Epilepsi dan Sensasi Mencium Bau yang Tak Nyata: Apa Penyebabnya?
Gejala epilepsi dapat berbeda-beda, tergantung pada jenis kejang yang terjadi serta area otak yang terlibat.
Epilepsi merupakan sebuah kondisi neurologis yang bersifat kronis dan ditandai dengan terjadinya kejang yang berulang, yang tidak disebabkan oleh demam tinggi atau faktor eksternal lainnya.
"Kejang dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kehilangan kesadaran, gerakan tidak terkendali, tatapan kosong, hingga gemetar hebat di seluruh tubuh," ungkap dokter spesialis neurologi/saraf RS EMC Cikarang dan Pekayon, Irene Halim Subrata, sebagaimana dikutip dari laman EMC, Rabu (17/9).
Dia juga menambahkan bahwa gejala epilepsi sangat bervariasi, tergantung pada jenis kejang dan area otak yang terpengaruh. Beberapa gejala yang umum perlu diperhatikan antara lain:
- Kejang yang terjadi secara tiba-tiba, dengan atau tanpa kehilangan kesadaran
- Tatapan kosong yang berlangsung selama beberapa detik
- Gerakan otot yang tidak terkendali, terutama pada tangan dan kaki
- Bingung sejenak setelah terjadinya kejang
- Kehilangan kesadaran secara tiba-tiba
- Sensasi aneh, seperti mencium bau yang tidak ada atau merasakan ketakutan tanpa alasan yang jelas.
"Apabila seseorang mengalami kejang lebih dari satu kali tanpa adanya pemicu yang jelas, sangat penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis saraf (neurolog)," kata Irene. Dia juga menjelaskan bahwa penyebab epilepsi dapat bervariasi, antara lain:
- Cedera kepala
- Infeksi pada sistem saraf pusat
- Kelainan genetik atau struktur otak
- Tumor otak
- Penyebab yang tidak diketahui (idiopatik)
- Stroke.
Tujuan utama penanganan epilepsi
Tujuan utama penanganan epilepsi adalah untuk mengendalikan kejang, meningkatkan kualitas hidup pasien, serta mengurangi risiko terjadinya komplikasi. Untuk mencapai hal ini, dokter spesialis saraf akan melakukan serangkaian pemeriksaan yang komprehensif, antara lain:
- Elektroensefalografi (EEG) yang berfungsi untuk memantau aktivitas listrik di otak.
- Pemeriksaan pencitraan seperti MRI atau CT scan otak.
Setelah diagnosis ditegakkan, dokter akan meresepkan obat antikejang (antiepilepsi) yang sesuai dengan kondisi pasien. Sebagian besar pasien epilepsi dapat menjalani kehidupan yang normal asalkan mereka secara rutin mengonsumsi obat dan mengikuti anjuran yang diberikan oleh dokter. Dalam beberapa kasus, jika diperlukan, pilihan lain seperti diet ketogenik, terapi, atau bahkan operasi saraf dapat dipertimbangkan sebagai alternatif.
Epilepsi bukanlah suatu kutukan
Sayangnya, masih banyak orang yang belum memahami kondisi ini. Beberapa pengidap epilepsi bahkan terpaksa menghadapi stigma sosial yang membuat mereka enggan untuk mencari bantuan medis. Epilepsi adalah salah satu gangguan saraf yang cukup umum, tetapi sering kali masih disalahpahami.
Penyakit ini ditandai dengan adanya aktivitas listrik berlebihan di otak yang menyebabkan kejang berulang. Meskipun terdengar menakutkan, epilepsi bukanlah penyakit menular, dan banyak pengidapnya yang tetap bisa menjalani kehidupan normal dengan pengobatan yang tepat.
"Dengan edukasi yang tepat, kita bisa mengubah pandangan ini. Epilepsi bukan kutukan, bukan gangguan kejiwaan, dan bukan akhir dari segalanya," ujar Irene.
Dia juga menyarankan agar jika seseorang mengalami gejala epilepsi, tidak perlu menunggu hingga kejang semakin sering. Segera konsultasikan dengan dokter spesialis saraf di RS EMC Pekayon untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
"Epilepsi bisa dikendalikan. Hidup berkualitas tetap bisa diraih. Jangan ragu untuk mencari pertolongan," katanya.