Usai Jumenengan, Pakubuwono XIV Purbaya Baca Sabda Dalem di Atas Batu Keramat
Prosesi ini merupakan adat sakral di mana raja baru harus berjanji di atas batu keramat.
Prosesi Jumenengan Paku Buwono XIV, Sabtu (15/11) dimulai tepat pukul 10.00 WIB. KGPH Purbaya yang juga disebut KGPAA Hamangkunegoro masuk ke Dalem Ageng Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Upacara tertutup hanya dapat disaksikan para pemangku adat tertentu. Awak media hanya diperbolehkan menunggu di depan pintu utama Kori Kamandungan. Iringan lembut instrumen gamelan laras pelog barang terdengar lirih dari luar keraton.
Dari bangsal Prabasuyasa, PB XIV Purboyo keluar tepat pukul 10.49 WIB, menuju Siti Hinggil untuk melaksanakan Upacara Keprabon Dalem, sebuah prosesi yang diwariskan sejak masa Mataram Islam.
Ratusan warga menunggu di halaman luar dapat melihat pemimpin baru Keraton Surakarta.
Puncak dari seluruh rangkaian itu terjadi pukul 11.05 WIB, ketika Purbaya tiba di Siti Hinggil. Di hadapan keluarga besar, para abdi dalem dan tamu-tamu undangan, dilakukan pembacaan Sabda Dalem.
PBXIV Purboyo Naik ke Atas Watu Gilang
PB XIV Purboyo pun naik ke atas Watu Gilang, batu keramat yang menjadi titik sakral para raja Mataram meneguhkan legitimasi kepemimpinan.
“Ing Watu Gilang iki, Ingsun hanetepaké nggentèni kalenggahané Kanjeng Rama Sinuhun Pakoe Boewono XIII, minangka Sri Susuhunan ing Karaton Surakarta Hadiningrat (Diatas Watu Gilang ini, saya menetapkan menggantikan Kanjeng Rama Sinuhun Pakoe Boewono XIII, sebagai Sri Susuhunan di Keraton Surakarta Hadiningrat),” ucap Purboyo.
Usai Jumenengan, KGPH Purboyo kini menyandang gelar penuh kehormatan, Sampéyandalem Ingkang Sinoehoen Kangdjeng Soesoehoenan Pakoe Boewono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrachman Sayyidin Panatagama Kang Jumeneng Kamping XIV.
Dengan gelar tersebut Purbaya meneguhkan diri sebagai pemimpin rohani, budaya, dan adat istiadat Karaton Surakarta Hadiningrat.
3 Janji
Dalam sabdanya, PB XIV Purboyo mengikrarkan tiga janji besar. Yakni menjalankan kebijakan berdasarkan syariat Islam dan paugeran Keraton; mendukung NKRI secara lahir dan batin sebagai bentuk kewajiban kenegaraan serta menjaga warisan adiluhung para raja Mataram.
Janji yang mengandung makna mendalam itu ditujukan kepada seluruh putra-putri dalem, keluarga besar, Abdi Dalem, dan masyarakat luas agar menjadi penanda bahwa masa kebangkitan Karaton telah dimulai.
Setelah sabda selesai, meriam salvo ditembakkan, gamelan mengalun, dan para tamu berdiri memberi penghormatan. Upacara pun berlanjut dengan kirab agung mulai pukul 11.50 WIB.
Dengan rute dari Siti Hinggil menuju Sasana Sumewa, kemudian keluar ke Alun-alun Lor, Gladag, Telkom, Loji Wetan, Baturana, Gemblegan, Kusumanagaran, dan kembali lagi ke Gladag, Alun-alun, hingga Pagelaran.
Sepanjang jalan, ribuan masyarakat memadati kanan-kiri rute, melambai dan menyambut era baru Keraton Surakarta.
Sementara itu, pada pukul 14.00 WIB, prosesi kondur Dalem dimulai. Sampeyan Dalem kembali menuju Kedaton melalui Kori Brojonolo, Bangsal Kamandhungan, Srimanganti, dan berakhir di bangsal Prabasuyasa.