Jenis Obat Kolesterol yang Direkomendasikan Perkeni dan Cara Konsumsinya
Cari tahu obat kolesterol yang direkomendasikan Perkeni beserta dosis dan efek sampingnya dalam ulasan lengkap berikut ini.
Kolesterol tinggi dalam darah bisa memicu penyakit jantung dan pembuluh darah, yang merupakan penyebab kematian utama di dunia. Di Indonesia, masalah ini sering tidak disadari hingga muncul komplikasi.
Salah satu cara penanganan yang dianjurkan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) adalah penggunaan obat. Namun, tidak semua obat bekerja dengan cara yang sama, dan setiap jenis memiliki manfaat serta risiko yang berbeda.
Artikel ini membahas berbagai jenis obat penurun kolesterol menurut panduan Perkeni, termasuk cara kerja, dosis umum, dan efek sampingnya. Informasi ini bertujuan memberi gambaran awal, tetapi tetap perlu dikonsultasikan dengan dokter.
1. Statin
Statin merupakan jenis obat yang paling umum digunakan untuk menurunkan kolesterol jahat (LDL). Obat ini mampu menurunkan LDL sebesar 18–55%, meningkatkan HDL sebanyak 5–15%, dan menurunkan trigliserida (TG) 7–30%. Statin bekerja dengan menghambat enzim yang dibutuhkan tubuh untuk memproduksi kolesterol.
Statin biasanya dikonsumsi sekali sehari pada malam hari. Beberapa jenis statin yang tersedia di Indonesia antara lain simvastatin (5–80 mg), atorvastatin (10–80 mg), rosuvastatin (5–40 mg), pravastatin (10–80 mg), fluvastatin (20–40 mg atau 80 mg extended release), lovastatin (10–40 mg atau hingga 60 mg extended release), dan pitavastatin (1–4 mg).
2. Bile Acid Sequestrant
Obat ini bekerja dengan mengikat asam empedu di usus, yang kemudian dikeluarkan dari tubuh. Hal ini memaksa hati menggunakan kolesterol untuk membuat asam empedu baru, sehingga kadar kolesterol dalam darah menurun. Bile acid sequestrant menurunkan LDL sebesar 15–30%, meningkatkan HDL 3–5%, namun tidak berpengaruh pada trigliserida.
Jenis yang umum digunakan termasuk cholestyramine, colestipol (dosis 2 takar, 2–3 kali sehari), dan colesevelam (625 mg, 2x3 tablet per hari atau sekitar 3,8 gram/hari). Selain menurunkan kolesterol, colesevelam juga dapat membantu menurunkan kadar glukosa darah pada pasien dengan hiperglikemia.
3. Asam Nikotinat (Niacin)
Niacin bekerja dengan cara menghambat pelepasan asam lemak dari jaringan lemak, sehingga mengurangi produksi LDL. Obat ini menurunkan LDL sebesar 5–25%, meningkatkan HDL hingga 15–35%, dan menurunkan trigliserida sebesar 20–50%.
Efek samping umum dari niacin adalah flushing, yaitu rasa panas dan kemerahan di wajah dan tubuh. Obat ini biasanya dikonsumsi malam hari dalam bentuk extended release dengan dosis awal 500–750 mg, dan dapat ditingkatkan hingga 1–2 gram sesuai kebutuhan.
4. Fibrat
Fibrat bekerja dengan mengaktifkan enzim lipoprotein lipase yang memecah trigliserida, sekaligus meningkatkan kadar HDL. Obat ini menurunkan LDL sebesar 5–20%, meningkatkan HDL 10–20%, dan menurunkan TG 20–50%.
Jenis fibrat yang digunakan meliputi gemfibrozil (600 mg, 2x sehari), fenofibrat (45–300 mg, 1x sehari tergantung pabrikan), bezafibrat, dan ciprofibrat. Fibrat cocok digunakan oleh pasien dengan kadar trigliserida tinggi dan HDL rendah.
5. Ezetimibe
Berbeda dari statin, ezetimibe bekerja dengan menghambat penyerapan kolesterol di usus halus. Obat ini efektif menurunkan LDL sebesar 10–18%, serta apolipoprotein B (Apo B) sebesar 11–16%.
Ezetimibe dapat digunakan secara tunggal atau dikombinasikan dengan statin apabila statin tidak cukup efektif atau pasien mengalami intoleransi terhadap statin. Obat ini cocok bagi pasien yang membutuhkan terapi tambahan namun ingin menghindari peningkatan risiko efek samping.
6. Inhibitor PCSK9
Jenis obat terbaru dalam terapi kolesterol ini bekerja dengan menghambat protein PCSK9, sehingga meningkatkan jumlah reseptor LDL di hati dan mempercepat pembuangan kolesterol dari darah. Efeknya sangat signifikan: menurunkan LDL 48–71%, non-HDL 49–58%, kolesterol total 36–42%, dan Apo B 42–55%.
Inhibitor PCSK9 diberikan secara injeksi subkutan dan terdiri dari dua jenis, yaitu alirocumab (75 mg tiap 2 minggu atau 300 mg tiap 4 minggu) dan evolocumab (140 mg tiap 2 minggu atau 420 mg tiap bulan). Obat ini biasanya diberikan pada pasien dengan risiko tinggi yang tidak mencapai target LDL meskipun sudah mengonsumsi statin dosis tinggi.
Mengutip Pedoman Pengelolaan Dislipidemia di Indonesia yang diterbitkan Perkeni pada Desember 2019, "Prinsip dasar dalam terapi farmakologi dislipidemia adalah untuk menurunkan risiko terkena penyakit kardiovaskular."
Namun, penggunaan obat kolesterol harus dilakukan dengan pengawasan dokter. Pemilihan jenis obat, dosis, serta kemungkinan kombinasi tergantung pada profil lipid masing-masing individu, riwayat penyakit, dan toleransi terhadap obat.
Penting juga untuk diingat bahwa pengobatan farmakologis bukan satu-satunya cara mengendalikan kolesterol. Perubahan gaya hidup seperti pola makan sehat, olahraga teratur, dan berhenti merokok tetap menjadi fondasi utama dalam manajemen dislipidemia.
Berbagai obat kolesterol yang direkomendasikan oleh Perkeni memiliki fungsi dan manfaat berbeda, tergantung pada kondisi pasien. Meski artikel ini dapat memberikan pemahaman dasar, keputusan penggunaan obat tetap harus berdasarkan saran dari tenaga medis. Dengan pengobatan yang tepat dan perubahan gaya hidup sehat, kolesterol tinggi dapat dikelola secara efektif dan risiko komplikasi serius bisa dikurangi.