napas agar tetap terbuka saat tidur.
Sebagai alternatif,
Alat Bantu Tidur
dapat digunakan untuk mengurangi dengkuran. Beberapa alat, seperti strip hidung atau dilator hidung, bisa ditempelkan di luar hidung atau dimasukkan ke dalam lubang hidung untuk membantu menjaga saluran hidung tetap terbuka. Menurut Cleveland Clinic, strip hidung efektif dalam menjaga saluran hidung agar tidak tersumbat. Selain itu, alat oral yang mirip pelindung mulut atlet dapat membantu menjaga posisi rahang atau lidah agar tetap benar, sehingga jalan napas terbuka. Terapi CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) juga menjadi pilihan pengobatan utama untuk Obstructive Sleep Apnea (OSA) dan sangat efektif dalam mengatasi dengkuran. Mesin CPAP bekerja dengan memberikan tekanan udara melalui masker untuk menjaga saluran napas tetap terbuka.
Apabila perubahan gaya hidup dan penggunaan alat bantu tidak membuahkan hasil, atau jika mendengkur disebabkan oleh masalah struktural atau OSA yang parah, dokter mungkin akan merekomendasikan
Intervensi Medis dan Bedah
. Dalam kasus ini, obat antialergi dapat diresepkan jika mendengkur disebabkan oleh alergi. Terdapat juga prosedur bedah seperti septoplasti untuk mengatasi deviasi septum, tonsilektomi atau adenoidektomi untuk mengangkat amandel atau adenoid, serta uvulopalatofaringoplasti (UPPP) untuk menangani masalah struktural. Selain itu, terapi ablasi yang menggunakan energi frekuensi radio dapat membantu mengecilkan jaringan berlebih, sementara implan palatal dapat memberikan kekakuan pada langit-langit lunak.
Pencegahan mendengkur
Pencegahan mendengkur melibatkan pengelolaan faktor risiko serta penerapan kebiasaan tidur yang sehat. Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah mendengkur:
- Menjaga berat badan ideal sangat penting untuk menghindari penumpukan jaringan lemak di sekitar tenggorokan.
- Hindari konsumsi alkohol dan sedatif sebelum tidur, karena dapat menyebabkan otot tenggorokan menjadi terlalu rileks.
- Usahakan untuk tidur dalam posisi miring agar saluran napas tetap terbuka. Menggunakan bantal tambahan untuk meninggikan kepala saat tidur atau sedikit mengangkat bagian kepala tempat tidur dapat membantu meningkatkan aliran udara.
- Berhenti merokok, karena asap rokok dapat mengiritasi dan menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan.
- Atasi masalah hidung dan alergi dengan obat yang direkomendasikan oleh dokter atau menggunakan nasal strip. Pastikan untuk mendapatkan waktu tidur yang cukup (7-9 jam untuk orang dewasa) agar otot tenggorokan tidak terlalu rileks akibat kelelahan.
- Melakukan olahraga secara teratur juga dapat membantu menjaga berat badan yang sehat serta meningkatkan fungsi paru-paru, yang berkontribusi pada pengurangan mendengkur.
- Perlu diingat bahwa jika mendengkur sangat keras, sering terjadi, atau disertai gejala lain seperti henti napas, tersedak, atau kelelahan berlebihan di siang hari, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter.
Sara Bakhtiar, seorang dokter dari Houston Methodist, menyatakan bahwa "sebagian besar pasien dengan gejala mendengkur pada akhirnya memerlukan studi tidur untuk diagnosis." Dokter dapat melakukan evaluasi, termasuk studi tidur (polisomnografi), guna menentukan penyebab pasti dan merekomendasikan penanganan yang tepat.
Apa yang menyebabkan seseorang mendengkur dengan keras?
1. Apa yang menyebabkan seseorang mendengkur dengan keras?
Penyebab utama mendengkur dengan keras adalah adanya penyempitan atau hambatan pada saluran pernapasan. Hal ini biasanya disebabkan oleh relaksasi jaringan lunak di tenggorokan, masalah anatomi, hidung yang tersumbat, obesitas, konsumsi alkohol, atau posisi tidur yang tidak tepat.
2. Apakah mendengkur keras selalu menandakan masalah kesehatan?
Mendengkur keras tidak selalu berbahaya, namun jika terjadi secara kronis, hal ini bisa menjadi indikasi adanya Obstructive Sleep Apnea (OSA), yang merupakan kondisi serius. OSA dapat meningkatkan risiko terkena penyakit jantung dan stroke, sehingga penting untuk berkonsultasi dengan dokter jika mendengkur disertai henti napas atau rasa kelelahan yang berlebihan.
3. Apa saja cara alami untuk mengatasi mendengkur keras?
Beberapa metode alami untuk mengurangi mendengkur termasuk menurunkan berat badan, tidur dengan posisi menyamping, meninggikan kepala saat tidur, serta menghindari alkohol sebelum tidur. Selain itu, berhenti merokok dan mengatasi masalah hidung tersumbat juga dapat membantu mengurangi kebiasaan mendengkur.
4. Kapan sebaiknya seseorang mencari bantuan medis terkait mendengkur?
Segera temui dokter jika mendengkur Anda sangat keras, sering terjadi, atau disertai gejala lain seperti henti napas, tersedak, atau terengah-engah saat tidur. Gejala kelelahan berlebihan di siang hari juga merupakan tanda bahwa Anda perlu mendapatkan perhatian medis segera.