Wamen KLH/BPLH Soroti Pengelolaan Limbah dan Food Waste Program Makan Bergizi Gratis
Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (Wamen KLH/BPLH) menekankan pentingnya pengelolaan limbah dan food waste secara berkelanjutan dalam implementasi Program Makan Bergizi Gratis. Simak bagaimana upaya mitigasi p
Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (Wamen KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, menegaskan pentingnya integrasi pengelolaan limbah dan food waste dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penegasan ini disampaikan untuk memastikan keberlanjutan program tanpa merusak lingkungan.
Diaz menekankan bahwa proses produksi makanan untuk MBG harus selaras dengan upaya mitigasi pencemaran lingkungan. Hal ini guna melindungi lingkungan hidup secara berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Pernyataan tersebut disampaikan di Jakarta pada Jumat (15/1), usai peninjauan dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Surakarta, Jawa Tengah. Kunjungan ini bertujuan melihat langsung implementasi pengelolaan limbah di lapangan.
Komitmen Keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis
Wamen KLH/BPLH Diaz Hendropriyono menyatakan komitmennya untuk memastikan keberhasilan program MBG. Program ini diharapkan dapat memberikan gizi terbaik bagi anak bangsa, namun pelaksanaannya harus tetap menjaga kelestarian lingkungan.
“KLH/BPLH ingin memastikan program Pak Prabowo ini benar-benar bisa berhasil,” kata Wamen Diaz, “bisa memberikan gizi yang baik untuk seluruh anak bangsa tetapi juga dengan cara yang tidak merusak lingkungan.” Dia menambahkan, pembangunan harus selalu didorong oleh prinsip keberlanjutan.
Peninjauan dilakukan di dua lokasi, yaitu SPPG Banyuanyar dan SPPG Busukan di Surakarta. Dalam kesempatan tersebut, Diaz menyerahkan masing-masing tiga unit komposter kepada kedua SPPG. Bantuan ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan sampah organik.
Inovasi Pengelolaan Limbah di SPPG Banyuanyar
SPPG Banyuanyar, yang melayani lebih dari 3.000 penerima manfaat, mendapat apresiasi dari Wamen KLH/BPLH. Sistem pengelolaan limbah cair dan sampah organik di sini sudah berjalan secara menyeluruh. Bahkan, pemanfaatan minyak jelantah juga telah dilakukan dengan baik.
Menanggapi keluhan warga sekitar terkait isu lingkungan, pihak SPPG Banyuanyar menunjukkan respons cepat. Mereka membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang komprehensif. IPAL ini dilengkapi perangkap minyak, kolam resapan, serta tangki pengolahan aerob dan anaerob.
Sistem filter mekanis pada IPAL menggunakan lapisan batu zeolit, pasir kasar, dan pasir silika. Selain itu, filter karbon aktif turut digunakan untuk memaksimalkan penyaringan. Langkah ini menunjukkan komitmen SPPG dalam menjaga lingkungan.
Tantangan dan Dukungan di SPPG Busukan
Di SPPG Busukan, yang melayani sekitar 3.100 penerima manfaat, Diaz juga meninjau fasilitas yang ada. Fasilitas ini telah memiliki perangkap minyak dan pengelolaan sampah organik yang memadai. Upaya ini penting untuk mengurangi dampak lingkungan.
Namun, untuk aspek pengelolaan limbah cair, SPPG Busukan masih mengandalkan fasilitas milik Pemerintah Kota Surakarta. Wamen Diaz menekankan perlunya peningkatan sistem pengelolaan air limbah di lokasi tersebut.
Sebagai bentuk dukungan, bantuan komposter diberikan untuk memperkuat pengelolaan sampah organik di hulu. “Ini saya kasih komposter untuk membantu pengelolaan sampah organik,” ujar Wamen Diaz. “Tapi pengelolaan air limbahnya harus ditingkatkan.”
Mewujudkan Konsep Zero Waste Nasional
KLH/BPLH berkomitmen penuh untuk mengawal setiap SPPG agar memiliki standar pengelolaan lingkungan yang seragam. Hal ini penting untuk mencapai tujuan program secara holistik.
Target utamanya adalah mewujudkan konsep zero waste dalam setiap program strategis nasional. Pendekatan ini diharapkan dapat meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.
Dengan demikian, Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya memberikan asupan gizi. Ia juga menjadi contoh praktik berkelanjutan yang ramah lingkungan.
Sumber: AntaraNews