CSIS: Serangan AS ke Venezuela Adalah Bentuk Kolonialisme Baru
Pakar CSIS Rizal Sukma menilai tindakan Amerika Serikat di Venezuela sebagai bentuk kolonialisme baru yang mengancam kedaulatan negara, menyerukan kewaspadaan global terhadap dominasi kekuatan besar.
Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyoroti tindakan Amerika Serikat (AS) di Venezuela sebagai manifestasi kolonialisme baru yang mengindikasikan upaya penguasaan. Pakar CSIS, Rizal Sukma, menegaskan bahwa fenomena ini melampaui intervensi militer semata, melainkan serangkaian pernyataan yang mengisyaratkan kesiapan perang.
Pernyataan tersebut disampaikan Rizal Sukma dalam Forum Kramat yang diselenggarakan di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta pada Jumat, 9 Januari 2026. Ia mengajak masyarakat untuk mencermati lebih dalam dinamika politik internasional yang berkembang.
Menurut mantan Duta Besar Indonesia untuk Inggris ini, pola kolonialisme modern ini dapat terlihat dari berbagai indikasi, termasuk wawancara Presiden AS Donald Trump dengan New York Times. Wawancara tersebut secara rinci menjelaskan potensi ancaman dominasi politik internasional di tahun-tahun mendatang.
Isyarat Kolonialisme Modern di Venezuela
Rizal Sukma secara tegas menyatakan bahwa apa yang terjadi di Venezuela adalah bentuk kolonialisme baru yang sangat jelas. Ia menyoroti tidak hanya potensi masuknya angkatan bersenjata Amerika Serikat untuk menculik Presiden Venezuela, tetapi juga serangkaian pernyataan dari pejabat tinggi AS.
Salah satu pernyataan yang disorot adalah dari Pete Hegseth, United States Secretary of War, yang mengindikasikan kesiapan untuk berperang. Hal ini menunjukkan adanya agenda yang lebih besar di balik intervensi tersebut, yang bertujuan untuk menguasai negara.
Lebih lanjut, Rizal Sukma juga mengacu pada wawancara Presiden AS Donald Trump dengan New York Times. Wawancara ini, menurutnya, secara rinci dan transparan mengisyaratkan adanya kolonialisme baru yang akan mendominasi politik internasional mulai awal tahun 2026.
Fenomena ini mencerminkan adagium lama dalam studi hubungan internasional, di mana negara kuat dapat melakukan apa saja yang mereka bisa, sementara negara-negara lemah harus menderita. Ini adalah gambaran nyata dari ketidakseimbangan kekuasaan global.
Kewaspadaan Indonesia dan Penolakan Hegemoni G2
Menyikapi kekuatan besar Amerika Serikat, Rizal Sukma menekankan pentingnya kewaspadaan bagi Indonesia. Ia menyerukan agar Indonesia memperkuat ketahanan politik luar negeri dan menunjukkan kedaulatan sebagai negara yang mandiri.
Selain itu, CSIS juga menyoroti konsep hegemoni dunia berdasarkan Group of Two (G2), yaitu pembagian kekuasaan antara Amerika Serikat dan China. Menurut Rizal, konsep ini sangat berbahaya karena menyerahkan kendali dunia kepada dua negara besar.
Dalam skema G2, Amerika Serikat kemungkinan akan mengendalikan bagian barat, sementara China mengendalikan bagian timur. Rizal Sukma menilai bahwa pengaturan semacam ini adalah bentuk kolonialisme dan liberalisme yang harus ditolak.
Pembagian kekuasaan yang hanya diatur oleh dua negara besar ini mengabaikan kedaulatan dan kepentingan negara-negara lain. Oleh karena itu, Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya perlu bersatu menolak dominasi tersebut demi tatanan dunia yang lebih adil.
Sumber: AntaraNews