Pemulihan Hutanabolon Pasca Banjir: Suara Pemuda dan Langkah Cepat Pemerintah Tapanuli Tengah

Di tengah duka pasca banjir bandang, pemuda Hutanabolon menyuarakan harapan akan Pemulihan Hutanabolon Pasca Banjir yang cepat, mendorong pemerintah daerah bergerak aktif untuk mengembalikan kehidupan normal.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pemulihan Hutanabolon Pasca Banjir: Suara Pemuda dan Langkah Cepat Pemerintah Tapanuli Tengah
Di tengah duka pasca banjir bandang, pemuda Hutanabolon menyuarakan harapan akan Pemulihan Hutanabolon Pasca Banjir yang cepat, mendorong pemerintah daerah bergerak aktif untuk mengembalikan kehidupan normal. (AntaraNews)

Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, masih diliputi suasana memprihatinkan pasca banjir bandang. Di tengah kondisi ini, suara pemuda setempat menggema, menyuarakan aspirasi untuk mendapatkan kehidupan yang layak seperti sedia kala. Mereka berharap agar proses pemulihan dapat dipercepat demi masa depan yang lebih baik.

Setelah melaksanakan shalat Idul Fitri di Masjid Al Huda Tanahubolon, sekelompok pemuda berkumpul, berbagi cerita tentang kegiatan masa lalu sebelum bencana melanda. Banjir bandang telah melahap hampir sebagian pemukiman, mengubah drastis kehidupan yang sebelumnya ramai dan penuh suka cita, terutama saat bulan Ramadhan dan malam takbir.

Kini, gairah tersebut memudar karena banyak teman mereka harus mengungsi akibat rumah yang tidak lagi bisa ditempati. Kekhawatiran akan datangnya banjir susulan masih membayangi pikiran mereka, mendorong desakan agar tanggul di Sungai Tukka segera dibenahi secara menyeluruh.

Sebelum bencana banjir bandang melanda, kehidupan di desa ini sangatlah semarak, terutama saat bulan suci Ramadhan tiba. Beragam kegiatan keagamaan seperti tadarus Al-Quran hingga pawai malam takbir dengan kendaraan pikap yang dihiasi ornamen Islam menjadi rutinitas yang menyemarakkan suasana. Momen-momen kebersamaan ini kini hanya tinggal kenangan di tengah puing-puing sisa banjir.

Namun, semangat tersebut kini meredup, terutama karena banyak dari rekan-rekan mereka terpaksa mengungsi ke tempat lain. Rumah-rumah yang hancur membuat mereka kehilangan tempat tinggal dan mengurangi interaksi sosial yang dulu begitu erat.

Salah satu keinginan mendasar para pemuda adalah perhatian serius terhadap kondisi tanggul di Sungai Tukka yang kerap jebol. Dari lubuk hati yang mendalam, mereka menyampaikan keinginan agar tanggul tersebut segera dibenahi secara menyeluruh untuk mencegah bencana serupa terulang. “Banjir susulan sudah beberapa kali menyerang desa kami ini. Wajarlah kalau kami khawatir,” kata Adrian, seorang remaja yang masih duduk di bangku SMP, kepada ANTARA.

Sekumpulan remaja desa Hutanabolon ini sangat menginginkan adanya perhatian cepat dari pemerintah terkait pembenahan pascabencana. Mereka yakin bahwa dengan pemulihan yang cepat, roda perekonomian di lokasi ini juga akan tumbuh kembali, didorong oleh hadirnya lapangan pekerjaan. Perkebunan karet dan sawah, yang menjadi tulang punggung sekitar 90 persen masyarakat desa, diharapkan bisa hijau kembali.

Masyarakat saat ini kehilangan mata pencarian utama mereka, sehingga pemulihan sektor pertanian sangat krusial. “Masyarakat saat ini kan tidak ada mata pencarian. Kalau semua bisa diperbaiki secara cepat, warga bisa lagi ke ladang-ladang mereka untuk bercocok tanam dan perekonomian di Hutanabolon ini kembali berputar,” kata Kepala Lingkungan Lorong 1, Desa Hutanabolon, Rasokki Panggabean.

Selain aspek ekonomi, terdapat permintaan rasional lain untuk keberlangsungan masyarakat Hutanabolon, yaitu masalah kesehatan. Debu yang terus berterbangan menjadi masalah baru di lokasi tersebut. Menurut pengakuan Andhika Tambunan (18), jalanan yang basah saat hujan dan mengering menyisakan debu yang berterbangan setiap hari. “kalau bisa sih, lumpur dan debu pasir ini segera bisa dibereskan di jalan Hutanabolon. Kalau tidak, nanti ada penyakit pernafasan kan jadinya,” ujar Andhika yang juga disambut teriakan “betul itu” oleh teman-temannya. Jika dibiarkan berlarut-larut, penyakit saluran pernapasan menjadi kekhawatiran baru bagi masyarakat di desa-desa terdampak.

Dalam upaya pembangunan pascabencana ini, Pemerintah Daerah Tapanuli Tengah tidak tinggal diam. Mereka terus menjalin koordinasi dengan berbagai pihak agar proses pemulihan berjalan cepat dan masyarakat dapat kembali hidup damai seperti sedia kala. Komitmen ini menjadi prioritas utama untuk mengatasi dampak bencana.

Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, telah melakukan beragam aksi untuk percepatan pemulihan lokasi terdampak. Langkah-langkah tersebut meliputi pembangunan akses jalan yang terputus hingga penyediaan hunian sementara bagi penyintas banjir bandang. Sebelumnya, jalan-jalan yang terputus di Muara Sibuntuon dan Desa Puraba telah disambungkan, memastikan tidak ada lagi desa yang terisolir.

“Target kita untuk tidak ada lagi desa-desa terisolir dan kemudian masalah pengungsi ini praktis kita mau zero pengungsi yang ada di tenda-tenda darurat. Maka dari itu, kita tarik semua ke hunian-hunian sementara,” kata Masinton saat ditemui seusai pembukaan pawai malam takbiran di Alun-Alun Pandan. Pemerintah daerah juga masih menyediakan tenda-tenda darurat di lokasi bencana sebagai antisipasi jika terjadi bencana alam kembali, serta lokasi evakuasi strategis seperti gedung sekolah, kantor, dan gelanggang olahraga.

Koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga terus dilakukan demi kenyamanan dan keamanan masyarakat terdampak. Bupati Masinton menyatakan, “Kami juga sudah bermohon ke provinsi, ke Gubernur agar nanti alokasi TKD provinsi itu bisa dialokasikan lebih untuk Tapanuli Tengah, untuk mengcover biaya-biaya atau menanggulangi pembangunan pasca bencana ini.” Daerah terdampak di Tapanuli Tengah meliputi Desa Sibio-Bio (Kecamatan Sibobangun), serta Desa Sigiring-Giring, Sait Kalangan II, Saur Manggita, dan Aek Bontar (Kecamatan Tukka). Banjir bandang juga melanda kawasan Hutanabolon dan Kolong pada akhir 2025.

Menurut liputan tim Bangkit Sumatera, Desa Hutanabolon dan Kecamatan Pasar Tukka masih dalam tahap pemulihan. Warga terus membenahi rumah-rumah yang masih bisa ditempati. Untuk mempercepat kegiatan pemulihan, alat berat terus beroperasi di lokasi, mengeruk lumpur sisa dan melakukan normalisasi Sungai Tukka guna mencegah banjir susulan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi