Warga Tebing Tinggi Kalsel Berjibaku Bersihkan Lumpur Pascabanjir Bandang
Warga Desa Sungsum, Tebing Tinggi Kalsel, berjuang membersihkan sisa lumpur pascabanjir bandang yang melanda, dengan harapan pemerintah segera bertindak dan mengantisipasi bencana serupa di masa depan.
Warga Desa Sungsum, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan (Kalsel) masih berjibaku membersihkan sisa-sisa lumpur dan puing-puing rumah mereka. Upaya ini dilakukan pascabanjir bandang yang melanda wilayah tersebut beberapa hari lalu, menyebabkan kerusakan signifikan pada permukiman warga dan meninggalkan jejak kehancuran yang mendalam.
Banjir bandang yang terjadi dua hari sebelumnya ini disebut sebagai yang terparah oleh warga setempat, meninggalkan lapisan lumpur tebal di dalam rumah-rumah penduduk. Banyak perabotan rumah tangga yang ikut kotor dan tidak bisa digunakan lagi, bahkan ada yang hilang terbawa arus deras air yang datang secara tiba-tiba.
Untuk memenuhi kebutuhan pokok, sebagian warga telah berinisiatif mendirikan posko di masing-masing RT, yang didukung oleh bantuan logistik dari pemerintah serta para relawan. Kondisi ini menunjukkan solidaritas kuat di tengah musibah, namun warga juga sangat berharap pemerintah dapat segera memberikan perhatian lebih serius terhadap dampak bencana ini dan mengambil langkah antisipasi yang konkret ke depan.
Dampak Parah Banjir Bandang di Balangan
Retma Yuda, salah seorang warga terdampak di Desa Sungsum, mengungkapkan bahwa kondisi rumahnya dipenuhi oleh lumpur tebal setelah banjir bandang melanda. "Setelah banjir bandang berlalu dua hari, hingga sekarang kami masih berjuang membersihkan rumah kita yang penuh dengan lumpur akibat banjir," katanya kepada ANTARA di Desa Sungsum, Balangan, pada Senin. Perjuangan ini dilakukan secara mandiri oleh warga dengan peralatan seadanya.
Ia juga menambahkan bahwa banyak perabotan rumah tangga yang rusak dan bahkan ada yang hilang terbawa arus banjir yang sangat kuat. Yuda menjelaskan bahwa banjir bandang kali ini dinilai sangat berbeda dan jauh lebih parah dibandingkan kejadian banjir sebelumnya, yang biasanya hanya berupa genangan air biasa dan tidak pernah sampai menyebabkan kerusakan masif seperti saat ini. Hal ini menjadikannya musibah terburuk yang pernah dialami warga Tebing Tinggi.
Meskipun demikian, semangat gotong royong terlihat jelas di antara warga yang bahu-membahu membersihkan sisa-sisa bencana dan saling membantu satu sama lain. Posko-posko darurat yang didirikan secara swadaya juga menjadi pusat distribusi bantuan logistik esensial bagi mereka yang membutuhkan, memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi di tengah kesulitan.
Respons Pemerintah dan Harapan Warga Tebing Tinggi
Menanggapi situasi darurat ini, Bupati Balangan, Abdul Hadi, segera mengambil tindakan cepat dengan memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Pertanahan (PUPRP) untuk segera memperbaiki rumah warga yang rusak. "Saya perintahkan kepada Dinas PUPRP segera melakukan tindakan untuk memperbaiki rumah warga yang rusak ini," ujar Bupati Balangan, menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam penanganan pascabencana.
Bupati juga menambahkan bahwa pihak kecamatan diminta untuk segera mendata rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan secara komprehensif. Data tersebut nantinya akan dilaporkan kepada dinas terkait agar penanganan dan perbaikan dapat segera dilakukan tanpa menunda waktu, memastikan bantuan tepat sasaran dan cepat terealisasi.
Warga seperti Retma Yuda sangat berharap agar pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan pascabencana, tetapi juga pada upaya pencegahan jangka panjang. Ia secara khusus menekankan pentingnya menghentikan aktivitas penggundulan hutan di daerah pegunungan yang disinyalir menjadi salah satu pemicu utama banjir. Langkah ini dianggap krusial untuk mencegah banjir bandang yang lebih parah di masa mendatang, demi keberlanjutan lingkungan dan keselamatan ribuan warga Tebing Tinggi.
Sumber: AntaraNews