Cegah Sejak Dini, BPJS Kesehatan Ajak Perempuan Skrining Kanker Payudara dan Serviks
BPJS Kesehatan mendorong perempuan untuk melakukan deteksi dini kanker payudara dan serviks melalui skrining JKN.
Perempuan sering kali menjadi tulang punggung dalam menjaga kesehatan keluarga. Namun, di balik tanggung jawab besar tersebut, banyak yang justru mengabaikan kesehatan diri mereka sendiri.
Dalam rangka memperingati Hari Kartini, BPJS Kesehatan mengajak perempuan Indonesia untuk lebih memperhatikan kesehatan, salah satunya melalui deteksi dini kanker payudara dan kanker serviks.
Kedua jenis kanker ini masih menjadi ancaman serius bagi perempuan. Data dari BPJS Kesehatan menunjukkan bahwa tren kasus kanker payudara dan serviks terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini menegaskan pentingnya kesadaran untuk melakukan skrining sejak dini guna mencegah penyakit berkembang ke tahap yang lebih parah.
Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, menyatakan bahwa deteksi dini merupakan langkah penting dalam menjaga kualitas hidup perempuan.
"Semangat Kartini kami wujudkan melalui kemudahan akses layanan kesehatan bagi perempuan. BPJS Kesehatan hadir untuk memastikan perempuan dapat memperoleh layanan promotif dan preventif sejak dini," ujar Rizzky.
Sepanjang tahun 2025, sebanyak 79,5 juta peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah melakukan skrining kesehatan. Dari jumlah tersebut, 34,6 juta peserta atau sekitar 43,6 persen teridentifikasi memiliki risiko penyakit tertentu. Khusus untuk perempuan, tercatat 14,4 juta peserta berisiko kanker serviks dan sekitar 1 juta peserta berisiko kanker payudara.
Angka tersebut menunjukkan bahwa risiko kanker pada perempuan masih cukup tinggi. Tanpa deteksi dini, banyak kasus baru teridentifikasi ketika sudah memasuki stadium lanjut, sehingga penanganannya menjadi lebih kompleks dan biaya pengobatan meningkat.
BPJS Kesehatan terus mendorong peningkatan akses layanan skrining, seperti pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) dan Pap Smear untuk deteksi kanker serviks, serta pemeriksaan payudara untuk mendeteksi kanker payudara lebih awal. Layanan ini dapat diakses oleh peserta JKN di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Upaya ini mulai menunjukkan hasil positif. Pada 2025, jumlah peserta yang melakukan skrining kanker payudara meningkat signifikan menjadi 30.159 orang, dibandingkan 7.440 peserta pada 2024.
Sementara itu, skrining kanker serviks sepanjang periode 2021 hingga 2025 telah menjangkau lebih dari 1,5 juta perempuan.
"BPJS Kesehatan tidak tinggal diam. Kami terus melakukan edukasi dan mendorong peserta, khususnya perempuan, untuk melakukan skrining deteksi dini. Dengan begitu, penyakit bisa diketahui lebih awal dan ditangani secara optimal," kata Rizzky.
Selain layanan deteksi dini, BPJS Kesehatan juga memberikan perlindungan menyeluruh bagi perempuan melalui Program JKN. Layanan tersebut mencakup pemeriksaan kehamilan, persalinan, hingga perawatan pascapersalinan. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak di Indonesia.
Data menunjukkan, layanan persalinan yang dijamin BPJS Kesehatan tetap tinggi dalam lima tahun terakhir. Pada 2025, tercatat sekitar 2,67 juta persalinan ditanggung dengan biaya mencapai Rp10,03 triliun. Hal ini menunjukkan besarnya peran JKN dalam memastikan akses layanan kesehatan bagi perempuan di berbagai fase kehidupan. Rizzky menambahkan bahwa perlindungan kesehatan perempuan tidak hanya sebatas pengobatan, tetapi juga mencakup pencegahan.
"Kami ingin memastikan perempuan mendapatkan perlindungan kesehatan secara menyeluruh, mulai dari deteksi dini kanker hingga layanan kehamilan dan persalinan," ujarnya. Dengan memanfaatkan layanan skrining yang tersedia melalui BPJS Kesehatan, perempuan diharapkan semakin sadar akan pentingnya deteksi dini.
Langkah sederhana ini bisa menjadi kunci untuk mencegah risiko penyakit serius dan meningkatkan kualitas hidup di masa depan.
Dengan demikian, diharapkan perempuan dapat lebih proaktif dalam menjaga kesehatan mereka dan keluarga. Melalui kesadaran serta akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan, diharapkan angka kasus kanker dapat menurun dan kualitas hidup perempuan dapat meningkat secara signifikan.