Pola yang Berulang, Siasat Licik Amerika di Venezuela Termasuk di Indonesia
Pengamat isu internasional menilai AS kerap menerapkan pola strategi yang sama untuk menguasai sumber daya alam di negara lain.
Akhir pekan lalu pasukan khusus Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya di rumah mereka di Ibu Kota Caracas. AS selama ini menuding Maduro sebagai pelaku kejahatan narco-terorism.
Namun Presiden AS Donald Trump secara blak-blakan mengatakan penangkapan Maduro dilakukan karena AS ingin menguasai minyak Venezuela.
Pengamat isu internasional dari Universitas Padjajaran Dina Sulaeman menilai AS selama ini sering menerapkan strategi dengan pola yang sama untuk menguasai sumber daya alam di negara lain.
"Setiap kali ada negara yang berani menguasai sumber daya alamnya sendiri, dan kebijakan itu merugikan perusahaan Amerika, pola yang sama selalu muncul: tekanan politik, propaganda, sanksi ekonomi lalu upaya penggulingan rezim," kata Dina dalam tulisannya di media sosial Senin lalu.
Daftar yang Cukup Panjang
Venezuela hari ini, kata Dina, adalah bab terbaru dari pola yang telah berlangsung lama ini.
"Venezuela bukan tentang narco-terrorism seperti kata AS. Trump sudah berterus-terang, 'Mereka mengambil hak minyak kami. Kami memiliki banyak minyak di sana. Mereka mengusir perusahaan kami. Dan kami menginginkannya kembali.'
Venezuela adalah negara dengan cadangan minyak terbesar sedunia. AS merasa berhak atas minyak dan sumber daya alam di sana, dan di negara-negara lain.
Dina membeberkan sejumlah pola yang sudah dicatat dalam sejarah, termasuk keterlibatan AS di Indonesia:
Iran, 1953.
Perdana Menteri Mohammad Mossadegh menasionalisasi minyak Iran. CIA mendalangi kudeta, lalu rezim pro-Barat (Shah Pahlavi) berkuasa.
Chile, 1973.
Presiden Salvador Allende menasionalisasi tambang tembaga. Perusahaan AS dirugikan. Hasilnya? Kudeta berdarah. Allende tewas. AS mendukung rezim Pinochet yang sangat kejam pada rakyatnya.
Kongo, 1961
Patrice Lumumba dibunuh karena ingin rakyatnya berdaulat atas mineral mereka sendiri.
Muammar Qaddafi ingin membuat mata uang bersama Afrika, melawan dominasi dolar, dan berusaha mengontrol sebagian besar sumber minyaknya.
AS bersama NATO membombardir negeri termakmur di Afrika itu.
Guatemala 1954, Afghanistan 2001, Irak 2003, Suriah 1949, 1957, 2011-2024, Mesir 2013, Iran pasca-1979 [AS mengupayakan berbagai aksi untuk penggulingan pemerintah] dan seterusnya. Daftarnya masih sangat banyak," jelas Dina.
Perubahan Rezim di Indonesia
"Jangan lupa, Indonesia pun tidak lepas dari pola ini," kata Dina.
"Presiden Soekarno dulu mendorong kedaulatan ekonomi, menasionalisasi aset asing, dan menolak tunduk pada blok Barat.
Hasilnya? AS di balik layar membantu operasi perubahan rezim tahun 1965."
Menurut dia, sepanjang sejarah modern, AS terlibat langsung atau tidak langsung dalam lebih 70 upaya perubahan rezim sejak 1945.
"Angka pastinya bisa diperdebatkan. Tapi polanya sangat jelas:
-jika pemimpin sebuah negara tunduk dan berbaik-baik, ia akan aman dan kebagian
-jika ia melawan, AS akan melakukan berbagai upaya untuk menggulingkannya."
Ladang Gas di Gaza
Selanjutnya Dina juga menyoroti apa yang sedang terjadi di Palestina saat ini.
"Dan hari ini, lihat Palestina. Israel dengan didukung penuh AS melakukan segala bentuk kekejian dan pembantaian massal di sana. Padahal, ini bukan soal Hamas; bukan soal 'keamanan Israel.' Ini soal kontrol wilayah," kata dia.
"Ingat, ada ladang gas yang sangat kaya di lepas pantai Gaza. Ingat, Trump bicara soal menjadikan Gaza sebagai pusat pelesiran pantai (Riviera in Middle East) dan mendorong warga Gaza untuk keluar saja dari tanah air mereka."
Dina kembali mengingatkan, setiap kali AS bicara tentang “demokrasi” dan “hak asasi”, sebaiknya kita melihat satu hal dulu:
Ada sumber daya alam apa di sana? Siapa yang menguasai sumber daya alam itu? Siapa yang diuntungkan?